God’s Love Letter

Selamat matahari terbit cinta..
Dimana Cahaya ada, dan kegelapan pergi..
Selamat datang apa yang kamu sebut pagi..
Dan apa yang Aku sebut gerakan kecil di semesta..
Selamat datang apa yang kamu sebut hari..
Dan apa yang Aku sebut satu getaran mata..
Selamat datang apa yang kamu sebut takdir..
Dan apa yang Aku sebut cinta..

Bagaimana kabarmu, Cinta?
Masihkkah mengingat-Ku?
Kekasihmu yang tak bercela?
Yang menjadikanmu ada, dan menjadikanmu tidak ada..
Yang menjadikanmu cinta, dan menjadikanmu tidak cinta..
Yang menjadikanmu rasa, dan menjadikanmu tidak rasa..
Ingatkah?

Aku sendiri merasa begitu bodoh menyampaikannya lewat surat..
Tetapi aku mampu menanggungnya, Cinta..
Kebodohan itu..
Jangan katakan Aku malu..
Jangan katakan Aku begitu pengecut..
Jangan katakan Aku tidak cinta..
Hanya karena Aku tidak pernah menemuimu..
Bertatap mata, dan bersenda gurau belaka..
Hingga terkadang kau, Cinta, meragukan-Ku..
Bahwa semua yang Aku berikan dan pancarkan semu..
Tetapi, lihat aku di sini, Cinta..
Menulis surat untukmu dari apa yang kamu sebut sebagai hati..
Dari apa yang kamu sebut sebagai perasaan yang paling dalam..
Dari apa yang kamu sebut keberanian..
Dan dari apa yang kita sebut cinta, Cinta..

Surat ini adalah yang pertama..
Dan tidak akan menjadi yang terakhir..
Ditulis dengan pena emas pengukir..
Dan dilandaskan daun lontar terbaik yang Aku temukan..
Tinta dari hitam tergelap semesta..
Hanya untuk meyakinkanmu Cinta, bahwa Aku tetap ada dan cinta..
Walaupun terkadang kau..
Hanya melihat kata pertama, dan membuang suratnya..
Aku tidak pernah mengerti..
Apakah engkau marah?
Apakah engkau benci?
Ataukah engkau sudah muak?
Atau kau hanya bingung dengan apa yang kau rasakan?

Aku sudah berusaha menggapaimu entah untuk keberapa kalinya, Cinta..
Entah untuk apa yang kamu sebut waktu..
Entah untuk apa yang kamu sebut penantian..
Dan untuk apa yang aku sebut kedipan..
Aku sudah mengirimkan kurir-kurir terbaik yang bisa Aku temukan..
Hanya untuk menyampaikan Aku cinta..
Aku mengutus seorang dari daratan yang runcing..
Dari sebuah Kerajaan Duniawi yang megah..
Seseorang dari apa yang kamu sebut sebagai pangeran..
Seseorang dari apa yang kamu sebut sebagai terhormat..
Seseorang dari apa yang kamu sebut sebagai yang Agung..
Dan apa yang aku sebut sebagai seorang pesuruh..
Melalui raga dan jiwanya aku menyampaikan pesan kewelas-asihan..
Kecintaan-Ku yang terdalam padamu, Cinta..
Namun kau tidak menerimanya dengan baik..
Kurir itu datang..
Hendak menyampaikan kata, dan kemudian kau usir..
Aku memanggilnya pulang..

Tidak pernah sedikitpun, terlintas di pikiranku untuk melupakanmu Cinta..
Tidak untuk apa yang kamu sebut sebagai detik..
Aku bingung.. Aku terperangkap dalam pertanyaan..
Apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa kau menolak kurir-Ku yang hendak menyampaikan pesan..
Aku tidak pernah mengerti..

Aku mengirimkan kurir kedua..
Seorang anak tukang kayu dari dataran yang indah..
dimana terbentang sungai dan tumbuhan hijau..
Aku hanya ingin pesan itu sampai padamu, Cinta..
Aku ingin membuktikan Aku tidak bermain kata..
Aku tidak melakukan apa yang kamu sebut sebagai canda..
Aku tidak melakukan apa yang kamu sebut sebagai bohong..
Aku hanya ingin mengatakan Aku Cinta Padamu..

Aku hendak membuktikan bahwa cinta-Ku tidak bercela..
Aku mengangkat sang Kurir menjadi Anak-Ku..
Yang akan aku jadikan sebagai pewaris Kerajaan-Ku..
Seorang Anak yang akan Aku utus sebagai pengantar pesan..
Keseriusan..
Kehormatan..
Dan sebuah pesan yang singkat..hanya untukmu Cinta..
Ketika anak-Ku tiba, kau memakunya di papan kayu..
Menusuknya, dan membiarkan ia terpanggang atas sinar matahari..
Kau tidak pernah percaya, Cinta..
Anak-Ku menangis dan berteriak meminta pertolongan..
Aku memintanya menahannya, supaya Cinta mengerti, supaya Cinta tahu..
Bahwa pesan-Ku penting..
Tetapi paku yang tertombak di tangan Anak-ku tidak dapat berdiskusi..
Dan Aku memutuskan memanggil Anak-Ku pulang..
Dan Cinta tidak pernah mau mendengarkan Aku..

Aku semakin bingung, Aku semakin kesal..
Aku marah, lalu Aku menangis..
Aku menangis, lalu Aku marah..
Aku diam, lalu Aku berteriak..
Aku berteriak, lalu Aku diam..
Aku tertawa, lalu Aku terisak..
Aku terisak, lalu Aku tertawa..
Aku tidak pernah mengerti apa yang ada di pikiranmu, Cinta..
Apa yang sebenarnya terjadi?
Hingga kau tidak pernah ingin mendengar apa yang Aku coba katakan..
Apakah aku pernah membelokkan cintaku untuk yang lain?
Tidak pernah Cinta..
Bukankan kamu yang lebih sering melakukannya? Membelokkan cinta untuk yang lain?
Aku tahu Cinta, dan Aku memaafkanmu jauh sebelum kata maaf terucap dari bibirmu.
Aku selalu tahu..
Bahwa cinta ku untukmu, Cinta, tak pernah bercela..
dan sekarang..
tak pernah terbatas..

Apa yang harus aku lakukan, Cinta?
Aku sudah tenang..
Aku hanya ingin menyampaikan pesan..

Aku bertahan..
Aku akan mengirimkan kurir ketiga ku..

Aku memilih seorang remaja pedagang..
Dari dataran yang berpasir dengan hewan berpunuk..
Seorang remaja yang tampan lagi berani..
Aku akan menjadikannya yang terpilih..
yang terakhir..
untuk menyampaikan pesan..

Aku memilihnya karena ia seorang pedagang lagipula cerdas..
Ia akan mampu bertukar pendapat denganmu..
Ia akan mampu dengan segala cara menyakinkanmu untuk mendengar-Ku..
Ia akan “menjual” Aku padamu, Cinta..
Hingga kau akan bertekuk lutut, dan paham akan pesanku..
paham akan cinta-Ku yang tak bercela..

Ketika aku mengutusnya..
Kau dengan segenap kekuatanmu memerangi kurir-Ku..
Dengan segala macam usaha kau menolaknya..
Dan kali ini Aku tidak tinggal diam..
Aku membantu-Nya dalam setiap perperangan..
Dan kurir-Ku selamat dengan pesan yang tetap tidak tersampaikan..
Kau membuang muka..
Kau membanting pintu di depan-Ku..
Kekasih yang mencintaimu dengan tanpa cela..

Aku memanggil kurir-Ku pulang..
Dan kali ini tidak ada lagi pembawa pesan..
Aku memutuskan..
Memberi waktu agar Cinta dapat menimbang..
Dan memutuskan sendiri..
Apakah pesan yang hendak Aku sampaikan ini pantas atau tidak..
Tiada lagi kurir, yang ada hanya Aku..

…………………………………
…………………………………
…………………………………
…………………………………

Selamat matahari terbit cinta..
Dimana Cahaya ada, dan kegelapan pergi..
Selamat datang apa yang kamu sebut pagi..
Dan apa yang Aku sebut gerakan kecil di semesta..
Selamat datang apa yang kamu sebut hari..
Dan apa yang Aku sebut satu getaran mata..
Selamat datang apa yang kamu sebut takdir..
Dan apa yang Aku sebut cinta..

Bagaimana kabarmu, Cinta?
Masihkkah mengingat-Ku?
Kekasihmu yang tak bercela?
Yang menjadikanmu ada, dan menjadikanmu tidak ada..
Yang menjadikanmu cinta, dan menjadikanmu tidak cinta..
Yang menjadikanmu rasa, dan menjadikanmu tidak rasa..
Ingatkah?

Aku tidak mampu menahan kerinduan-Ku padamu..
Dan Aku ingin tahu yang terjadi padamu, Cinta..
Aku ingin mendengar suaramu..
Melihat wajahmu..
dan mencium bibirmu..

Kerinduan berbentuk menjadi kebodohan..
Tangan dengan sendiri menari dengan pena..
Di atas daun lontar..
Menjadi tulisan tak bercela..
Menjadi tulisan kerinduan..
Menjadi tulisan undangan..
untuk kembali mendengar pesan..

Bagaimana sebenarnya kabarmu, Cinta?
Aku mendengar berita..
Bahwa kau melukai dirimu sendiri Cinta..
Dengan pisau di tangan kirimu, kau menyayat tangan kananmu..
Kau bilang mereka berdua berbeda..
Dengan api di tangan kananmu, kau membakar tangan kirimu..
Kau bilang mereka berdua berbeda..

Aku mendengar pilu, Cinta..
Dengan racun kau menyirami mata kirimu, agar mata kananmu bahagia..
Dengan minyak kau melumatkan mata kananmu, agar mata kirimu bahagia..
Aku mendengar suara menyayat, cinta..
Bahwa dengan kaki kananmu kau menginjak-injak kaki kirimu..
Bahwa dengan kaki kirimu kau menginjak-injak kaki kananmu..

Aku mendengar rintihan, Cinta..
Dengan puting susu kirimu, kau menyusui bayi bernama Benci..
Dengan puting susu kananmu, kau menyusui bayi bernama Hancur..
Dan kau melakukannya dengan tertawa..
Sambil mencekik dan meludahi bayi bernama Damai..
Bayi yang aku harapkan..

Apa yang sebenarnya terjadi Cinta?
Aku menjadikanmu kekasih karena kesepianku yang teramat..
Aku menjadikanmu kekasih dengan cinta yang tidak kudapat..
Aku menjadikanmu kekasih dengan ketulusan yang tidak kudapat..
Aku menjadikanmu kekasih dengan pengertian yang tidak kudapat..
Apa yang sebenarnya terjadi cinta?
Hingga kau harus merusak dirimu sendiri..

Aku tidak pernah mengirimkan ketiga kurirku untuk menyampaikan pesan itu..
Kau mengarangnya..
Kau membelokkannya..
Kau menjadikannya sebagai alasan untuk menghancurkan dirimu..
Oh..Cinta, tidakkah kau melihat air mata ini?
Tidak kau melihat Aku menderita untukmu..
Tidak kau melihat Aku ingin melihat kau bahagia..
Sungguh Cinta, apa yang telah kau lakukan..
Aku..
Aku..
Tidak mengerti..

Apakah karena kau membenciku?
Atau karena kehadiran Aku yang membuatmu begitu?
Katakanlah Cinta, aku mohon..
Aku hanya ingin menyampaikan pesan..
Tentang kecintaan ku yang mendalam..
Tapi kau adalah kekasih paling keras kepala yang aku kenal, Cinta..
Karena aku tahu kau tidak pernah ingin tahu pesannya..

Aku tahu Cinta..
Dengan pisau kau sudah memotong telinga kirimu..
Dengan gergaji kau sudah memotong telinga kananmu..
Dan kau juga sudah mengganti kunci pintu rumahmu..
Dan tinggal Aku sendiri bertanya Cinta..
Dan aku akan menunggu Cinta..
Hingga kau siap kembali..
Dan tak menghancurkan dirimu sendiri..
Karena Aku cinta padamu, dan memberikan kebebasan padamu untuk memilih..
Dan aku sendiri memilih menunggu…

……………………………………..
……………………………………..
……………………………………..
……………………………………..

Selamat matahari terbit cinta..
Dimana Cahaya ada, dan kegelapan pergi..
Selamat datang apa yang kamu sebut pagi..
Dan apa yang Aku sebut gerakan kecil di semesta..
Selamat datang apa yang kamu sebut hari..
Dan apa yang Aku sebut satu getaran mata..
Selamat datang apa yang kamu sebut takdir..
Dan apa yang Aku sebut cinta..

Bagaimana kabarmu, Cinta?
Masihkkah mengingat-Ku?
Kekasihmu yang tak bercela?
Yang menjadikanmu ada, dan menjadikanmu tidak ada..
Yang menjadikanmu cinta, dan menjadikanmu tidak cinta..
Yang menjadikanmu rasa, dan menjadikanmu tidak rasa..
Ingatkah?

Aku telah menyelesaikan surat cinta ini..
Dan melaluinya aku harap Kau mengerti..
Bahwa pesan itu tidak terelakkan..
Bahwa lewat pesan itu aku Ada..
Tiada lagi kurir..’
Dan tiada lagi kehancuran dirimu, Cinta..
Akan aku pastikan kau mendapatkan surat ini..
Akan aku pastikan kau memahami pesan yang telah lama ingin Aku sampaikan..
Akan aku pastikan kau luluh..
Karena..
Kali ini…

AKU AKAN DATANG SENDIRI…

TAK SABAR MENUNGGU BERTEMU DENGANMU, CINTA…

Kekasihmu yang tak bercela,

Tuhan


About this entry