Redefining Love..

“JOSEPH, MARI KITA BICARAKAN INI NAK!!!”

“Diamlah!!”, aku berteriak.. Biarkan aku menikmati saat-saat ini.. tolong, kalian pergilah.. Biarkan aku sendiri, satu kali ini saja.. bersama dia..

“AYOLAH JOSEPH!! JANGAN LAKUKAN INI!!”
Aku hanya terdiam.. Mereka tidak akan pernah mengerti..

“JOSEPH!!!!”
“AKU BILANG DIAM!!!”, aku mohon.. Dan air mata itu kembali mengalir pelan di sisi pipiku.. Terasa dingin di terik panas yang tidak tergambarkan.. Seperti aliran sungai kecil yang memberikan kehidupan.. Hanya saja air ini kali ini tidak pernah akan menggambarkan kegembiraan dan kehidupan sedikitpun..

Aku menapak pelan ke depan..
Dengan menggendongnya dengan kedua tanganku..
Lemas..
Tapi kekuatan yang tak kumengerti menjaganya tetap kuat..
Menggendongnya..

Kakiku yang bergetar juga seperti bergerak dengan sendirinya..
Menapak pelan tapi pasti..
ke depan..
Mengabaikan semua orang yang berteriak mencegah..
Semua orang itu tidak akan pernah mengerti..

Aku menggendongnya..
Hanya ini yang bisa kulakukan..
Hanya ini yang bisa kupersembahkan..

Dan bayangan masa lalu itu muncul, menemani setiap langkah ku yang lunglai tapi mantap..

***

“Kau tahu, Joseph, aku sama sekali tidak pernah berniat memakimu seperti itu.. hanya saja, kau tahu aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan…”
Aku duduk terdiam, menutupi kedua mataku, merasakan kepedihan dan kemarahan yang bercampur aduk, aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat..
“Tolonglah Joseph, maafkan aku, aku berjanji akan menebusnya..”
Air mataku berhenti mengalir, telinga ku siaga mendengar jelas tawarannya..
“Bagaimana kalau es krim setinggi yang kau mau, di kereta di ujung jalan ?”
Aku langsung berteriak, “SETUJU!!!!”, dan langsung tersenyum..
“Jadi, kita baikan? kita tetap berteman?”, ia menawarkan jari kelingkingnya padaku..
“Tentu saja”, aku berkata dengan penuh senyuman dan kemenangan..
“Kalau begitu, ayo kita pergi..”, ia berbalik tersenyum dengan penuh kemenangan juga..

***

Langkah kakiku tidak akan terhentikan dan terbantahkan..
Aku akan membawanya pergi dari sini..
Aku akan terus menggendongnya..
Walaupun tanganku harus patah karenanya..
Sudah hampir sampai..
Beberapa langkah lagi..
Teriakan orang-orang hanya suara yang samar dan tidak jelas..
Bayangan masa lalu itu kembali..
Menemaninya..

***

“Kau kenapa Joseph??? Kau kenapa?? Apa yang terjadi dengan-mu???”, aku melihatnya ketika Ia datang dan berlinang air mata… Ia panik..
“Aku tidak apa-apa.., hanya muntah.., nanti juga sembuh dengan sendirinya..”
“Kau harus ke dokter Joseph, Ayuukkkk..”
“Aku tidak mau.. Pergilah aku mohon.. Aku ingin sendiri..”
“Joseph…”, ia melihatku dengan penuh kebingungan..
“Aku sudah bilang aku tidak apa-apa.. aku baik-baik saja.. aku sehat..”, Joseph.. “Aku mohon kau untuk keluar.. aku tak ingin melihatmu..”
“Joseph….aku….”
“Aku mohon..pergilah…”, aku memintanya..
Ia tidak menjawab apapun, ia menangis kembali.. terisak.. mengambil tasnya, dan pergi..

Aku berbohong padanya, aku tidak baik-baik saja.. pemandangan itu sangat menjijikkan dan menyakiti hatiku, hingga setiap kali aku mengingatnya, aku akan muntah dan lemas.. Aku benci padanya..
Aku benci..
Aku benci padanya..
Aku tahu dia pernah memberitahukan dan mengingatkanku bahwa akan ada banyak pria yang menemuinya..
bahwa akan ada banyak pria yang mengunjunginya..
bahwa akan ada banyak pria yang berkencan dengannya..
bahwa akan ada banyak pria yang meneleponnya..
bahwa akan ada banyak pria yang akan keluar bersamanya..
Dan ia meyakinkan ku, bahwa Ia tidak mencintai satupun dari mereka..
Ia tidak akan pernah mencintai satupun dari mereka..
Ia terus meyakinkan ku..
Dan aku tersenyum percaya padanya..
Ia bilang..
Hanya aku pria yang ia miliki di dunia..
Ia hanya mencintaiku..

Hingga aku melihat pada yang Ia lakukan dengan pria itu kemarin malam..
Aku melihatnya..
Ia telanjang dan pria itu telanjang..
Mereka saling menindih..bergulat..bercumbu..
Lalu berputar dan menjilat..
Dan aku mendengar desahan dari mulutnya..
Ia..
Berbohong..
padaku..
Ia…
Berbohong..
padaku..
selama..
ini…
Tidak hanya dengan pria ini, tapi dengan semua pria yang selama ini ia temui..
Aku tidak dapat menahan pemandangan ini, perut ku menjadi begitu muak..
Aku muntah..
Dan setiap kali aku ingat pemandangan itu.. Aku muntah..

***
Tiga langkah lagi maka aku akan tiba di sana..
Di tempat dimana aku akan berdiri bersamanya..
Bersamanya..
Aku..
Akan bersamanya..
Dua langkah lagi.. dan aku tiba di sana..
Tanganku sudah mulai bergetar hebat..
Tapi langkah kakiku sekuat baja..
Tak tergoyahkan..
Air mata itu kembali mengalir..
Dan masa lalu itu bergerak kembali..

***
“Oh…Joseph..kau datang…”, Ia tersenyum.. “Lihat dirimu sekarang, jauh lebih tegap dan tegar dari terakhir aku melihatmu..”, ia tersenyum sangat lebar..
Aku hanya tersenyum, lalu memeluknya..
“Kau juga tak banyak berubah, masih cantik seperti aku mengenalmu dulu..”, aku memujinya..
Ia hanya tertawa, “Ayolah Joseph, kita tahu apa yang sebenarnya terlihat..”
“Aku seperti monster, rambut ku hilang, aku menjadi seperti zombie..”
“Kau..tetap wanita yang dulu.. masih wanita sama yang aku cinta.. selamanya..”, aku memotongnya dengan penuh senyum..
“Dan kau pria gagah yang tak lain dan tak bukan adalah satu-satunya pria yang kucintai seumur hidupku..”, ia balas menimpali dengan senyuman terlebar yang tak akan pernah aku lupakan..
Aku menghampirinya, memeluknya, dan memberikan Ia ciuman di kening terlama dan tidak akan Ia lupakan..
Seumur hidupnya..
Ataupun sesudah hidupnya..
Aku tidak akan mencintai wanita lain seperti aku mencintai dia..

***
Aku sudah tiba di tempat yang aku inginkan..
Kaki ku sudah berhenti..
Tapi tanganku tetap menengadah dan menggendongnya..
Aku melihat ke bawah..
semuanya terlihat kecil..
Teriakan yang keras menyadarkan aku kembali..

“JOSEPH!!! JANGAN LAKUKAN ITU!!!”
“JOSEPH!!!”
“JOSEPH!!!”

Aku tidak memperdulikannya..
Mereka tidak akan pernah mengerti..
Aku sudah sini..
Aku sudah tiba di tempat yang aku inginkan..
Aku sudah berdiri di sini..

Di ujung atap gedung berlantai 40..
Tidak mengherankan kenapa semuanya begitu kecil di bawah..
Tanganku sudah sangat lelah..
Aku tidak mampu menggendongnya lagi..
Aku sudah siap..

“JOSEPH!!!!” TURUNLAH!!! KAMI MOHON!!!!
Aku tidak dapat lagi mendengarnya.. suaranya samar..

Aku melihat ke wajah wanita yang aku gendong dengan kedua tanganku yang bergetar kelelahan..
Ia tetap cantik..
Ia tetap wanita yang aku cinta dari dulu..
Walaupun ia tidak lagi memiliki rambutnya..
Walaupun tubuhnya tidak lagi berisi seperti aku pernah mengenalnya dulu..
Tapi ia tetap wanita yang sama..
Ia tetap wanita yang aku cinta..
dan akan aku cinta selamanya..

Aku mencumbu keningnya.. Ciuman yang sama..
Aku mencium bibirnya untuk terakhir kalinya..
Tubuhnya sudah mendingin, ia tidak lagi sehangat ketika aku membawanya ke sini..
Air mataku mengenai wajahnya yang diam..
Aku menyekanya..
Dan mencium keningnya..
kembali..

Dan entah mengapa, aku tidak lagi takut akan ketinggian..
Tingkat 40 bukan sesuatu yang menakutkan..
Aku sudah siap..

Dan aku melangkahkan kakiku ke depan..
Menginjak udara..
Perlahan bersama seluruh tubuhku..
Dan teriakan suara yang samar..
Aku terbang bersama dia..

Aku memeluk tubuhnya..
Seerat yang aku bisa..
Kami jatuh bersama..
beberapa detik di udara, untuk ke tanah..
Dan dari mataku aku bisa melihat ujung gedung darimana aku jatuh..

Aku sedang melayang..
Bersama wanita yang selamanya akan aku kasihi..
Aku akan ke surga bersamanya..
Karena dia hidupku..
Dan aku tak bisa hidup tanpanya..
Aku akan bersama dengan dia selamanya..
Dan mencintai dia melebihi apa yang manusia katakan sebagai hidup..

Aku memeluk tubuhnya lebih erat lagi..
Seerat yang aku bisa..
Dan membisikkan kalimat terakhir di dekat telinganya..
Aku membisikkan nya..

 

 

 

 

 

 

“Aku sayang padamu…”

 

“Ibu…..”

 

 

***

 


About this entry