Dorothy

Beberapa orang mungkin mengerti..
Beberapa di antaranya mungkin mengerti..
Sebagian besar akan mengatakan kalau aku gila..
Tapi sebagian orang lainnya, yang sepertiku, akan mengatakan ini cinta..
Ini obsesi..
Dan ini nyata..
Dan aku perkenalkan padamu..
Mainan yang aku cinta dan simpan sejak aku kelas 2 SD hingga aku berumur 38 tahun sekarang ini..
Sebuah mainan mobil plastik kecil, namanya Dorothy..

Aku memang sudah tidak pernah lagi memainkan Dorothy sejak aku kelas 1 SMA, tapi mainan ini selalu aku simpan dengan rapi dan kubersihkan secara berkala.. Tidak akan ada satu butir debu pun yang akan mengotorinya, karena aku menyimpannya di dalam sebuah kotak kaca yang pas dengan ukuran Dorothy.. Aku akan menyimpannya, memajangnya di meja biasa tempat aku duduk, dan mengeluarkannya dari kaca sebulan sekali hanya untuk memolesnya hingga bersih mengkilat..

Dorothy bukan sebuah mobil edisi terbatas yang harganya mahal luar biasa.. Dorothy bukan sebuah mobil yang diciptakan untuk kolektor-kolektor gila yang rela menghabiskan uang jutaan rupiah untuk mainan yang tidak berguna.. Dorothy hanya sebuah Dorothy.. Dorothy adalah sebuah mobil plastik kecil, yang tidak lebih besar dari telapak tangan orang dewasa.. Warnanya biru muda, dengan sedikit bagian terkelupas di sana sini, dengan stiker nomor di pintunya bertuliskan “8”.. Dengan bentuk seperti mobil balap yang kencang, Dorothy punya mata yang indah dan tegas, dan bagian belakang yang ramping mempertegas kesan itu.. Dorothy tidak memiliki detail yang jelas menyerupai mobil yang sesungguhnya.. Bagian interiornya dibuat dengan sangat sederhana, kalau tidak mau dikatakan asal-asalan.. Tetapi Dorothy tetap menjadi bagian hidupku yang istimewa..

Aku selalu menyimpan Dorothy di tempat yang kira-kira dapat aku lihat dengan jelas setiap aku memalingkan mataku ke arah-arah tertentu.. Dan setiap kali melihat Dorothy berada di sana, diam, membuatku jauh lebih tenang dan nyaman, bahkan terkadang membuatku melupakan semua masalahku sejenak.. Dorothy adalah apa yang aku butuhkan di dalam hidup…

Menemani ku selama kurang lebih 30 tahun, Dorothy menjadi satu-satunya saksi perjalanan hidupku yang masih setia.. Ya walaupun Dorothy tidak berbicara atau membisikkan kata-kata penyemangat, tapi kehadirannya saja memberikan banyak arti.. Dan lihat aku sekarang, aku menjadi apa yang lingkunganku anggap sebagai “Sukses”.. Aku mendapatkan pekerjaan yang bagus, rumah yang cukup indah, kendaraan, dan beberapa pekerja.. Dan tentu sebuah rak yang lebih bagus, dibuat dari kayu mahoni terbaik, untuk meletakkan Dorothy.. Diletakkan di sebelah kiri televisi ku, tepat di depan tempat tidurku, sehigga Dorothy akan menjadi hal pertama yang aku lihat ketika aku bangun dari tempat tidur.. Dan ritual seperti ini, entah bagaimana, selalu membuat hariku jauh lebih cerah..

Obsesiku terhadap Dorothy bukanlah sebuah perjalanan yang menyenangkan.. Bagi beberapa orang, kecintaan ku yang mendalam terhadap Dorothy seperti cinta seorang psikopat pada darah atau remaja, kalau tidak mau secara kasar dikategorikan sebagai GILA.. Mereka melihatnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.. Tidak bisa diterima hati atau akal.. Sebuah cinta yang tidak berbalas, dan tidak akan berbalas.. Aku terkadang hanya terdiam, dan tidak mengindahkannya.. Mereka hanya tidak mengerti bagaimana nyatanya perasaanku pada mobil plastik mainan bernama Dorothy ini.. Mereka tidak tahu bahwa cinta ini sungguh berbalas, bahwa kehadiran Dorothy di setiap kesulitan dan halangan yang aku hadapi sudah merupakan suatu pembuktian yang tidak memerlukan jawaban atau kata.. Aku mencintai Dorothy, dan tidak akan berubah.. Aku adalah Dorothy, dan Dorothy adalah aku..

Ketika aku kelas 4 SD, ketika Dorothy masih terlihat seperti mainan baru, aku membawanya ke sekolah untuk sebuah tugas presentasi pelajaran bahasa Inggris yang waktu itu memilih tema, “Mainan favorit”.. Aku memperkenalkan Dorothy seperti memperkenalkan seorang teman dekat, seperti memperkenalkan kakak ku sendiri, seperti memperkenalkan seorang ibu.. Sepanjang presentasi hari itu, aku selalu tersenyum, mungkin senyum terlebar yang pernah kuberikan pada siapapun, sembari memperlihatkan Dorothy kepada semua orang di kelas.. Dan cacat pertama yang dialami Dorothy terjadi, seorang anak laki-laki bernama Allen berusaha menggapai dan meminjam Dorothy, aku mendorongnya menjauh.. DOROTHY BUKAN UNTUK DIPINJAMKAN!!!. Allen tetap memaksa, dan aku mendorongnya semakin kuat.. Mr. Lightwy, guru kami, berusaha berada di tengah dan melerai kami.. Tapi usahanya membuat segala sesuatunya menjadi lebih buruk.. Ketika ia mendorong badanku untuk menjauh dr Allen, ia menyenggol Dorothy, dan membuatnya terjatuh ke lantai dengan keras, meninggalkan sebuat bekas cacat di sana.. Terlepas dia sengaja atau tidak, aku tidak mampu menyembunyikan kesedihan ku, mukaku mengeras, aku merasakan isak yang tidak bisa aku lepaskan.. Dalam waktu sepersekian detik, perasaan itu berubah menjadi bom atom yang tidak dapat aku kendalikan, dan tanganku yang terkepal ini mendarat di wajah Mr. Lightwy telak.. Dan aku tersenyum, menarik napas dengan tenang..

Dan keesokan harinya kakek ku dipanggil ke sekolah untuk menjelaskan perilaku ini.. Dan seperti yang sudah aku tebak, kakekku memarahiku habis-habisan malam itu, dan aku duduk di kursi memegang dengan erat Dorothy.. Hanya Dorothy yang mengerti aku saat ini.. dan akan terus begitu..

Aku masih ingat ketika aku berada di tingkat I SMA, kakek meninggalkan aku selama-lamanya.. Ketika aku melihat jasad tuanya, menghadiri pemakaman, dan mengucapkan kata terakhirku padanya, aku tidak meneteskan satu butir air mata pun.. Aku begitu kuat, aku begitu tabah, aku terlihat seperti kehilangan sisi kemanusiaan ku.. Dan ketika aku sendiri, di rumah besar ini, yang kakek wariskan kepadaku ini, aku selalu tak berani memandang Dorothy yang aku letakkan di atas kamarku.. Aku takut Dorothy melihatku sebagai orang yang lemah.. Tapi Dorothy sangat mengerti aku, memanggilku dengan suara lembut, dan memintaku duduk di sampingnya.. Aku menangis sesungukkan tak berhenti dengan menggenggam keras Dorothy.. Aku juga merasakan betapa mengertinya Dorothy akan kondisi ku saat ini, karena Dorothy juga menggenggam keras tanganku seolah menenangkan aku.. Dan aku tertidur dengan ditemani Dorothy, hanya Dorothy..

Aku memutuskan untuk berhenti sekolah sepeninggal kakek.. Aku tidak punya siapapun di dunia ini selain kakekku, dan tentu saja Dorothy.. Aku juga sebenarnya tidak terlalu menyukai sekolah, karena orang-orang di sana akan memandangiku dengan jijik seolah aku ini penyakit parah yang menular.. Apa salahnya dengan membawa Dorothy ke sekolah? Apa salahnya mengajak teman terbaikmu pergi? Aku tidak pernah mengerti apa yang orang lain pikirkan, mereka begitu aneh.. Yang normal hanya aku dan Dorothy.. Aku akan membuat orang lain mengerti.. Dorothy memberikan aku ide untuk membagi perasaanku bersamanya kepada orang lain.. Dengan warisan kakek, aku mulai membangun usaha mainan kayu dan berkembang hingga sekarang.. Setidaknya aku memiliki segalanya di saat aku berumur 38 tahun, dan Dorothy masih tetap bersama ku hingga saat ini, tak pernah sekali pun mengeluh atau mengecewakan.. Ia akan ada di sana menunggu setiap kali aku pulang, mengucapkan salam setiap kali aku bangun dan pergi tidur.. Dorothy bukan hanya sebuah mainan mobil biasa.. Dia adalah dunia..

Dan hari ini adalah hari aku akan membersihkannya.. Aku mengeluarkannya dari kotak kaca dengan perlahan.. Aku menatapnya dekat-dekat, memberikannya sedikit ciuman.. Lalu mulai membasuhkan kain lap lembut ke seluruh tubuhnya, melakukannya dengan penuh cinta.. Perlahan-lahan , hanya untuk memastikan tidak ada debu yang menempel pada dirinya.. Perlahan..
Tapi ternyata kain lap ini terlalu licin..
Dorothy terlepas dari genggaman lembutku..
Jatuh..
Dan menghantam tanah..
Hancur dan pecah berkeping-keping..
Dan aku terdiam di sana..
Menunggu sesuatu..
Dorothy tidak akan kembali..
Lagi..

Aku tak memikirkan apapun.. Aku mengambil sapu, menyapu kepingnya, dan meletakkannya di dalam sebuah kotak indah.. Aku menguburnya di halaman depan rumah..

Aku masuk ke dalam rumah..melihat menerawang, memperhatikan posisi dimana Dorothy biasa berada.. Memandanginya..
Aku kemudian berdiri di atas sebuah kursi, mengambil sebuah tali yang sudah aku siapkan tadi, mengikatnya di atas kayu atap kamar.. mengeceknya, lalu melilitkannya di leherku..
Dengan mata yang masih melihat posisi dimana biasa Dorothy menungguku, aku menendang kursinya..
Dan seperti sebuah cekikan luar biasa di leher, aku bersusah payah mengambil napas..

Sekelumit ingatan tiba-tiba muncul..

Samar-samar aku melihat sesosok wanita kurus yang terbaring lemas di atas sebuah tempat tidur reyot, menggenggam tanganku yang masih kecil.. Dia membelainya sambil terbatuk, dan tersenyum padaku.. Aku merasakan wanita ini sedang berjuang menghadapi sakit yang luar biasa, karena tubuhnya memperlihatkan hal itu.. Ia berusaha dengan keras menggenggam tanganku, “Nak….”, ia tersenyum kembali.. “Ibu punya hadiah untukmu.. Dia akan menemanimu ketika Ibu tidak ada, percayalah padanya… Namanya Dorothy, seperti nama ibu…”.. Dan aku melihat dengan jelas mainan itu, sebuah mobil dengan angka “8”..


About this entry