Aku dan Kau, satu Jiwa?
Aku lupa cara mencumbu mu
seperti kau lupa cara menyapaku
Aku ingat pedang yang kuhunuskan ke jantungmu
seperti kau memotong urat nadi ku
Aku merasa jala ini terlalu tipis untuk mengikat nyata
tetapi kau mengangguk pada wajah-wajah mimpi
Aku terjatuh pada gempita dunia
saat kau mulai menggampar pelita-pelita rasa
Aku menjahit lubang hampa jiwa
dan kau memakunya pada papan hawa nafsu
Aku gembira ketika kau berkata “Aku hendak menghilang sementara”
Kau sedih ketika aku berkata, “Pergilah, Aku menunggumu..”
Tawa ku mulai menjadi air matamu
Senyummu tak ubahnya arsenik bagi tubuh
Kita dua
Kau bilang satu
Pertanyaan ku akan mengapa
tak pernah berbuntut jawaban dari mulut manismu
Senja yang berangsung menghilang, bulan yang tertarik ke angkasa
Sekali lagi membuat kita terpisah
Wafatkah semua benang yang terpintal dari semua pertemuan?
Ah..tidak katamu, aku akan kembali esok saat fajar mulai berbisik
Aku katakan rindu
Kau bicarakan tentang keharusan
Kaki ini mulai berjinjit pada ketidakpastian
Tangan-tangan kecilmu menuntun pada yang tidak pernah tidak pasti
Lantas apakah kita satu?
Kita dua, kau satu.
Aku jelaga dan kau wadah
Aku dunia dan kau angkasa
Aku gubuk dan kau istanan
Aku pasir dan kau teratai indah
Aku kaktus dan kau rawa-rawa nyawa
Aku rajawali dan kau pemanah
Lantas apakah kita satu?
Kita satu, dan kau dua.
About this entry
You’re currently reading “Aku dan Kau, satu Jiwa?,” an entry on My Psychotic Thoughts
- Published:
- July 17, 2011 / 2:17 pm
- Category:
- Uncategorized
- Tags:
1 Comment
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]