Manusia secara Konsisten Meribetkan Hidupnya Sendiri

Saya pernah membaca, atau menonton, entahlah, saya lupa, bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan sebuah “lubang” di jiwanya, sehingga ia tidak pernah merasa utuh.. Oleh karena itu, setiap manusia akan mati-matian berjuang mencari apa saja, melakukan apa saja, membeli apa saja, sebagai kompensasi probabilitas bahwa mungkin hal tersebut yang akan menjadi “penutup” lubang di jiwa mereka tersebut.. Dan oleh karena “lubang” tersebut, manusia menjadi makhluk yang dinamis, selalu memperbaharui cara-cara dan pemikiran untuk “memudahkan” memperbesar probabilitas lubang tersebut akan tertutup, dan manusia akan menjadi utuh kembali..

Hal yang persis sama kemudian dikemukakan di dalam Ilmu Ekonomi, yang terang-terangan menyatakan bahwa manusia sesungguhnya memiliki kebutuhan yang tidak terbatas.. Ya benar, kebutuhan manusia itu tidak terbatas, dan tidak akan dapat terpenuhi, seperti layaknya apa yang saya kemukakan tentang cerita sebelumnya.. Bahwa manusia menjadi dinamis, begerak, berusaha, mencipta, mengembangkan, menemukan, menghancurkan, memusnahkan, menyulap dan apa saja yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang jelas-jelas tidak terbatas dan tak mungkin terpenuhi ini.. Manusia menjadi budak bagi dirinya sendiri..

Dan dalam perjuangan tanpa akhir untuk mencari “penutup” lubangnya ini, manusia bergerak “bertumbuh” dan “berkembang” secara konsisten untuk menciptakan, menemukan, dan menghancurkan apapun untuk mendapatkan sesuatu yang dia pikir, akan mempermudah hidupnya.. Maka dimulailah perjalanan manusia untuk meribetkan hidupnya sendiri, lalu dirasionalisasikan manusia sebagai “bertumbuh dan berkembang”..

Ketika manusia tercipta, ia memiliki segalanya di alam, dan alam menyediakan segalanya baginya, S.E.M.U.A.N.Y.A.. (Food Gathering). Lalu dimulailah peribetan itu.. Manusia perlahan tidak puas, lalu mulai mencoba memproduksi makananya sendiri, ia menanam dan berkebun (food producing). Tidak puas, ia kemudian menukarkan hasil produksinya dengan hasil produksi orang lain.. Tidak puas dengan pertukaran, lalu mereka menetapkan sistem pembayaran dengan uang.. Sistem uang kemudian menghasilkan sistem sosial vertikal, pemberi uang dan penerima uang.. Lalu menciptakan jenjang “yang punya banyak uang” dan “yang punya sedikit uang” = kaya dan miskin.. Kaya dan miskin menghasilkan sistem sosial tinggi dan rendah.. Sistem sosial tinggi rendah lalu membuat rasa tidak puas manusia lebih menggila, peribetan menjadi tak terbendung.. Pekerjaan lalu muncul, dan lahir usaha-usaha untuk mengejar status sosial lebih tinggi untuk lebih dihormati.. Pekerjaan ternyata tak cukup buruk, dengan dilandaskan ketidakpuasan, sistem produksi sederhana ditebang oleh sistem berbasis revolusi industri.. Revolusi Industri memulai peribetan tanpa akhir, dia menciptakan mesin, senjata api, kendaraan, apapun yang dianggap dapat “membantu” manusia.. Mesin menghasilkan kendaraan, kendaraan menghasilkan sumber kebutuhan baru, sumber kebutuhan baru menghasilkan usaha manusia yang baru menyelesaikan peribetan tersebut.. Semua itu tumbuh seperti sekarang, dimana kemudian teknologi berkembang pesat dengan dalih “menolong” manusia, tapi dalam perspektif saya secara pribadi, “meribetkan” kehidupan manusia..

Apa yang sebenarnya manusia cari ? Karena secara tidak sadar, apa yang mereka perbuat dan ciptakan justru menjauhkan mereka dari menemukan “penutup” lubang di jiwa yang selama ini mereka cari.. Karena sebenarnya manusia sekarang hidup untuk menguraikan tali kusut sistem yang dibentuknya sendiri, dan lupa apa yang ada di bawah tali kusut tersebut..

Manusia sesungguhnya diciptakan berkecukupan karena alam menyediakan semuanya untuk mereka.. Ya, mungkin bagi sebagian dari kalian akan berbicara, “Manusia itu makhluk akal budi dan pemikir, jadi pantas baginya untuk terus mengembangkan diri”.. Menurut saya itu omong kosong rasional di bibir.. Manusia itu memang berakal budi dan memang pemikir, saya tidak akan menyangkal itu.. Tapi manusia punya kekuatan yang sama untuk berpikir dan bertindak menerima bahwa “penutup” lubang di jiwa itu tak akan pernah ditemukan, dan sudah saatnya tidak terjebak dalam pusaran tali kusut penuh jejak-jejak pencarian yang sesat entah kemana..

Lalu kemudian pantaskah manusia dikatakan berkembang dan berumbuh ? Entahlah, menurut saya belum pada saat yang tepat untuk mengatakan demikian.. Karena sejak manusia memulai meribetkan dirinya sendiri, dan menjauh dari alam yang memberikan apapun padanya, manusia memundurkan diri secara perlahan dan konsisten..

Peribetan hidup manusia akan terus terjadi, eksploitasi ini itu, politik, sistem-sistem yang dibangun manusia sendiri, tuntutan pekerjaan yang makin aduhai syaratnya, perhiasan, perjuangan naik kelas sosial, teknologi, internet sana sini, apalah..semacam benang kusut yang entah bagaimana mengurainya karena ujung talinya lenyap tak berbekas..

Kalo memang “penutup” itu bisa dicapai dengan peribetan hidup sendiri, pengalaman hidup berevolusi selama jutaan tahun seharusnya mengajarkan kita bahwa kita semakin jauh..

Jangan lupa, Dharwin menetapkan manusia dalam kingdom Animalia, kita ini binatang, satu spesies Homo Sapiens, kera yang berdiri tegak dan berpikir.. Kalo memang bisa berpikir, hentikan peribetan ini, dan kembali ke alam yang menyediakan semuanya.. Terima bahwa “penutup” hilangnya bagian jiwa itu tidak akan tercapai dengan apapun juga, bahwa kebutuhan itu tidak terbatas, dan mulailah berhenti berjuanga membatasi apa yang tidak terbatas..

Apa yang tidak terbatas hanya bisa dikalahkan dengan satu kata, “CUKUP!”..


About this entry