Indonesia, Sebuah Percakapan, Sebuah Harapan, Sebuah Mimpi

Aku duduk di sofa lembut terbuat dari bahan kulit terbaik yang pernah ada, dengan kopi di samping, dan setoples nastar yang aku beli sekitar dua minggu yang lalu.. Hari ini hujan lebat, dan hawa sangat dingin. Bukan sesuatu yang aneh jika anakku tidur pulas di pangkuanku. Sementara aku hanya berusaha menikmati suasana di halaman rumah, dimana titik air membasahi bunga dan menerjang tanah.. Sekarang pukul 2 sore, aku tidak bekerja karena hari libur. Hari yang tidak akan aku sia-siakan untuk dihabiskan bersama dengan anak laki-laki ku ini.. Ada gerakan tiba-tiba.. Aku melihat sosok anakku yang berusaha membuka matanya dengan kepayahan, menggerakkan kakinya ke sana kemari, berusaha memperoleh suasana tidur yang nyaman kembali. Aku hanya dapat membelai kepalanya yang mungil dengan lembut, berharap ia tertidur kembali.. Tetapi tidak berhasil, ia sudah terbangun. Dengan kepalanya yang masih bersandar pada pangkuanku, ia menatapku, dan aku hanya tersenyum. Kukatakan, “Tidurlah kembali, hari belum terlalu sore..”, ia jawab, “Tidak ayah, aku sudah cukup tidur..”, “Baiklah”, kujawab..

Ia sudah berumur 8 tahun, dan tahun ini ia akan naik ke kelas 4 SD, selangkah lagi menuju kedewasaan, sebuah langkah awal untuk membentuk pemikiran kritis untuknya.. Aku tidak ingin anakku tumbuh menjadi seseorang yang tidak perduli dengan kondisi di sekitarnya, tidak tahu menahu tentang apa yang sedang terjadi, dan tidak punya kesadaran secara sosial. Anakku mulai menguap kembali.. “Tidur saja jika memang mengantuk..”, ia tidak menjawab.. Ia hanya meringkuk kedinginan dan menempel lebih dekat padaku.. Aku hanya tertawa, merekam kejadian ini dalam-dalam ke dalam ingatan ku.. Kejadian yang langka.. Seperti seekor anak teringgiling, ia meringkuk semakin dalam dan terlihat sangat manja..

Aku mengambil kopiku, dan menyeruputnya.. Mengambil sebuah nastar dan menawarkannya pada anakku ini dan ditolaknya dengan hanya gelengan manja yang menempel pada pahaku.. Kumakan saja nastar itu.. Sembari menunggu anakku sadar sepenuhnya, aku mengambil koran pagi ini yang berada dalam jangkauan tanganku. Aku sebenarnya sudah membacanya tadi pagi, tetapi tidak ada salah pikirku untuk membacanya sekali lagi, dengan harapan tidak ada berita penting yang terlewat. Aku akan membacanya kolom per kolom tekadku.. Aku mulai memperhatikan headline pertama koran tersebut..

“LIM OK TJANG, PRESIDEN INDONESIA BERSUKU TIONGHUA KEDUA YANG TERPILIH SECARA DEMOKRATIS” – Indonesia mencapai kedewasaan multikulturalisme dalam berpolitik”

Aku tersenyum lebar, headline awal yang menggugah hati.. Sebuah perubahan drastis pikirku.. Hal ini tidak mungkin terjadi ketika aku masih menjadi mahasiswa dulu, dimana tampuk pemerintahan biasanya dikuasai oleh Raja-Raja Jawa yang beragama Islam.. Selalu itu, dan headline seperti koran hari ini hanya mimpi, tidak akan mungkin pernah terjadi.. Aku masih ingat kurang lebih 10 tahun yang lalu, ketika aku sudah cukup mencapai tingkat ekonomi yang mapan, Pemilu Indonesia pertama kalinya mencalonkan seorang Capres bersuku Tionghua, dan beragama Budha. Namanya Ong Fa Khang.. Ketika, ia mencalonkan diri, dimana-mana terjadi demonstrasi menuntutnya mundur dari bursa pencalonan, namun ia tidak bergeming.. Dalam beberapa wawancara dengan media massa, ia hanya menegaskan bahwa ia mampu dan ia telah membuktikan hal tersebut. Dia lah orang yang memiliki peranan penting dalam mengelola aset Indonesia sehingga menjadi negara pertama yang keluar dari krisis ekonomi global di awal tahun 2000-an (aku lupa tahun berapa tepatnya).. Karena hal tersebut lah, aku memilih dia di pemilu tersebut. Begitu juga dengan Istri yang baru kunikahi itu.. Bukan didasarkan karena aku juga seorang Tionghua, tetapi juga karena kapabilitas nya yang aku yakini.. Dan sepertinya tidak hanya aku yang berpikir begitu, karena Ong Fa Khang memenangkan pemilu presiden, dan menjadi presiden Tionghua pertama di Indonesia.. Aku dan Istriku menangis terharu ketika pelantikannya, keharuan karena akhirnya Rakyat Indonesia telah mencapai tingkat multikulturalisme dan toleransi yang lebih tinggi.. Dan memang, Ong Fa Khang telah membuktikan ia mampu memimpin negara ini..

Tanpa kusadari, mataku mengeluarkan air mata ketika memikirkan hal tersebut.. Anakku yang ternyata menatapku dari tadi, bertanya, “Mengapa menangis Ayah?”, “Oh..tidak jawabku, hanya sedikit mengantuk..”.. “Mau tidur di pangkuanku ?”, anakku menawarkan.. Aku tertawa dan menolaknya dengan halus, mengatakan aku dapat menahan kantukku.. Ia terlihat cukup kecewa.. Aku hanya membelai kembali kepalanya, dan meminta ia duduk di sampingku, bersamaku, membaca koran.. Ia tidak menolak, bangun dari pangkuanku, duduk di sampingku, dan kemudian bersamaku membaca koran pagi ini..

“Ada yang membuat mu tertarik ?”, tanyaku.. Ia melihat seksama di lembaran koran pertama tersebut.., lalu menyeletuk, “Aku ingin seperti Lim Ok Tjang, pintar, tampan, dan tentu saja presiden”.. Aku mengangguk dan menjawab, “Bukan sesuatu yang tidak mungkin..” dan tersenyum.. Ia membalas tersenyum dan mengangguk mengiyakan.. “Ya, sekitar 25 tahun lagi”, kataku.. Anakku terlihat kecewa, “Masih lama yak…”.. Aku hanya bisa tertawa dan menjawab, “Ya, karena Lim Ok Tjang menjadi presiden di umur 33 tahun, kalau kamu mau, kamu bisa jadi presiden yang lebih muda lagi..” Anakku keheranan, “Bagaimana caranya, yah?”.. Dengan belajar dan bekerja dengan rajin, wejangan yang biasa diberikan oleh orang tua.. Wejangan pertama ku hari ini, senyumku..

Anakku mulai memperhatikan dengan perlahan halaman pertama koran itu, ia berhenti, dan berusaha membaca dengan keras sebuah kolom di pojok kiri tengah lembar koran tersebut..

TIME : INDONESIA NEGARA TERKUAT KEEMPAT SECARA EKONOMI DI DUNIA DAN KETUJUH SECARA MILITER DI DUNIA..

Anakku bertanya dengan lugas kepadaku, “Sekuat itukah kita, yah?”.. “Tentu saja”, jawabku.. “Kekuatan negara kita tidak perlu diragukan lagi, negara kita sangat dihormati di dunia ini..”.. “Begitukah ? Aku tidak pernah tahu.. Apakah negara kita sudah sekuat itu sejak pertama kali merdeka ayah..?”. Jawabku, “Tentu tidak..perlu perjuangan yang berat, penuh air mata dan darah untuk mencapainya..”.. Anakku mengangguk dengan halus, sepertinya ia cukup mengerti tentang apa yang kukatakan padanya..

Pikiranku melayang, menyusuri tahap-tahap kehidupan yang telah kulalui, perlahan namun pasti, aku menuju ke era dimana aku sendiri yang menyaksikan perubahan radikal yang terjadi pada Republik ini.. Aku menjadi saksi sejarah atas penjelasan yang aku berikan kepada anakku tadi.. Aku masih ingat, tahun dimana aku meraih gelas S-1 ku, dimana saat itu pemilu juga terjadi.. Presiden terpilih saat itu, seorang Batak-Jawa, beragama Islam, berumur kurang lebih 57 tahun, Narasa Sapadan, memilih jalur yang radikal untuk mengubah negara Indonesia ini.. Ia memperoleh kurang lebih 60% suara dalam pemilu presiden tersebut, dan sekaligus mengukuhkannya sebagai seorang presiden.. Ketika itu, krisis global sedang terjadi, dan langkah pertama yang ia pilih adalah memilih Ong Fa Khang untuk menyelesaikan masalah tersebut.. Narasa jugalah yang kemudian melakukan perubahan-perubahan fundamental dalam hukum dan kehidupan bernegara.. Ia yang melakukan nasionalisasi besar-besaran aset asing dan menggunakannya untuk kepentingan rakyat Indonesia.. Ia juga yang menetapkan hukuman mati dan sita semua aset Koruptor, tanpa pandang bulu.. Ia menghukum mati anaknya sendiri yang terlibat dalam kasus korupsi senilai kurang lebih 15 triliun proyek pembangunan pembangkit listrik.. Setelah itu, rakyat tidak pernah meragukan komitmen nya lagi sebagai agen pemulai perubahan yang sebenarnya.. Ia memerintahkan agar semua penyampaian pendapat, baik melalui forum atau demonstrasi, dilakukan dengan nilai dan kaidah yang sopan dan halus, sesuai dengan budaya Indonesia.. Memulai sikap anarkis berarti bersedia menerima konsekuensi tembak mati di tempat.. Dan kemudian beberapa perubahan mendasar lainnya, dan akhirnya Indonesia perlahan berubah menjadi lebih baik.. Ia sebenarnya dapat terpilih kembali pada pemerintahan berikutnya, namun ia mengundurkan diri dari bursa pencalonan karena badannya yang jatuh sakit.. Ia kemudian meminta Ong Fa Khang untuk maju menggantikan dirinya.. Dan reformasi dalam segala bidang dimulai dengan lebih intens ketika Ong Fa Khang menang..

Aku membaca sedikit isi berita tersebut, dan tertulis di sana, Presiden Lim Ok Tjang menyatakan tidak puas dengan hasil tersebut, dan menyatakan akan mengusahakan Indonesia menjadi negara dengan kekuatan ekonomi dan militer terkuat di Indonesia.. Hal tersebut mungkin dapat terlaksana, terlihat dari indikasi semakin meningkatnya penjualan rudal GAR-UDA II di dunia hasil pengembangan dan penelitian PINDAD.. Indonesia selangkah lagi menuju Otonomi Militer.. Tidak kulanjutkan lagi membacanya, karena aku sudah membacanya tadi pagi, dan aku tahu isi selanjutnya kolom tersebut.. Investasi asing yang masuk ke Indonesia mencapai tingkat tertinggi di kawasan Asia, dan sebagainya-sebagainya.. Semoga Lim Ok Tjang tidak hanya sekedar berjanji, namun membuktikan perkataannya tersebut.

Anakku berada dalam semangat yang membara untuk terus melanjutkan membaca koran tersebut bersama ku.. Aku semakin tersenyum melihat tingkahnya yang terkadang memicingkan mata untuk membaca tulisan yang kecil dibandingkan buku teks yang didapatkannya dari sekolah.. Aku bertanya, “Sedang membaca apa?”.. Ia menunjuk sebuah judul kolom lainnya,

RATA-RATA MAHASISWA ASING DI PERGURUAN TINGGI INDONESIA = 42% – INDONESIA MENJADI SENTRA PENDIDIKAN DUNIA

Anakku membaca isi kolomnya dengan keras, dan terbata-bata : Se-menjak re-re-reformasi pendidikan Indonesia oleh Presiden Ong Fa Khang, yang menjadikan semua perguruan tinggi di Indonesia sebagai pusat penelitian dan pengembangan, dan alokasi APBN sekitar 40% di sektor pendidikan, dunia pendidikan Indonesia telah menjadi Cul-cul.. “Ayah, ini bacanya apa?”, Aku tersenyum, memperhatikan dan membacakannya, “CUltural and Education Center” “Cul-cul-cultural and educa-ca-tion center bagi semua warga dunia.. Mereka warga asing dapat bersekolah di sini dengan biaya yang sangat rendah, dimana pemerintah Indonesia mensubsidinya.. Sementara program pendidikan gratis bagi semua rakyat Indonesia, dari SD – Perguruan Tinggi, Swasta atau Negeri, akan diperpanjang hingga batas waktu yang tidak ditentukan..

” “Wow..”, anakku kagum.. “Kenapa ?”, tanyaku.. “AKu tidak pernah tahu kalau aku bersekolah gratis ayah, semua bukuku, dan peralatan praktek dan penelitian kecilku..”.. Aku jawab, “Tentu saja, tanpa biaya..Pemerintah sudah mengusahakan untuk lebih mementingkan pendidikan di atas segalanya.. Makanya jangan kamu sia-siakan..”. Wejangan kedua ku meluncur dari mulutku.. Anakku hanya mengangguk, “Tentu..” Anakku tentu tidak tahu bahwa ketika Aku bersekolah di SD hingga meraih gelar S-1 ku, biaya pendidikan terbilang sangat sangat mahal, sehingga tidak mampu dicapai oleh mereka yang miskin.. Sementara sekarang, keadaan sudah berubah 180 derajat lebih baik. Pendidikan memang menjadi aspek utama, dan karenanya angka kemiskinan dan pengangguran juga ikut jauh berkurang, lapangan pekerjaan terbuka lebar, dan tingkat kesejahteraan meningkat drastis.. Sayang saja negara ini baru menyadarinya setelah lebih dari 60 tahun merdeka, dengan 60 tahun tersebut digunakan untuk menset prioritas pembangunan yang salah.. Waktu yang sia-sia terbuang..

Anakku kemudian dengan perlahan membuka halaman kedua koran tersebut, memperhatikan dan bersiap membaca salah satu kolomnya yang menarik, sebelum ada suara yang menghentikannya.. “Sudah bangun ya sayang ?”, suara lembut wanita tersebut.. “Mama dari mana ? Kok bawa banyak barang?”.. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan anakku, menghampiri sosok wanita berjilbab itu, dan memberikan kecupan lembut di bibirnya, yang menemani hidupku sudah lebih dari 12 tahun ini. “Iya, dari mana sayang?”.. “Habis dari pengajian di tempat Bu Dewi, lalu mampir ke toko baju sebentar, beli baju putih untuk acara baptis Arjuna ku yang satu ini Gereja minggu nanti..” ia memeluk anak laki-laki ku dan mencium keningnya.. “Kamu sudah siap kan ?”, tanyanya.. “Sudah donk ma, aku kan udah rajin ikut sekolah Minggu..”, jawab anak laki-laki itu sambil tersenyum.. “Coba dulu bajunya, sapa tahu kebesaran atau kekecilan”, diikuti dengan derap kecil suara kaki berlari menuju ke kamar..

“Oh ya..pa”, suara lembut wanita itu lagi.. “Mama tadi sempat singgah di Gereja Sta.Fransiska yang lagi dibangun di sebelah masjid itu lho pa.., bicara dengan pengurusnya, katanya mereka masih butuh dana cukup banyak untuk nyelesaiin gerejanya.. Tadi sech udah bicara sama ibu-ibu pengajian, dan semuanya pada langsung nyumbang cukup banyak buat pembangunan gereja itu, jadi udah mama serahin langsung tadi..”.. Aku tersenyum dan menyemangatinya, “Bagus itu ma..”.. Ia terus melanjutkan pembicaraannya, “iya, kan waktu Idul Adha kemarin, Gereja itu juga ikut nyumbang kurban cukup banyak pa.. Ya itung-itung saling membantu dech..”.. Aku mengangguk lembut..

“Gimana ma? Pas enggak bajunya?”, anakku bertanya.. “Ganteng bangettt anak mama..”, kata istriku, aku menimpalinya dengan “MANTABB!!!”, sambil tertawa..

Lalu aku merasakan sakit yang tidak terkira..

Sakit sekali..

Lalu keringat yang mengalir dapat dengan jelas aku rasakan melalui kulitku.. Terasa lengket..

Apa ini ???

Apa ini ???

Seberkas sinar yang sangat terang menembus memasuki sedikit bukaan mataku, silau sekali.. Aku mengedip berkali-kali berusaha memahami yang terjadi, dimana aku.. Aku melihat ke depan, dan terlihat tanganku yang hitam dan kotor, terlihat jejak sepatu di sana.. Aku sedang berbaring, dan dasarnya begitu keras.. Aku merabanya, semen.. Aku kemudian berusaha duduk, berusaha melihat dengan jelas.. Ada topi di dekatku, berisi beberapa koin receh, ada poster orang dimana-mana dengan nomor dan bendera-bendera, dan cukup banyak orang yang lalu lalang melewatiku.. Terdengar suara kendaraan dan sirene yang cukup memekakkan, cuaca sangat terik dan panas.. Aku sangat butuh air..butuh air..

Lalu aku tersadar apa yang sebenarnya sedang terjadi..

Aku menggerakkan lagi tanganku, menengadah dan meminta..

Masa mimpi indah itu sudah selesai..


About this entry