Cinta yang Sebenarnya..

Kilatan cahaya berlalu dengan cepat..
Hingga aku tidak sempat berkedip mengistirahatkan mata terlebih dahulu..
Cahayanya silau dan sungguh melelahkan mata..
Suaranya juga berlalu sama cepatnya..
Gemuruh lalu kemudian tenang..
Itu mungkin kereta terakhir untuk malam ini..
Dan artinya, hari ini sudah cukup larut..

Hamparan pandangan jadi kosong seiring dengan berlalu nya kereta itu.. Terlihat gundukan tanah batu dan rel dari besi yang sudah berkarat.. Di sekeliling, sepi dan sunyi.. Hanya terlihat beberapa orang yang tidur beralaskan koran, terbaring, tidur seperti orang mati.. Pemandangan yang menetramkan.. Dan karena itulah juga mengapa aku senang duduk di sini.. Di bangku platform ke 2, bangku panjang hijau itu, sendiri, ditemani suara kereta yang kadang terdengar indah.. Seperti menemani dan mengajakku berbicara aku yang cukup kesepian..

Ah..suasana ini, jika saja ada secangkir kopi panas dan gorengan, lebih terasa sempurna..
Sunyi, dan hangat..
Tidak ada yang bisa mengalahkan perasaan itu..
Setiap detiknya terasa seperti kenikmatan yang tiada tara..
Aku akan menikmatinya, setidaknya hingga matahari terbit kembali, dan ayam mulai berkokok..
Stasiun ini..
Platform kesayangan ku ini..
Akan ramai manusia, akan ramai hasrat dan dahaga, akan ramai sumpah serapah, akan ramai amarah..
Aku tidak menikmatinya..
Aku akan menunggu hingga gelap kembali..dan aku akan duduk di sini lagi, bangku hijau kesayanganku..
Menikmati kembali malam yang sunyi sendiri, hingga matahari kembali..

Terkadang angin dan suasananya begitu dingin.. Seperti menusuk dan menikam tulang, dan seperti mengikis kenikmatan ku menikmati malam di sini.. Sial, jika aku tahu kondisinya seperti ini, seharusnya aku membawa sweater ku saja waktu itu, atau setidaknya baju yang lebih tebal.. Tidak seperti baju kaus hitam bergambar tengkorak ini, tipis.. Ketipisannya seolah mengundang angin dan dingin untuk bersarang dan menetap dengan kulit tubuhku.. Sial..
Tetapi setidaknya celana panjang putih ini cukup tebal dan hangat..Setidaknya aku tidak merasakan dingin dan angin yang meniup di kaki..membantu ku menikmati malam di sini..

Rokok…rokok…kalau saja ada rokok.. Tempat ini sudah pasti bukan saja nikmat, tetapi surga bagi diriku.. Kopi, gorengan, dan rokok.. Jika ada di sini, aku tidak akan mengeluh apapun.. Berbicara dan menggumam pun tidak.. Mulutku akan kupakai terus menerus untuk menghisap dan menghembuskan asap rokok, sedikit jeda akan kujejalkan gorengan, sedikit jeda akan aku seruput kopi, dan sedikit jeda aku akan merokok lagi.. Setidaknya aku tidak akan merasa sepi seperti ini.. Rokok, kopi, dan gorengan adalah teman yang baik..

Arrrrggghhhhhhhhhhhhh….!!!!..seandainya saja waktu itu aku membawa semuanya.. Sebungkus kopi, rokok, atau penggorengan sekalian..

“Tenang..Tenang..”, aku bergumam menenangkan diriku sendiri.. Ini malam sunyi di platform stasiun, malam yang seharusnya aku nikmati.. “Jangan pikirkan yang tidak ada.., kau hanya memperburuk keadaan”, aku kembali bergumam menenangkan diri.. “Pikirkan saja yang menyenangkan..”.. Mmmmmm….otakku menyarankan yang menyenangkan.. Aku merebahkan diri di atas bangku hijau kecintaanku ini, melihat lampu-lampu stasiun yang terang di atas.. Jangan harap aku akan memejamkan mata dan tidur, itu sama saja merampas malam nikmat ku ini.. Aku tetap melihat ke langit-langit platform dan berusaha memikirkan apa yang menyenangkan.. Tidak usah dipikirkan memang, karena aku hanya mengasosiasikan kesenangan dengan satu kata..

“Harva……Harva…..pikirkan Harva saja…”, gumam mulutku dan kali ini diringi sedikit senyum di bibir…

Siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan Harva, wanita semampai, dengan tubuhnya yang proporsional, rambut panjang bergerai indah, bibir yang sempurna, mata coklat, cerdas, dan tingkah kemanjaannya yang seperti mengundang semua lelaki untuk terus menjaganya.. Dan laki-laki itu termasuk aku..
Aku mengenal Harva sejak kami kuliah bersama, aku kakak angkatannya.. Beredar rumor di angkatanku tentang adik angkatan yang jadi incaran semua lelaki, tidak hanya di fakultas ku, tetapi juga laki-laki di kampus ku.. Semua lelaki yang pernah melihatnya pasti jatuh hati padanya, atau setidaknya tertarik atau kagum padanya.. Dan aku penasaran seperti apa adik angkatan bernama Harva ini..
Pertemuan pertama saja sudah membuktikan semua rumor itu.. Dengan alasan mengundangnya masuk ke organisasi kemahasiswaan, aku memulai pembicaraan dengannya.. Dan setiap kata yang dia ucapkan seperti menembakkan panah cupid yang bertubi-tubi ke dalam hatiku.. Dan aku tahu aku jatuh cinta..

Ajakan untuk masuk organisasi itu ditanggapi Harva dengan baik, dan aku berhasil mendapatkan nomor teleponnya, tentu saja dengan dalih untuk dapat menghubunginya lebih mudah apabila ada perubahan soal perekrutan anggota organisasi, dan bla..bla..bla..semua alasan itu.. Jika saja aku bisa mendapatkan keberanian untuk berteriak, “AKU HANYA INGIN MENGENALMU LEBIH BAIK HARVA!!!!” sudah pasti kulakukan.. Hanya saja, aku tidak seperti itu..
Pertama kali mengirimkannya pesan singkat saja sudah seperti hendak mengisi jawaban untuk soal ujian akhir.. Tegang dan membutuhkan waktu yang cukup lama, dan semuanya hanya untuk menuliskan “PEREKRUTAN TANGGAL 6 SEPTEMBER..JADI IKUT?”.. Ketika dibalas olehnya, aku hanya tersenyum lebar seperti orang gila, dan otak berputar keras dan cepat untuk tetap mempertahankan momentum saling mengirimkan pesan singkat itu..
Semuanya mulai dengan pesan singkat yang datar, bicara soal perekrutan.. Kemudian, 2 bulan, mulai tanpa ada acara khusus, memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat yang sekedar hanya say hi atau “sedang apa?”, dan balasannya sudah diselingi dengan smiley yang ekspresif.. 4 bulan kemudian, aku sudah berani meneleponnya dan direspon dengan baik..terjadi dan semakin intens.. Bulan ke-5, pertama kalinya aku mengajaknya keluar, nonton hanya berdua..dan masalah pertama muncul..

Aku berkelahi dengan laki-laki lain yang juga tertarik dengan Harva ketika hendak mengantarkannya pulang.. Laki-laki itu tiba-tiba saja menyerangku di parkiran dan kami terlibat dalam pergumulan yang seru.. Harva berusaha melerai dengan menyebut nama kami berdua, dan ditambah dengan kata, “HENTIKAN!!!!”.. Sepertinya Harva mengenal pria itu, setidaknya ia tahu namanya.. Satpam berhasil melerai kami, dan kami dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan masalah ini.. Aku meminta Harva untuk terlebih dahulu pulang dan memberikannya uang untuk taksi, meminta maaf atas kencan pertama yang buruk yang membuat ia harus pulang sendiri malam-malam begini…. Well, setidaknya aku menganggapnya kencan.. Aku dan pria bangsat bernama, David itu, sekarang di kantor polisi, duduk tenang seperti anak TK..

Pemeriksaan berlangsung kurang lebih 2 jam.. Dan kami diminta untuk mendatangkan perwakilan untuk menjemput kami masing-masing, dan menandatangani segala macam tetek bengek itu.. Menjelaskan kepada polisi bahwa kami mahasiswa dan bukan remaja pun percuma.. Kami tetap butuh perwakilan..
Aku…

Posisi terlentang di kursi hijau, tidak lagi nyaman.. Aku mengubah posisiku menjadi terlungkup dengan kepala yang disandarkan tangan, seperti orang yang sedang dipijat.. Melihat sekeliling, tetap suasana stasiun yang aku cinta.. Orang di ujung platform ini, yang tadi tertidur dengan alas koran, terbangun, dan pergi menuju keluar.. Entah kemana.. Hanya itu perubahannya, yang lain tetap sama..

Aku ingat waktu itu memanggil mama sebagai perwakilan, karena aku sudah tidak punya ayah sejak aku SMA kelas 1.. Mama datang dengan raut mukanya yang menunjukkan kekhawatiran, berbicara dan menandatangani beberapa berkas dengan polisi, dan aku pun diperbolehkan bebas.. Aku mendapatkan kembali kunci mobil dan bergegas keluar, diikuti mama, aku muak melihat muka si David bangsat itu.. Ketika keluar, aku melihat taksi terparkir di sana.. Itu pasti taksi yang digunakan mama.. Mama bergegas menuju ke taksi, membuka pintu penumpangnya, dan menggendong Gery, adikku satu-satunya yang masih SD, dan kemudian membayar taksi.. Gery sedang tertidur pulas, mengenakan piyama narutonya, tentu saja, jam saja menunjukkan sudah pukul 23.00, sudah melampui jam tidurnya, ia pasti sudah tidur di rumah.. Mama pasti membawa Gery karena tidak berani membiarkan ia sendiri di rumah.. Hanya ada kami bertiga di rumah, tanpa pembantu.. Gery mau tidak mau harus ikut..

Aku yang menyetir selama perjalanan, sementara mama di belakang menemani Gery di belakang, berusaha memastikan ia tetap tidur pulas.. Sekali-kali mama bertanya pada ku apa yang sebenarnya terjadi sehingga aku terlibat kasus seperti ini.. Aku tidak menjawab, aku terdiam, percuma menjelaskan karena mama tidak akan mengerti, ini urusan anak muda.. Mama terus mendesak hingga aku marah dan berteriak, “JANGAN NANYA-NANYA MA!! INI URUSAN AKU!!!”, cukup keras, hingga Gery bergerak pelan.. Mama diam, dan tidak bertanya lagi selama perjalanan, dan lebih fokus memastikan Gery tidur.. Sesampainya di rumah, aku langsung menetap di kamar, dan berusaha memastikan Harva tiba di rumah, dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.. Kami ngobrol sepanjang malam, aku meminta maaf dan Harva juga menjelaskan siapa David bangsat itu.. Malam ini berakhir dengan tanpa masalah, aku dan Harva tetap baik-baik saja..

3 bulan setelah kejadian itu, hubungan komunikasi juga semakin intens dan dalam.. Aku dan Harva sepakat dan mendeklarasikan diri di kampus sebagai pasangan dimabuk asmara yang resmi terjalin dalam satu hubungan yang bernama PACARAN.. Aku merasa seperti raja ketika ia mengatakan iya sewaktu aku memintanya menjadi pacar ku.. Aku seolah terbawa ke surga ketujuh karena cintaku terbalas dan karena aku yang “memenangkan” Harva, dan mengasihani semua pria yang berusaha mengejarnya, mereka sudah kalah..
PACARAN bagiku berarti berusaha memberikan waktu sebanyak-banyak bagi pacarku, dan dalam hal ini si cantik, HARVA, pujaan hati dan cinta terdalamku.. Senin hingga Jumat, pacaran di kampus, Sabtu-Minggu jalan-jalan dengan Harva.. Sebulan sekali, di awal bulan, SHOPPING TIME dengan Harva.. Aku benar-benar sedang kasmaran..
Kondisi keuangan ku cukup berat karena kondisi ini, tetapi untungnya mama mengerti, dengan menambahkan sedikit uang bulananku, walaupun ia belum pernah bertemu dengan Harva secara langsung.. Aku pikir, mungkin usaha catering di rumahku sedang bagus-bagusnya hingga mama punya uang lebih, atau mungkin SD Gery yang sekarang sudah masuk sekolah gratis.. Tetapi, masa bodoh, yang penting aku punya uang lebih untuk bersenang-senang dengan Harva..
Terkadang cukup mengesalkan juga, jika mama tiba-tiba meminta tolong diriku untuk mengantarkan pesanan catering saat jadwalku jalan dengan Harva.. Aku menolak, selalu menolak, dan menyampaikan pada mama bahwa saat ku dengan Harva tidak dapat diganggu gugat, menyarankan agar Gery saja yang mengantarkannya dengan sepeda, lagian tidak terlalu jauh.. Mama seharusnya mengerti donk..
Lebih kesalnya juga ketika aku ingin keluar ke tempat Harva, mama ingin titip ini-itu lah, makanan, belanjaan, dll.. Dan aku tegaskan lagi pada mama, waktu ku dengan Harva tidak bisa diganggu gugat, dan lagian mana ada lagi aku budget buat beliin ini-itu buat mama, ada-ada aja..
Dimasa bodohin adalah pilihan yang bijaksana..

Aku dan Harva mengalami masa-masa terindah di kehidupan kami selama 6 bulan kami terjalin dalam status pacaran.. Hingga suatu hari, aku bertengkar hebat dengan mamaku soal Harva.. Mama mengatakan bahwa aku berubah menjadi lebih boros, masa bodoh dengan keluarga, serampangan, dan banyak alasan busuk yang memojokkan diriku dan Harva.. Aku marah, sangat marah, membanting semua masakan catering yang sudah mama persiapkan, meminta mama untuk tidak campur lagi urusan ku.. Tapi mama tetap tidak bergeming, ia tetap memojokkan aku.. Aku berteriak, dan kata-kata terakhir ku pada mama, “SEHARUSNYA MAMA MENGERTI!!!!!!!!!, AKU BENCI MAMA, AKU BENCI KELUARGA INI.. CUMA HARVA YANG SAYANG SAMA AKU!!!!”…
Aku keluar dari rumah, dan membanting pintu rumah sekeras-kerasnya, sebagai pertanda bahwa ini terakhir kalinya aku akan keluar dari pintu rumah itu, karena aku tidak akan pernah masuk lagi.. Masuk ke dalam rumah bersama wanita tua nenek sihir itu yang meludahi cinta sejati ku dengan Harva.. Aku menghubungi Harva, untuk menceritakan apa yang telah terjadi padaku.. Harva sedikit tertawa, dan mendukung aksiku untuk keluar dari rumah.. Aku senang mendengarnya, setidaknya wanita yang kucintai mendukungku.. Harva memberikan saran pada ku untuk menginap di salah satu kos-an teman laki-lakinya selama aku pergi dari rumah. Kos-an itu juga tidak terlalu jauh dari rumah Harva, dan kesempatan kami untuk terus bertemu akan semakin dekat..

Dan aku pergi..tapi tidak pernah tiba di kos-an itu..

Haaaaahhhh…aku menghela napas.. Aku mengubah posisiku lagi, duduk dengan kepala tertunduk.. Entah mengapa, kenangan terakhir itu memang sangat memberatkan.. Dan menundukkan kepala seolah membuat segalanya lebih baik..
Tangan ku terkepal dingin..bingung apa yang harus aku lakukan selanjutnya.. dua atau tiga jam lagi statiun ini akan disesaki oleh orang-orang yang beraktivitas pagi.. Aku menengadahkan kepala dan melihat suasana stasiun platform 2 yang masih tenang dan sepi, dan bangku hijau yang masih saja terasa nyaman..

Lebih baik aku pergi sekarang..
Pulang ke rumah..
Dan berharap bisa berbicara dan meminta maaf pada ibu..
Ada yang ingin aku sampaikan..
Ada yang ingin aku bicarakan..
Ini sudah hari ketujuh sejak aku pergi dari rumah..
semuanya juga sudah pasti jauh lebih tenang..
Ibu akan mendengarkan dan menerima aku lagi..

Dan aku meninggalkan lokasi terfavorit ku ini, berjalan setapak demi setapak, di waktu subuh yang dingin, pelan-pelan, menuju ke rumahku yang lokasinya tidak terlalu jauh dari stasiun ini..
Semakin mendekat, semakin tegang, seolah jantung ini telah berhenti berdetak.. Perasaan takut, sedih, namun berharap muncul bersamaan, berkecamuk tidak terkira..

Kompleks perumahan kini sudah terlihat, seperti gerbang yang menyambut kepulanganku.. Belokan pertama, lurus, kemudian belokan kiri di belokan kedua, di ujungnya adalah rumahku… Kakiku terasa ringan melangkah dan bergerak sendiri menuju ke arah rumahku..

Aku sudah dapat melihat rumahku, cahayanya sudah terang, dan waktu masih belum pagi.. Kendaraan ramai di depan rumahku terparkir dengan rapi, dan pelan terdengar suara orang ramai yang berdoa seiring langkahku yang semakin mendekati rumah..

Ternyata mereka..
Masih melakukannya..
Di hari ketujuh aku pergi dari rumah..

Memasuki pintu rumah, dan melihat begitu banyak orang sedang duduk bersila berdoa adalah hal yang paling berat yang pernah aku lakukan..
Tetapi bukan doa yang sebenarnya terdengar keras di sana, tetapi sosok mama yang masih meratap dan terkadang berteriak histeris menangis..
Memandang dengan kosong dan terkadang masih mencium…
Fotoku..

Aku mendekat ke arah mama, dan memeluknya dari belakang, mengatakan padanya bahwa aku minta maaf..
Tetapi percuma, ia tidak akan pernah bisa mendengar suara ku..
Tetapi setidaknya pelukan dan permintaan maaf itu dapat menetramkan hatiku..

Aku melihat ke sekeliling dan berharap melihat Harva ada diantara mereka yang berdoa.. Melihat satu persatu, memandang penuh seksama, namun tidak ada Harva..

Bahkan tujuh hari lalu pun, ketika Mama berteriak sekeras-kerasnya menangis meraung dan menciumi jasadku yang masih segar, Harva tidak ada di sana..

Aku sudah menunggu tujuh hari cinta yang selama ini aku puja..

Aku akan menunggu terus..
Aku sudah menunggu tiga puluh hari dan cinta yang aku agungkan ini tidak pernah muncul..
Aku sudah menunggu tiga ratus enam puluh lima hari dan cinta yang aku bela tidak pernah muncul..
Harva tidak pernah mengunjungi ku, dan tidak pernah ke rumahku, menghibur mama yang terus bersedih, bahkan setelah setahun sejak aku pergi dari rumahku..

Harva tidak pernah muncul..

Dan aku telah menjadi orang yang begitu bodoh.. Menghancurkan diri sendiri demi cinta yang semu dan melawan cinta sebenarnya yang mama berikan pada aku..

Harva, aku penasaran apa yang sedang kau lakukan hingga tak pernah sempat mengunjungi aku..tetapi aku tidak akan lagi bodoh pergi mencarimu.. Setiap pagi aku akan tetap di sini, menemani, memandangi, melihat, dan menjaga ibu, walau aku sudah mati..

Dan ketika ibu sudah tidur lelap karena lelah, aku akan mencium keningnya walaupun ia tidak pernah bisa merasakannya.. Aku akan pergi lagi dari rumah, duduk di stasiun, platform 2, bangku hijau, tanpa rokok, kopi, dan gorengan.. Karena aku sadar, ini bukan dingin karena angin, tetapi aku yang butuh kehangatan pelukan seorang ibu yang tidak akan pernah aku dapatkan lagi..

Jadi biarkan saja aku berbicara dengan geruman suara kereta.. Bangku hijau ini dan platform ini memang tempat ternikmat yang pernah aku datangi.. Ketenangan dan kebebasannya, aku akan tetap di sini, selamanya..


About this entry