Waktu Aku Makan Gorengan..

Bagaimana rasanya gorengan tahu waktu keluar dari wajan panas merah?
Ketika diangkat segera, dalam waktu tak lebih dari 2 menit dari matang coklatnya, disuguhkan dalam piring kaca, berminyak melepuh dan renyah..

Ketika bibir menyentuh sedikit saja permukaannya, seperti menyentuh bibir wanita yang ranum sempurna. Gigitan pertama kalinya, seperti memerawankan kembang desa yang bahkan belum genap dewasa.. Gorengan tahu memang makanan paling abadi yang tak terkalahkan..

Aku sering menceritakan ini kepada orang-orang, bahwa kecintaanku pada gorengan tahu sudah dimulai sebelum Tuhan ada.. Namun tak ada yang percaya, semua menertawakan.. Aku dianggapnya aneh.. Namun, kalau mereka bisa berbicara dengan Tuhan, mereka akan terdiam.. Karena apa yang aku ceritakan adalah benar apa adanya.. Bahkan aku pertama kali mencintai gorengan tahu saat Tuhan, temanku, memutuskan menciptakan dunia dan isinya..

Bagaimana aku bisa lupa sungguh.. Karena ingatan-ingatan itu seperti terpahat jelas di pikiranku, membentuk guratan-guratan jelas yang tidak terbantahkan..

Aku bersama Tuhan waktu itu, bercakap dalam apa yang kukatakan kekosongan.. Hanya kami berdua, sahabat, teman dekat, seperti saudara.. Kami bercengkerama tak pernah lelah, karena bahkan waktu sendiri belum ada..

Dari kegembiraan dan keakraban, aku mengambil sari dari kekosongan, dan meminta Tuhan, sahabatku, menciptakan darinya makanan yang paling enak yang belum pernah ada, yang ada, dan yang akan ada.. Maka ditiupkan-Nya sedikit nafas pada kekosongan yang kuambil, dan jadilah gorengan tahu panas dan berminyak, yang bahkan saat itu tak bernama apapun.. Sentuhan bibir pertama seperti hendak memiliki sahabat lain selain Tuhan, dan aku jatuh cinta pada gorengan tahu..

Aku berterima kasih pada Tuhan, sahabatku, karena dari yang tidak ada, dia meng-ada-kan yang terbaik.. Dan sejak itu, aku tidak pernah lepas dari gorengan tahu..

“Percayalah padaku, aku benar-benar mengalami itu semua.. Aku abadi, aku adalah sahabat pertama Tuhan, dan gorengan tahu adalah makanan surga..”, ucap ku.. Entah sudah berapa kali kalimat itu keluar jelas dari mulut ku, namun tak pernah ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang serius.. Beberapa hanya akan tersenyum tanpa komentar lalu memintaku melakukan hal lain.. Yang lainnya hanya akan tertawa keras dan memberikan pandangan lihat-si-bodoh-ini-sedang-meracau kepada ku.. Bagaimana cara meyakinkan mereka? Bahwa makanan ini yang akan membawa mereka ke alam bersama Tuhan nantinya.. Ini adalah makanan penuh keselamatan dan perjanjian ku dengan sahabatku, ini gorengan tahu..

Tapi Tuhan sendiri memang sedang marah padaku..

Aku ingat, ketika gorengan tahu menjadi makanan yang aku cinta dan puja, Tuhan menjadi sangat murka padaku.. Ia berteriak padaku, bahwa aku bukan sahabat yang baik baginya, bahwa ia kecewa aku lebih memilih ggrengan tahu daripada menghabiskan waktu dengannya.. Aku hanya terdiam saat itu, lebih banyak berpikir tentang tuduhan-tuduhan paranoid dan tidak masuk akal yang keluar dari mulut-Nya.. Aku tahu aku sama sekali tidak bersalah, Tuhan lah yang berprasangka buruk pada ku.. Ku katakan pada pada-Nya bahwa persahabatan ini berakhir, bahwa betapa kekanak-kanakkannya dia untuk menyamaratakan persahabatanku dengan cinta ku pada gorengan tahu, makanan yang dipuja malaikat dari tujuh sisi arah..

Aku tak pernah menceritakan ini pada orang lain, tapi bisa kah kau menyimpan rahasia? Aku percaya kau bisa.. Sebenarnya…

Waktu itu aku membentak Tuhan dan menyerang-Nya.. Kukatakan pada-Nya untuk menciptakan saja boneka-boneka bergerak dan hidup unuk menjadi sahabat-Nya.. Yang kuanggap persahabatan yang “kosong”, yang akan memuja dan mencintai-Nya semata-mata hanya karena rasa hormat dan takut, tanpa kasih dan sayang seperti yang aku berikan.. Dan tak kusangka, sahabatku itu memang telah kehilangan akal sehatnya.. Dari 7 hari sejak aku membicarakannya, Ia sudah menciptakan dua boneka bernama Adam dan Hawa dan dunia tempat mereka akan memuja..

Kukatakan, “Kau memang sudah gila.. Kau lebih butuh dicinta dan dihormati.. Kau tidak menghargai persahabatan kita..yang terbangun melebihi keabadian dan waktu..”.. Lalu dari mulutnya, “Jatuh lah kau ke dunia yang Aku ciptakan, dan membusuk lah kau bersama boneka-boneka ku..”

Dan aku jatuh ke dunia bersama dua boneka laknat itu..

Aku berkeliling dunia dalam kesendirian yang tak tergambarkan, bersama dengan yang entah disebut apa dunia ini, aku berputar mengelilingi segalanya..
Terjebak pada cinta ku yang penuh kenangan, aku luluh dan menggali benda kotor di dasar, membawa secuil gorengan tahu yang kubawa jatuh, dan menanamnya.. Dan aku menutup mata dan berkata kepada Tuhan, “Jika kau masih memberikan sedikit perhatian dan ingatan tentang ku, jadikan lah potongan gorengan tahu ini menjadi gorengan tahu yang tak akan habis aku nikmati hingga mati..”.. Dan Tuhan mengabulkan permintaan ku.. Dari secuil gorengan tahu, muncullah batang coklat dan lempengan yang dari cabang-cabang kecilnya muncul gorengan-gorengan tahu terenak yang pernah ada..

Aku membawa beberapa, dan pergi lagi entah kemana.. Yang aku tahu dari angin yang berbisik, kedua boneka sahabatku, Adam dan Hawa juga tertangkap makan gorengan tahu dari yang aku tanam.. Dan aku dengar, mereka diusir keluar..

Entah sudah berapa lama aku sudah berkelana mengitari dunia.. Memberi nama untuk segala sesuatunya yang diciptakan oleh sahabatku, menjadikan dan menciptakan sistem dan segalanya.. Dan sekali-kali berusaha menceritakan kebenaran kepada boneka-boneka sahabatku tentang apa yang sebenarnya terjadi..

Aku sudah berjalan entah seberapa jauh dan entah untuk waktu seberapa lama.. Aku sekarang sudah di ruangan putih lembut, dengan beberapa ingatan yang tampak samar-samar.. Aku juga lupa bagaimana Tuhan yang membenciku menjebakku ke dalam perangkap yang tak terelakkan ini..Aku hanya tahu ada rantai-rantai suci yang kuat terikat kuat pada tanganku, hingga aku tak mampu menggerakkan satupun dari mereka..

Malaikat-malaikat suci dan putihnya pun terus mengawasi aku seperti bayangan yang tak terelakkan..

Aku selalu menutup mata dan berusaha berbicara dengan-Nya, “Apakah harus seperti ini? Ingatan tentang persahabatan kita tidak berarti apa-apa bagi-Mu?”.. Namun, Ia tidak pernah jawab lagi..

Mataku terbuka, terkejut, ketika mendengar bunyi pintu ruangan yang keras dan memilukan.. Ah..rupanya, salah satu malaikat-Nya melakukan tugas rutin penjagaan..

Dia menyodorkan satu nampan besar bagiku, dan satu kecil mangkuk berisi entah apa namanya..

“Makanlah Putri, dan jangan lupa pil mu..”, ujar si malaikat sambil tersenyum..

Aku hanya mengangguk..

Satu nampan besar gorengan tahu.. Aku mengambil satu, dan menggigitnya..

Dingin…seperti Dia..


About this entry