Perbedaan Sikap terhadap proses asimilasi antara Siswa Pribumi dan Non-Pribumi kelas X dan XI jurusan Akuntansi dan Penjualan – SMKN 3 Pontianak

Abstrak

Polarisasi yang berdasarkan kesukuan terjadi hampir di seluruh aspek kehidupan masyarakat, tidak terkecuali dunia pendidikan. Dunia pendidikan sebagai tempat untuk menumbuhkan nilai sosial yang baik menemui tantangan untuk mengembangkan proses asimilasi. Berdasarkan observasi penulis, sekolah yang didominasi oleh salah satu kelompok suku sebagai kelompok suku yang mayoritas akan cenderung bersikap negatif untuk berasimilasi dengan kelompok suku lain yang diposisikan sebagai kelompok yang minoritas, dan begitu juga sebaliknya. Hal tersebut terlihat dari pembentukan peer groups yang tidak membaur. Menjadi menarik untuk diteliti, sikap terhadap proses asimilasi siswa dari kedua kelompok tersebut jika berada di sekolah yang bercampur. Siswa yang memiliki pengetahuan, tidak merasa takut, tidak memiliki perasaan superioritas, dan memiliki sikap toleran dan simpati kepada siswa dari kebudayaan yang berbeda serta ingin membentuk kebudayaan campuran, memiliki sikap yang positif terhadap proses asimilasi. Sedangkan siswa yang tidak memiliki pengetahuan, merasa takut, memiliki perasaan superioritas, tidak memiliki sikap toleran dan simpati kepada siswa dari kebudayaan yang berbeda, serta tidak ingin membentuk kebudayaan campuran, memiliki sikap yang negatif terhadap proses asimilasi.
 Penelitian ini bersifat kuantitatif komparatif, dengan menggunakan teknik hitung chi-square untuk mengetahui perbedaan sikap terhadap proses asimilasi antara siswa Pribumi dan Non-Pribumi. Sampel penelitian adalah siswa-siswi kelas X dan XI jurusan Akuntansi dan Penjualan SMKN 3, Pontianak dengan teknik pengambilan sampel Sampling Jenuh. Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian kuesioner yang disusun sendiri oleh penulis mengacu pada skala sikap Likert dan teori asimilasi yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat.
 Pengolahan data tambahan yang didapatkan dari lembar identitas diri pada responden memperlihatkan perbedaan yang signifikan secara statistik pada faktor suku dan suku sahabat dekat. Perbedaan didapatkan tidak signifikan secara statistik pada faktor jenis kelamin, agama, pendidikan dan pekerjaan ayah, pendidikan dan pekerjaan ibu, dan dengan siapa responden tinggal, namun tetap menarik untuk dibahas lebih dalam.
 Dari pengolahan data didapatkan hasil bahwa nilai chi-square hitung lebih besar dari nilai empirisnya, 6,27 > (3,84). Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan sikap yang signifikan terhadap proses asimilasi antara siswa Pribumi dan Non-Pribumi kelas X dan XI jurusan Akuntasi dan Penjualan SMKN 3, Pontianak. Data presentase frekuensi memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan yang jelas dalam sikap terhadap proses asimilasi. Siswa Non-Pribumi bersikap lebih positif terhadap proses asimilasi dibandingkan siswa Pribumi.

Kesimpulan :
 Dari paparan data tambahan, terlihat bahwa hanya ada dua faktor yang mempengaruhi secara signifikan sikap siswa terhadap proses asimilasi, yaitu sukunya dan suku sahabat dekat subjek. Sementara data latar belakang yang lain secara statistik menunjukkan tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Walaupun demikian, dari penyebaran frekuensi dari data tambahan seperti agama, pekerjaan ayah, pendidikan ayah, dan dengan siapa subjek tinggal, walaupun secara statistik tidak signifikan berpengaruh, namun tetap menarik untuk dibahas. Penyebaran frekuensi pada jenis kelamin dan dominasi pemukiman tidak memungkinkan untuk dibahas lebih dalam.
 Masing-masing kelompok suku melihat kelompok suku yang lain sebagai kelompok suku yang paling sulit bersosialisasi. Hal ini disebabkan adanya prasangka yang merupakan generalisasi fakta dan pengalaman, yang kemudian diikuti dengan pemberian atribusi yang bias terhadap kelompok suku yang lain. Kedua hal tersebut membuat stereotype “sulit bersosialisasi” yang dilihat satu kelompok suku terhadap kelompok suku yang lain menjadi cenderung menetap dan menghambat terjadinya proses asimilasi.
 Uji beda sikap siswa Pribumi dan Non-Pribumi terhadap proses asimilasi dengan metode hitung chi-square memperlihatkan bahwa ada perbedaan yang signifikan di antara kedua kelompok tersebut. Dari paparan datanya terlihat bahwa kelompok suku non-Pribumi lebih bersikap positif terhadap proses asimilasi, sedangkan kelompok suku Pribumi lebih bersikap negatif terhadap proses asimilasi.  Walaupun syarat untuk terjadinya proses asimilasi bahwa kelompok minoritas bergerak bercampur dengan kelompok mayoritas terjadi, tidak serta merta proses asimilasi terjadi.
 Proses asimilasi tidak dapat terjadi karena (1) resistensi kelompok suku Pribumi terhadap proses asimilasi yang terlihat dari sikapnya yang negatif terhadap proses asimilasi. (2) adanya prasangka dan atribusi bias yang diberikan masing-masing kelompok suku kepada kelompok suku yang lain dan menghambat proses asimilasi, dimana pikiran dan sikap tersebut cenderung menetap. (3) sikap positif yang ditunjukkan oleh kelompok suku Non-Pribumi didominasi hanya perasaan bahwa hal tersebut baik untuk dilakukan, namun tanpa tindakan nyata untuk bersosialisasi dan meleburkan diri pada kelompok mayoritas.

“Stereotyping” antara kelompok siswa suku Pribumi dan Non-Pribumi
 Melalui pertanyaan wawancara yang terlampir pada lembar identitas diri kuesioner, didapatkan data bahwa kelompok siswa pribumi melihat kelompok siswa non-pribumi sebagai :
– kelompok siswa yang sulit diajak berkomunikasi karena bahasa yang berbeda,
– sering mengacuhkan dan cenderung sibuk dengan kegiatan mereka yang eksklusif,
– sulit bekerja sama,
– suka menipu,
– sombong dan sulit diajak bersosialisasi,
– emosional, dan
– sulit menyesuaikan diri ke dalam masyarakat.
 Sementara, kelompok siswa non-pribumi melihat kelompok siswa pribumi sebagai kelompok siswa yang :
– sifat dan perilakunya bertentangan dengan nilai-nilai sukunya,
– tidak menyukai dan cenderung sentimen terhadap siswa non-pribumi,
– sulit diajak kompromi dan bersosialisasi,
– sulit beradaptasi,
– senang meremehkan,
– emosional, dan
– sering menyalahgunakan peran sebagai kelompok suku yang mayoritas.

Saran :
1. Saran Teoritis
a. Perlu dilakukan penelitian dalam lingkup populasi dan sampel yang lebih luas untuk memberikan gambaran sikap terhadap proses asimilasi yang dapat digeneralisasikan lebih luas.
b. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada masing-masing kelompok suku untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang dinamika pengambilan sikap terhadap proses asimilasi.
c. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memberikan pemahaman lebih jelas tentang dampak positif dan dampak negatif yang mungkin timbul dari hasil penelitian ini.

2. Saran Praktis
a. Memberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang kemajemukan kebudayaan melalui institusi-institusi pendidikan.
b. Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kebudayaan yang tidak terbatas hanya pada upacara-upacara dan keyakinan saja, tetapi mencakup tentang norma yang berlaku dan sifat pada umumnya. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong perasaan toleransi terhadap perbedaan.
c. Pengaturan susunan siswa dalam kelas yang mendorong dan memperbesar kemungkinan siswa dari suku yang berbeda mengenal satu sama lain.
d. Penyeleksian calon siswa yang tidak diskriminatif secara SARA, tetapi lebih didasarkan pada kemampuan siswa.
e. Penyelenggaraan acara budaya yang melibatkan siswa-siswi dari kelompok suku yang berbeda untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.
f. Pembentukan kelompok belajar bersama yang melibatkan siswa-siswi dari kelompok suku yang berbeda.

*catatan : hasil penelitian ini hanya berlaku pada populasi siswa siswi kelas X dan XI jurusan Akuntansi dan Penjualan SMKN 3 Pontianak. Penggeneralisasian pada lingkup populasi yang lebih luas tidak dimungkinkan dan membutuhkan penelitian lebih lanjut*


About this entry