Setia Sampai Mati..

Jangan pernah tanya apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranku, hingga aku sangat mencintainya, melebihi apapun juga, bahkan Tuhan sekalipun..

Ada yang istimewa dalam diri Melissa..

Kualitas kewanitaan yang tidak akan pernah aku temukan di diri wanita lain, bahkan di dalam diri ibuku atau semua kakak perempuanku, teman-teman perempuanku, wanita manapun ..
Kualitas yang membuatnya menjadi semacam ilmu guna-guna alami yang lepas dari dunia perdukunan yang konyol. Sebuah kualitas yang menjadikan sebagian besar waktu yang aku habiskan, 59 milidetik dalam 1 detik, 59 detik dalam 1 menit, 59 menit dalam 1 jam, 23 jam 59 menit dalam 1 hari, semuanya digunakan untuk memikirkan dirinya.. Sisa waktu yang lain aku gunakan untuk memikirkan hal-hal diluar diri Melissa.. Ya..sesuatu yang diluar kualitas dirinya, seperti cara ia berpakaian, atau cara ia mengenakan bando pink motif sayap itu.. Melissa berubah dari gadis yang aku temukan di ujung jalan, menjadi wanita yang aku temukan di semua jalan.. Dari wanita yang aku temukan di sisi dunia yang kecil, menjadi wanita yang aku temukan di semua sisi dunia.. Melissa menjadi dunia ku, tanpa terbantahkan..

Jangan bertanya tentang kualitas diri seperti apa yang aku suka dari diri Melissa, aku sulit menjelaskannya.. Seperti bertanya kepada burung kenari di musim semi, alasan ia memilih sebuah pohon untuk dibuatkan sarang dan tidak yang lainnya. Atau seperti bertanya kepada daun-daun yang gugur dari sebuah pohon jati kokoh ketika musim panas, alasan mereka jatuh ke tanah dan yang lainnya terbawa angin.. Sebuah alasan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, sebuah keajaiban alam yang terjadi begitu saja, sebuah sinkronisasi harmoni hati, sebuah sinkronisasi nafsu yang memburu, sebuah keajaiban dari cara dunia bekerja.. Yang aku tahu, sungguh, hati ini tidak bisa lagi lepas dari napas Melissa, bahkan tawa dan air matanya pun menjadi semacam nafas bagi hidupku.

Aku kehilangan kata-kata untuk menjelaskannya..

Aku bertemu dengan Melissa ketika kami menginjak masa SMA tingkat kedua. Kami sekelas waktu itu. Terpaut 5 baris tempat duduk. Aku juga bingung entah tepatnya kapan aku menjadi sering menatapnya ketika di kelas, seperti aku pernah mengenalnya di kehidupan ku yang sebelumnya, seperti cinta sejati yang tak tersatukan ribuan tahun dan kali ini hendak mengalami cobaan yang sama.. Dan sungguh, jantungku berdebar setiap kali berpapasan dengannya, setiap kali.. Dan lemparan senyum manisnya, membuat hatiku terenyuh dan tubuh yang hangat kuku.
Secara fisik, Melissa bukanlah gadis tercantik di sekolah, yang terbaik, yang terpintar, atau yang ter- lainnya di sekolahku.. Ia hanya gadis biasa yang naik sepeda ke sekolah, yang selalu tiba 15 menit lebih awal dari lonceng masuk, yang selalu mengenakan kaus kaki di atas lutut, yang selalu mengenakan bando uniknya di kepala.. Ia hanya gadis biasa dengan rambut panjang sebahu, dan kulit kuning yang tidak langsat sempurna, dengan bola mata bulat seperti dunia.. Dan aku tahu waktu itu, hati ini sudah jatuh padanya, dan tidak akan pernah berpaling lagi dari kesempurnaan itu..

Aku bahkan sudah tidak ingat bagaimana caraku mendekatinya waktu itu. Yang aku ingat melibatkan kejadian pura-pura jatuh, meminjam sepeda, dan lainnya.. Semua trik yang akan dilakukan anak remaja lelaki untuk mendapatkan perhatian remaja perempuan pujaannya.. Yang aku ingat waktu itu, semua trik itu berhasil. Di ujung masa tingkat kedua SMA ku, aku dan Melissa sangat dekat. Sahabat? Entahlah.. Cinta? Kami tak pernah membicarakannya, sungguh.. Itu semua terjadi begitu saja.. Aku dan Melissa dalam sebuah kapsul yang entah mau disebut apa.. Apa sajalah, aku juga tidak begitu peduli..

Memasuki tingkat ketiga, dan semuanya menjadi lebih sulit.. Kapsul yang tidak punya nama ini lalu mulai diberi nama oleh mereka yang tinggal di luar kapsul, yang tak pernah tahu indahnya tinggal di dalam kapsul.. Aku dan Melissa sungguh tak pernah perduli. Kami menjalankan tahun terakhir kami di dalam kapsul yang solid dan void, kedap udara dan kedap suara. Karena kami tak pernah keluar kapsul untuk sekedar bernafas, atau mendengarkan suara-suara sumbang di luar kapsul.. Perasaan kami lah nyanyian kami, itu tulus, dan itu akan abadi..

Menjalani dua tahun hidup bersama dengan Melissa di dalam kapsul adalah masa-masa yang memperlihatkan betapa aku tidak pernah salah memilih.. Ia begitu menyenangkan, humoris, jarang sekali marah jika tidak benar-benar menyangkut prinsipnya (aku sampai sekarang belum tahu apa sebenarnya isi prinsip hidupnya, yang aku tahu, ia akan meneriakkan “ITU BERTENTANGAN DENGAN PRINSIPKU!! TIDAK BISA DIBICARAKAN), ia sangat mencintai kehidupan, dan mungkin ia adalah wanita satu-satunya di dunia yang nasihat dan pendapatnya aku dengarkan dengan seksama.. Ia adalah permata yang selama ini aku cari.. Dan dalam hati aku bersumpah, akan mempertahankannya sampai mati.. Aku akan menikahinya, ia adalah satu-satunya wanita yang aku puja..

Lalu datang perpisahan itu..
Tanpa tangis, tanpa ucapan apapun, tanpa alasan yang terucap dari bibirnya, tanpa pelukan, tanpa ciumannya yang biasa, tanpa kata “tanpa” itu sendiri..
Melissa menghilang dari diriku..
Melissa pergi seperti sebuah kapal yang berangkat dari pelabuhannya, tanpa sirine..
Seperti malaikat yang naik kembali ke langit karena takut rahasianya diketahui..
Seperti mayat yang lompat kembali ke kuburnya sendiri diam-diam..
Seperti rasa benci dan kesal yang ia tanam di dalam hatiku saat itu, tak diundang dan sulit diizinkan pergi..
Melissa menuju gelap temaram, dimana tidak ada cahayaku di sana..

Semuanya berjalan lambat..
Semuanya berjalan pelan..
Semuanya seperti mati..
Selama 12 tahun..

Sebuah nomor telepon misterius masuk ke dalam ponsel ku, nomor yang tidak kukenal, dengan kode area yang tidak pernah kulihat sebelumnya juga..
Dari ujung sana, sebuah suara penuh rindu namun tak kukenal, sebuah suara penuh cinta namun tak ku pikirkan lagi.. Ada sebuah suara di sana.. Suara yang membuat ku ingat..
Suara yang semakin menguatkanku, yang meyakinkanku..
Bahwa sungguh penantianku tak pernah sia-sia..
Bahwa kesetiaan ini akan apa yang aku anggap sebagai cinta sejatiku, terbayar..
Bahwa Melissa merasuk kembali ke dalam relung hati yang memang tak pernah tertutup untuknya..
Dan kembali hati ini berdegup kencang..
Seperti remaja dulu lagi.. Aku tidak tahu apakah Melissa di ujung sana merasakan hal yang sama..
Tapi deru nafas dan tawa kecilnya membuktikan sinkronisasi itu lagi..
Melissa merasakan yang sama dengan ku..
Cinta ku setia, begitu juga dengannya
Sampai mati.. pasti sampai mati..

Di ujung telepon sana, ada sebuah janji dari bibir manis yang sudah lama tak kukecup itu..
Katanya, ingin bertemu segera, melepas rindu..
Dan aku mengiyakan dengan senyum dan anggukan yang tak akan bisa ia lihat..
Tapi aku melakukannya seolah-olah memang dia sudah ada di depanku, di hadapanku..
Dan sungguh malam itu, aku tidak tidur karena bahagianya..

……………………………………..
……………………………………..
……………………………………..

Dan inilah diriku, menatap seorang wanita matang di ujung pelupuk batas pandang mata..
Berpakaian menarik dan mengundang melepas rindu..
Sama seperti Melissa yang hidup dengan ku di dalam kapsul 12 tahun yang lalu..
Kapsul yang entah kenapa, sekarang seperti terbentuk kembali..
Kedap udara dan kedap suara..
Maka ruang hotel ini akan menjadi saksi pertemuan..
Saksi buah kesetiaan..
Saksi hasil penantian yang tak berkesudahan..
Saksi sebuah cinta yang tak ada batasnya..
Melebihi waktu, melebihi rasa, melebihi hidup itu sendiri..
Dunia ku sudah kembali dengan ku..

Aku dengan berani, lari memeluknya, dan mendorong tubuh Melissa yang tetap indah ke atas ranjang, sebuah ruang melepas rindu..
Bibir kami berpagutan hebat, seperti menghisap semua air mata dan kekosongan selama 12 tahun yang menghantui ini.. Jilatan-jilatannya hendak mengangkat kepedihan dari kerinduan yang tak terobati selama ini..
12 tahun akan kesetiaan..
Yang akan berlanjut sampai mati..
Aku menikmati tubuh Melissa, setiap ujungnya, seperti yang juga ia lakukan padaku..
Dan malam itu, kami tidur berpelukan dalam kehangatan yang tak pernah ada duanya…

“Aku sudah menunggu waktu ini begitu lama, Mel..”, bisikku ke telinga halusnya..
“Aku tahu..dan aku juga.. Selama 12 tahun, kapsul itu tak pernah pecah.. Aku setia padamu, cinta ini hanya milikmu”, ucap Melissa berusaha meyakinkanku..
Aku hanya tersenyum, sedikit letupan kegembiraan muncul dari setiap kata cinta yang diucapkan Melissa padaku..
“Aku juga tak pernah sekalipun meragukan bahwa kau akan kembali padaku suatu saat.. Dan aku sudah meyakinkan diriku untuk tetap setia, bahkan tak pernah terpikirkan untuk berpaling ke hati yang lain..”
Dan dekapan kami semakin erat..semakin hangat..hingga Melissa tertidur pulas..
Aku mencium keningnya dengan lembut..

Ketika aku juga hendak menutup mata, aku melihat kedip notifikasi dari ponsel ku..
Aku meraihnya di ujung meja dekat diriku..
Melihat dan memperhatikannya..
Ah..sebuah pesan singkat..

“Bagaimana meetingnya? Fun? Si Denny manja nih, dia mau kamu datang besok ke presentasi sekolahnya.. Dia bilang dia enggak pede kalo enggak ada kamu.. Hehehehehe..”

Dari : SUAMIKU
17 May 2010 23:12


About this entry