Televisi Indonesia = Merusak

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk kekesalan dan kekecewaan terhadap program televisi di Indonesia yang semakin lama tidak bermutu, bahkan cenderung merusak..

Gua secara pribadi tidak akan menunjuk stasiun televisi tertentu sebagai penyelenggara yang tidak bertanggung jawab, namun sebagian besar memang menjadi tidak etis dan hanya memikirkan faktor keuntungan semata.. Dan hal ini menyedihkan..

Beberapa siaran televisi yang diadakan untuk remaja atau dewasa, ditayangkan pada jam “aktif anak-anak”, sehingga anak-anak menjadi rentan terpapar materi-materi yang belum saatnya mereka lihat..

Sebagai contoh, selama weekdays, pada sore hari, beberapa televisi swasta menayangkan apa yang mereka sebut sebagai “Reality Show”, yang sebenarnya adalah “sinetron kemasan baru”.. Acara seperti ini dibentuk plot, dramatisasi, dan menghadirkan rekrutan aktor dan artis amatiran menjadi bintang.. Oke, gua tidak mempermasalahkan gaya nya.. Yang dipermasalahkan adalah konten yang dibahas dan cara penyampaiannya..

Sangat menyedihkan melihat acara seperti ini lalu “menghadirkan” tema-tema perselingkuhan, pelacuran,dan kejahatan yang kemudian dibungkus dalam tema penuh kekerasan yang diperlihatkan lewat jambak-jambakan, tampar-tamparan, dan pukil-pukulan.. Yang lebih aneh lagi, di acara tersebut yang dibuat blur atau piksel malah muka pelakunya, bukan disensor perilaku kekerasannya.. Gua pribadi tahu ini menjual, tapi mengedarkannya pada waktu aktif anak-anak.. Harus dipertanyakan dan dipertimbangkan kembali..

Fenomena yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah semakin maraknya acara gosip a.k.a infotainment yang menyapa kita dari waktu ke waktu sepanjang hari.. Momok, sikap, tingkah laku, dan trend yang diperlihatkan oleh artis di sana, yang seharusnya menjadi kelompok “unsignificant person” bagi kita, melalu proses balajar, menjadi “significant person” untuk kita..

Apa yang dikatakan, dilakukan, disikapi, dan dipakai artis-artis itu menjadi standard bar bagi beberapa orang.. Apa yang dilakukan oleh artis menjadi tolok ukur mana kejadian “biasa” dan “luar biasa”..

Artis terang-terangan mengaku selingkuh?
Aktor senang memukul istrinya?
Aktor menikah sirih?
Artis berbusana seksi dan tidak pada tempatnya?
Artis dan Aktor bercerai?
Yahhhh..itu makanan pencinta gosip sehari-hari..

Lalu apa yang terjadi?
Informasi tentang hal-hal tersebut terus-menerus disuguhkan kepada masyarakat.. Masyarakat juga menerimanya tanpa cemoohan dan “menikmati”nya.. Akibatnya? Ya, semua hal itu menjadi biasa.. Menjadi tidak apa-apa untuk dilakukan.. Televisi telah membantu membentuk opini yang buruk pada kehidupan bermasyarakat melalu acara gosip mereka..
Semua hal tersbut menjadi sesuatu yang biasa.. Masyarakat jadi sakit..

Acara anak-anak pun tidak terbebas dari hal-hal yang menjijikkan seperti ini.. Gua pernah melihat salah satu iklan wafer keju yang menggunakan plot cerita “Pembantu yang Latah”.. Jadi di dalam iklan tersebut, yang memang iklan snack anak, si Pembantu tersebut bersikap seolah latah, dan menyebutkan merek snack tersebut berulang-ulang dengan gaya latah..

Menyedihkan, memuakkan, dan sangat tidak bijaksana.. Mengapa? Karena menurut penelitian, latah adalah kelainan yang “dipelajari”, bukan karena keturunan atau bawaan.. Memberikan stimulus tersebut pada anak-anak, berarti memberikan stimulus bagi anak untuk mempelajari latah tersebut.. Anak-anak terpapar pada kebiasaan buruk, tanpa mereka sadari.. Dan penjualan si produsen akan terus meningkat, karena bagi mereka, what matters are money and profit..😦

Tapi apakah kemudian acara-acara berita selalu menghasilkan efek yang bagus dan bermakna?
Juga tidak.. Gua mencatat beberapa kejadian, dimana saking semua stasiun televisi berusaha mengejar “keekslusifan” berita, mereka mengabaikan dampak yang dapat ditimbulkan dan etika dalam profesi jurnalistik itu sendiri..

Salah satu contoh yang paling tepat adalah ketika acara-acara berita televisi berusaha dengan sangat mengejar ekslusivitas berita pada kasus tersangka Bom Bali.. Para teroris ideologi ini kemudian diwawancara dan diberikan pertanyaan dan kesempatan memberikan pernyataan yang provokatif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.. Provokatif tidak hanya karena menyerang dan mengancam golongan masyarakat tertentu, tetapi juga memberikan kesempatan teroris itu menyebarkan ideologi mereka nationwide.. Sangat menyedihkan..😦 .. Atau mulai mengedarkan berita yang belum tentu benar, seperti pada kasus kematian “Noordin M Top” di rumah kecil di tengah sawah.. Masyarakat ikut terbuai pada saat itu ketika hampir semua televisi menyebarkan bahwa yang tewas adalah si Noordin, dan turnout ternyata bukan.. Jadi, bahkan berita televisi terkadang juga tidak mengindahkan fakta, dan menyebarkan spekulasi, untuk mengejar keekslusifan.. –”

Bagaimana seharusnya kita bersikap?
Saran saya, kurangi menonton televisi dengan acara-acara yang tidak mendidik. Dan jika anda punya anak, temani mereka.. Hindari menonton acara “reality show”, hindari menonton sinetron Indonesia yang memang tidak pernah berbobot. Selalu ingat bahwa televisi adalah media sekaligus badan usaha, sehingga tetap bagi mereka yang menguntungkan adalah yang benar.. Ingat juga bahwa televisi di negara ini juga dipegang oleh beberapa politikus, sehingga rentan untuk dimanfaatkan untuk menyebarkan opini publik..

Ingat selalu bahwa :
Yang Kamu Tonton, belum tentu Benar!!!

Lebih bijak lah dalam menonton televisi..
Lebih bijak lah dalam menyikapi kontennya..
Lebih selektif..
Dan himpun kekuatan untuk katakan “Tidak!!!” Pada acara2 tidak bermutu dan berguna..

πŸ™‚ selamat menonton..
Atau lebih bagus lagi, selamat tidak menonton..

PS : menurut saya pribadi, stasiun televisi dengan program2 yang mayoritas baik adalah Metro TV, TV ONE, dan DAAI TV.. Kalo yang lain…:)..harus siap pasang mata, pasang hati, dan pasang otak..
Saya rindu sinetron sekelas Si Doel Anak Sekolahan dan Keluarga Cemara..πŸ™‚

Sekali lagi, ini opini pribadi yak…
Cao..πŸ˜„


About this entry