Cursing Curse

Tersenyum..
Dan selalu tersenyum..
Itu yang Aku lakukan setiap kali melihat makhluk kecil yang menggemaskan ini..
Jemarinya yang mungil bergerak berusaha menggenggam sesuatu..
Dengan gerak bibir nya yang mungil mencibir seakan berharap disuap sesuatu..
Ia mengerang menggemaskan.. Mungkin ia hanya senang mendengarkan suaranya sendiri.. Dan aku kembali tersenyum..

Aku meraihnya dengan kedua tanganku, menahannya sebentar di udara, dan melihat wajahnya yang kecil itu..
Aku memeluknya di dada, membiarkan dia mendengarkan degup jantung ini.. Biarkan ia tahu bahwa aku hidup dan dia juga.. Supaya ia menyeiramakan detaknya dengan detakku, dan kami akan saling memiliki.. Aku mencium keningnya dengan lembut, tersenyum kembali..

“Aku akan memanggilmu, Jennifer Angeal.. Putriku..”
Bayi itu hanya terdiam.. Ia mungkin mengantuk.. Aku pernah membaca bahwa bayi memang menghabiskan banyak waktunya untuk tidur..
Aku tersenyum kembali dan mencium keningnya..
“Jennifer Angeal, aku Robert Lumberwhite…”

Siapa yang bilang bahwa memiliki anak bayi di rumah akan menjadi pengalaman yang menyenangkan.. Tidak terlupakan mungkin iya.. Melelahkan ? Sangat.. Bayi ini mungkin menyenangkan di saat tidurnya saja.. Selebihnya? Kacau.. Seperti Iblis yang turun ke bumi dan mencobai hidupku.. Bayi ini hanya menangis, makan, tidur, merengek, dan menangis lagi, makan, lalu tidur lagi..
Memang terkadang ia menjadi sangat lucu ketika aku memainkan cilukba.. Ia akan tertawa geli dengan getaran di tubuhnya yang imut.. Walaupun ia memang Iblis yang turun ke bumi, aku mencintai Jennifer lebih dari aku mencintai diriku sendiri.. Dan setiap malam, ketika aku memberikan susu botol padanya, aku akan membisikkan padanya, “Jennifer Angeal, aku, Robert Lumberwhite, ayahmu…”

Dan, aku memang berhasil bertahan melewati itu semua.. Dengan bantuan baby sitter terbaik yang bisa aku dapatkan, aku merawat Jennifer dengan kasih sayang terbaik yang bisa aku berikan.. Dan ia tumbuh menjadi anak perempuan yang cantik dan baik.. Tidak terasa, 5 tahun Jennifer bersama dengan aku.. Dan aku masih mengulang kalimat yang sama setiap kali ia akan tidur.. “Malam Jennifer Angeal, namaku Robert Lumberwhite, dan aku ayahmu..”
Dan anak manis ini sekarang jauh lebih cerdas jauh dari yang aku perkirakan.. Ia menjawabnya malam itu, “Malam Robert Lumberwhite, namaku Jennifer Angeal, dan aku anakmu..”..
Aku tertawa dengan keras malam itu.. Dan Jennifer juga.. Kami melewatkan malam indah itu dengan penuh canda.. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa perkembangannya sudah sejauh ini.. Aku pasti sudah melewatkan sesuatu.. Aku tersenyum..
Jennifer terlelap.. Dan aku memberikan ia ciuman kening yang dalam.. Seperti aku tidak akan melihatnya lagi..

Jennifer sudah cukup umur untuk menempuh pendidikan pertamanya.. Ia sudah berkembang menjadi anak yang sempurna menurut pandanganku.. Ia cerdas, Ia periang. Ia cantik, dan Ia anakku..
Hari pertamanya masuk TK mungkin menjadi hari yang paling menegangkan bagiku.. Aneh memang, Jennifer tampak menikmatinya, dan aku yang ketakutan setengah mati.. Ini akan jadi pengalaman pertama anakku ke lingkungan luar.. Ini akan jadi pengalaman pertama anakku berteman dengan anak-anak seusianya, bukan dengan baby sitter yang aku sediakan di rumah.. Ini akan jadi pengalaman pertama anakku melihat bagaimana seharusnya dunia bekerja.. Ini akan jadi pengalaman pertama anakku “hidup”.. Dan aku ketakutan..
Tapi hal ini memang tidak bisa dicegah atau ditunda.. Aku tidak mau mengekang anakku hanya karena aku ketakutan.. Memang aku over-protective padanya, yang membuat ia lebih sering berada di rumah.. Tapi semata-mata untuk melindunginya, tidak lebih..

Pagi ini, Jennifer tampil lebih cantik daripada biasanya.. Ia mengenakan pita pink yang cantik di kepalanya, rambut panjangnya terurai lembut, ia tersenyum.. Ia mengenakan pakaian yang aku jadikan hadiah ulang tahunnya bulan lalu, dan tas bercorak Dora bergantung di punggungnya.. Ia sudah siap..

“Ayah..aku sudah siap..”
“Ayo..kita berangkat..”
Aku menggenggam tangannya dengan lembut, melewati pintu rumah yang menjadi pembatas dunia luar dengan dirinya.. Aku membukakan pintu mobil untuknya, dan ia segera memanjat dan duduk dengan penuh semangat.. Ia tersenyum dengan lebar.. Selama perjalanan ke sekolahnya, ia tidak pernah tidak tersenyum, dan nyanyian yang pernah aku ajarkan waktu kecil, ia nyanyikan dengan riang.. Aku menemaninya.. Hingga tiba di sekolah..

Aku memberikan wejangan sebagai ayah untuknya.. Memberikan nasehat untuk apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan di sekolah.. Dan ia mengangguk mengerti.. Aku mencium keningnya dengan lembut.. Dan Jennifer keluar mobil dan berlari kencang ke sekolah dengan senyum yang masih merekah.. Aku hanya melihatnya menghilang dari kejauhan..

Dan..

Jennifer pulang ke rumah dengan oleh-oleh kecil.. Sebuah luka lecet menganga di lututnya.. Dan aku panik setengah mati.. Ini yang aku takutkan.. Ini yang aku takutkan akan terjadi.. Aku takut dan aku panik.. Aku takut luka ini akan menimbulkan infeksi.. Dan malam itu juga, setelah aku tiba di rumah sepulang kerja, aku membawanya ke rumah sakit untuk memastikan ia baik-baik saja.. Dan malam itu, Jennifer melihat sisi lain diriku.. Aku memarahi baby sitter yang menjemputnya dari sekolah, karena tidak langsung membawanya ke rumah sakit ketika menemukan luka lecet di lutut nya itu.. Aku sangat marah..

Dan bertahun berlalu, Jennifer sudah di elementary sekarang.. Ia kelas 2, dan aku memasukkanya ke salah satu sekolah Internasional..

Selama proses itu, Jennifer berkembang menjadi anak yang kritis..

Ia berkali-kali bertanya kenapa ia tidak memiliki ibu.. Ia berkali-kali meminta aku untuk memperlihatkan foto perkawinan.. Ia berkali-kali juga bertanya tentang bagaimana ia lahir.. Dan aku tidak pernah menjawab semuanya.. Dan aku tahu kapan Jennifer marah..
Ketika malam aku mencium keningnya dan mengulang kalimat sama, “Malam Jennifer Angeal, aku Robert Lumberwhite, ayahmu..”.. Dan jennifer, ia diam, ia tidak akan menjawab.. Ia akan bersikap seakan aku tak ada..
Aku tahu ia marah.. Hanya saja aku memang belum menemukan cara untuk menjelaskannya.. Aku.. Aku.. Bingung..

Kelas 2 SD dan Jennifer tidak bisa diremehkan lagi.. Malam itu, dia kembali mempertanyakan semua hal yang pernah ia pertanyakan dan tak pernah aku jawab.. Dan aku tahu bahwa aku harus menjawab semuanya agar ia mengerti dan tidak terus bertanya.. Aku tidak tahu apakah ini waktu yang tepat memberi tahunya.. Tapi, aku sudah berusaha menjadi ayah yang terbaik.. Aku menyerah.. Jennifer berhak mengetahui segalanya..

Aku malam itu duduk berdua dengan Jennifer, di atas ranjangnya, dan berusaha menjelaskan semuanya.. Jennifer tampak senang karena ia akan memperoleh kejelasan.. Aku tidak tahu apa ia akan mengerti atau tidak.. Tapi aku akan coba menjelaskannya.. Jennifer duduk diam..

“Jennifer Angeal, aku Robert Lumberwhite, dan aku ayah angkatmu.. Nama ayahmu adalah James Angeal Savior dan Ibumu adalah Jennifer Hall.. Mereka sudah tidak ada.. Mereka sudah bersama Tuhan di surga.. Dan aku mengadopsimu sejak kecil.. Oleh karena itu kau tidak punya ibu.. Karena aku satu-satunya yang kau punya…”

Aku berharap reaksi keterkejutan dari Jennifer.. Tapi kelihatannya aku salah memprediksi.. Jennifer seperti menerima segalanya dengan tenang.. Ia hanya tersenyum, dan menjawab.. “Kau tetap ayahku dan aku mencintaimu..”.. Aku tersenyum lebar, “Terima kasih dan aku juga mencintaimu Jennifer..” Aku mencium keningnya dengan lembut dan ia memelukku dengan hangat..

Aku melepas ciuman ku dan ia melepaskan pelukannya.. Sepertinya masalah ini sudah berlalu, pikirku.. Jennifer tersenyum kembali.. Aku tidak menyangka bahwa anak ini benar-benar “dewasa”.. Ia bahkan tidak menangis sekalipun..

“Tidurlah…”, aku memintanya..
“Kau besok pagi harus sekolah..”..
Jennifer hanya tersenyum, dan mengangguk.. Ia menggerakkan selimutnya dan bersiap tidur..

Dan ketika aku hendak mengucapkan kalimat penutupku malam itu dan mencium keningnya..
Ia menggenggam tanganku, dan bertanya, “Kenapa mereka mati?”
Aku terperanjat..
Berusaha mencari kata yang terbaik yang bisa aku berikan untuk menjawab pertanyaan itu..
“Mereka sakit..”
“Ooooo…”, ia menjawab.. Dan bertanya kembali, “Sakit apa?”
Aku hanya terdiam..
Terdiam..
“Penyakit langka.. Sulit disembuhkan..”
“Ooooo..penyakit apa yah?”
“Berjanjilah setelah aku menjawab ini, kau akan tidur..”, aku berbalik meminta..
“Tentu..”, Jennifer tersenyum kembali..
“Mereka terkena Acquired Immune Deficiency Syndrome…. Sudah puas?”
“Kedengarannya keren..”

Aku hanya terdiam..
“Malam Jennifer Angeal, aku Robert Lumberwhite, ayahmu..”
“Malam Robert Lumberwhite, aku Jennifer Angeal, anakmu..”

Dan aku tidak mencium keningnya malam itu..
Aku memeluknya dengan erat
Seerat yang aku bisa..
Dan air mata ini jatuh perlahan..

Jennifer Angeal bukan terlalu dewasa untuk menerima..
Jennifer Angeal terlalu kecil untuk mengerti..

P.S. : Celebrating The World HIV / AIDS day on 1st December.. Staying alive..🙂


About this entry