This is How God Existed..

How is God existed?

Berdebat soal Tuhan bisa menjadi pembicaraan yang tidak ada habisnya dan sulit untuk menemukan titik temu antar berbagai sudut pandang yang berbeda.. Ya, itulah Tuhan, tak terlihat, tak tercium, tak teraba, tak terdengar, namun dipuja dan dijadikan sandaran hidup yang mumpuni, dijadikan tempat meminta, dijadikan tempat menumpahkan sampah, tetapi juga dijadikan tempat penuh pengharapan..

Pertanyaan yang pasti pernah tercetus di pikiran setiap manusia, bahkan yang mengaku bergama sekalipun, adalah APAKAH TUHAN ITU BENAR ADA? Pertanyaan klasik yang sampai sini cara mengetahuinya hanya dengan mati dan mengecek sendiri.. J masalahnya ya belum ada yang pernah balik dari kematian secara langsung dan memberikan kepastian serta jawaban yang mumpuni tentang keberadaan Tuhan yang sebenarnya.. Jawaban “curang” lainnya atas pertanyaan ini adalah dengan IMAN, sebuah jawaban yang lagi-lagi tak tersentuh panca indera, namun diyakini ada, dan salah satu jawaban terbaik menuju ke Tuhan.. Well, saya sendiri pribadi meyakini bahwa kekuatan terbesar bernama Tuhan itu memang ada.. Saya tidak akan mulai berdebat dengan masalah keberadaan Tuhan, karena kalau pembaca tidak percaya, you can die and see it for yourself.. Muakakakakaka..

Mari kita berbicara tentang sesuatu yang bahkan agama tak pernah mengajarkan dan menjelaskannya..
Mari membicarakan Tuhan dari sudut yang tak mungkin tersentuh ilmu pengetahuan..
Mari membicarakan masalah yang bahkan iman tak mampu menjawabnya..
Mari bicarakan BAGAIMANA TUHAN TERCIPTA..

Sebagai orang yang pernah mengeyam agama Katolik, saya memahami bahwa agama tersebut tidak pernah menjelaskan bagaimana Tuhan tercipta.. Bab awal Alkitab menceritakan langsung tentang penciptaan langit dan bumi, dengan posisi bahwa Tuhan sudah ada di sana dan tiba-tiba “memutuskan” bertindak tanpa pernah dipahami dinamika psikologi yang mendasari pemilihan keputusannya itu.. Tapi sekali lagi, seperti kerbau pembajak, kita harus menurut dengan IMAN.. Dan saya kira hal yang sama juga berlaku untuk hampir semua agama di dunia, bahwa eksistensi Tuhan tidak pernah diceritakan pada awalnya, dan semua bermulai pada kisah penciptaan langit dan bumi..

Oleh karena itu, biarkan pemikiran psikotik saya yang mengambi alih..

Tuhan itu adalah Prima Causa, penyebab pertama, akar dari segala hukum sebab akibat, sumber dari segalanya.. Saya setuju dengan semua hal itu, kecuali pada poin “Tuhan adalah akar dari segala hukum sebab akibat”.. Saya percaya bahwa Tuhan sendiri adalah akibat yang pertama, namun bukan penyebab yang pertama segala sesuatunya.. Tuhan adalah akibat pertama yang kemudian menghasilkan sebab dan akibat lainnya, termasuk alam semesta beserta isinya.. Bagaimana menjelaskannya? Saya akan berusaha..

Saya secara pribadi percaya bahwa segala sesuatunya di dunia ini diciptakan berdasarkan pada prinsip keseimbangan.. Dan keseimbanganlah yang kemudian membuat kehidupan di dunia menjadi terus bergerak dan dinamis, hingga titik keseimbangan yang sempurna terjadi.. Hal ini pernah saya tuliskan di post blog saya yang terdahulu, saya tidak menjelaskannya lagi.. Nah, saya percaya bahwa Tuhan sendiri, bahkan proses eksistensinya, tidak terlepas dari hukum keseimbangan ini.. Bahwa hukum keseimbangan sudah ada sejak sebelum apapun ada, termasuk Tuhan.. Dan bagaimana Tuhan dapat ada?

Di masa sebelum Tuhan ada, selalu diceritakan bahwa tidak ada apa-apa, kehampaan dan kekosongan semata.. hampa dan kosong yang tidak terukur, tidak tergapai, tidak terdefinsikan. Kosong dan hampa.. Tidak ada langit gelap, tidak antariksa yang gelap, tidak ada bintang, bahkan tidak ada apapun.. Seperti halnya sebuah kertas kosong yang tidak berbatas dan tidak berujung, kira-kira seperti itulah masa sebelum Tuhan..
Kehampaan dan kekosongan sendiri sebenarnya adalah keadaan “Ada” yang pertama, bahwa kehampaan dan kekosongan memiiki “eksistensi”nya sendiri.. Bahwa Kehampaan dan kekosongan itu sendiri merupakan sebuah “keadaan”, bahwa mereka memiliki “ciri dan karakternya”, dan oleh karena itu mereka tetap memiliki energi.. Kekosongan dan kehampaan pada masa sebelum ada Tuhan secara “aktif” memiliki energinya sendiri..

Hukum Keseimbangan sendiri bekerja sejak awal kehampaan dan kekosongan itu “ada”, bahwa energi yang terkumpul dan menetap memiliki kecenderungan untuk bergerak pada titik keseimbangan, karena sejatinya apapun yang “ada” akan “meng-ada-kan” hal lain untuk mencapai suatu titik keseimbangan yang sama dan sempurna.. Begitu juga dengan kehampaan dan kekosongan ini..

Energi pada kehampaan dan kekosongan ini mulai bergerak menuju titik keseimbangannya.. Untuk dapat seimbang, kehampaan dan kekosongan harus menciptakan kondisi yang sama beratnya dengannya dan mempertahankan hal tersebut.. Maka energi itu perlahan namun pasti menghasilkan kondisi Keberadaan dan Kepadatan.. Energi-energi yang begitu besar pada kehampaan dan kekosongan mengalir dan membagi hampir sama besar dengan kondisi baru bernama Keberadaan dan Kepadatan.. Dan pada permulaan Keberadaan dan Kepadatan, sosok energi pertama yang terbagi adalah apa yang kita kenal dengan Tuhan.. Tuhan sebagai energi yang muncul dari kehampaan dan kekosongan memiliki energi yang hampir sama besarnya, dan karenanya ia berwenang untuk menyeimbangkan dan menyalurkan energi dari kehampaan dan kekosongan.. Tuhan menjadikannya alam semesta, menjadikannya bintang, planet, dan segala isinya, untuk mempertahankan keseimbangan dengan kehampaan dan kekosongan.. Di dalam massa yang setiap jengkal Tuhan jadikan, keseimbangan itu diciptakan.. Dalam setiap molekul Keberadaan dan Kepadatan, ada jarak di antaranya yang hampa dan kosong.. Maka keseimbangan hampir mendekati kesempurnaan, interaksi antara kehampaan dan keberadaan, kekosongan dan kepadatan menghasilkan gerakan dinamis yang membuat keduanya terus berkembang dan “hidup”..

Dan karenanya juga Tuhan tetap menjalankan perannya untuk menjaga keseimbangan di segala sesuatu yang “ada” melalui energi besar yang dimilikinya..

Saya kurang tahu apakah Tuhan itu sosok seperti manusia seperti yang diajarkan oleh agama-agama atau mitologi-mitologi dahulu, dengan tangan kaki mulut dan beraktivitas, atau hanya sekumpulan energi besar yang menjaga segala sesuatunya pada koridor keseimbangan.. Persepsi anda itu terserah pada anda, karena apapun pandangan anda, tidak ada yang bisa menyangkal bahwa “Tuhan” dalam bentuk apapun memang ada dan seharusnya ada..

^^

Blog ini ditulis dalam keterbatasan manusia dalam berpikir dan menalar, dalam keterbatasan pencapaian spiritual yang tidak mutlak, dan dalam ranah opini pribadi dalam memandang segala sesuatunya.. dan menurut saya pribadi, beginilah awal Tuhan “ada”..

Dia bukan Sebab yang pertama, dia adalah Akibat yang pertama yang kemudian menyebabkan segala sesuatunya yang kita kenal..


About this entry