The Love..

Tarikan nafas nya menggebu-gebu tak berirama, seolah berusaha mengalahkan rasa dingin yang tercipta karena tumpukan salju yang tidak terbendung turun. Tatapan matanya yang tajam berusaha mengamati setiap pergerakan yang aktif di sekitarnya, sesekali menggerakkan dengan cepat seluruh tubuhnya, berusaha membersihkan gumpalan salju di bulu yang mulai terasa memberatkan. Hari ini salju turun sangat lebat, dan sejauh pandangan matanya, tidak terlihat warna lain selain putih.
Semakin lebat salju, semakin sulit untuk mencari makanan untuk sekedar mengisi relung perut yang bergetar berusaha mencerna angin. Hari ini dia harus berburu, setidaknya seekor kelinci yang lengah pun akan cukup membuat nya bertahan untuk hidup berburu di kemudian hari. Dia berusaha mengendus, berusaha mencium, berusaha melihat apapun yang bergerak di hadapannya. Udara dingin yang keluar dari hembusan udara terlihat semakin pekat dan dingin, ia menunggu dalam ketidakpastian.
Dia menggerakkan tubuhnya kembali untuk sekedar membersihkan salju, atau setidaknya menggerakkan tubuh untuk memberikan sedikit rasa hangat pada tubuhnya. Menunggu cukup lama, ia mulai merasakan keputus-asaan, ia sepertinya tidak akan makan lagi hari ini dan ia tidak tahu apakah ia cukup punya tenaga untuk hidup esok, sepertinya ia akan mati hari ini. Perutnya yang semakin keras mencerna angin memperlihatkan rusuk-rusuk tubuhnya yang tidak mampu disembunyikan oleh bulu lebatnya. Ia tidak lagi punya harapan. Dan dalam keputusasaannya, ia melolong berusaha mencari bantuan atau kawanan, tetapi tidak ada balasan. Ia benar-benar sendiri, dan ia akan mati sendiri. Ia melolong kembali.
Tiba-tiba ia melihat gerakan tiba-tiba di tanah, seekor kelinci yang keluar dari liang persembunyiannya dengan tergesa-gesa, lari dengan kecepatan yang ia bisa menghindari dirinya. Ini kesempatan, pikirnya. Ia berlari dengan tenaganya yang tersisa, memburu makanan nya. Ini pilihan dan usaha antara hidup atau mati, ia tidak mampu lagi bertahan kelaparan untuk sehari lagi. Kelinci berlari dengan kecepatan yang mengagumkan, dan ia juga tidak akan kalah. Dengan kegesitan yang sama, ia mengikuti si kelinci menghindari pohon dan ranting. Ia terkadang berusaha mempercepat larinya, tetapi keterbatasan tenagannya menghalanginya. Ia tidak mau mati kehabisan tenaga.
Setelah pengejaran yang cukup lama dan menguras tenaga terakhirnya, setengah badan kelinci itu sekarang sudah ditelannya, dan setengah badan yang lain masih dalam gigitannya. Ia tidak ingin buruannya dicuri dan menghabiskan tenaga kembali hanya untuk mempertahankannya. Daging yang di dalam gigitannya itu dia bawa ke tempat yang lebih aman, dia akan menikmatinya dengan lebih tenang di sana. Tiba-tiba udara terasa lebih hangat ketika perutnya mulai merasakan sesuatu untuk bisa dicerna, ia merasakan kekuatannya sudah kembali walaupun tidak sepenuhnya. Ia memakan lagi setengah badan kelinci itu, dan ia merasakan harapan untuk hidup sehari lagi dalam setiap gigitan yang dia lakukan. Dalam kebahagiaannya, ia melolong panjang.
Sebuah gerakan yang tiba-tiba menarik perhatian nya, ia merasakan ada mangsa di dekatnya. Sekelebat ia melihat sosok rusa muda yang berlari dengan cepat masuk ke dalam hutan, dan tanpa pikir panjang, ia langsung berlari mengejarnya. Ini akan jadi makanan besar yang nikmat, dan dia akan bertahan untuk beberapa hari ke depan dengan buruan seperti ini. Ia harus mendapatkannya.
Lebih sulit menangkap rusa muda yang energik dibandingkan dengan kelinci kecil yang masih mudah tertebak arah berlarinya. Rusa ini bergerak seperti angin, dan ia harus mengerahkan semua tenaga yang bisa ia keluarkan hanya untuk menyamakan kecepatan dengannya. Ini adalah buruan yang pantas didapatkan, ia menekankan dirinya terus menerus.
Mereka terus berlari, derap-derap langkah yang menghentak bergema di dalam hutan. Semua penghuni hutan bersembunyi, mereka tahu ada yang sedang berburu dan sedang diburu, dan akhirnya akan ada yang mati. Rusa yang mulai kelelahan mulai tidak mampu lagi berlari kencang, kecepatannya mulai menurun, dan serigala menyadari hal itu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia dapatkan dari perburuan kelinci, ia mempercepat larinya. Dan dengan satu gigitan di kaki, rusa itu jauh terjerembab. Si rusa melenguh kesakitan dalam ketidakberdayaan, dan serigala menghampiri untuk melancarkan serangan terakhirnya. Dengan tangkapan sebanyak ini, ia tidak akan berburu cukup lama hingga lapar kembali. Ia menatap dalam-dalam mata mangsanya, lalu membuka rahang selebar yang ia bisa. Gigi-gigi ini akan menghujam leher si rusa, dan menewaskannya seketika. Lalu, sesuatu yang aneh terjadi, ia berhenti. Ia menutup kembali mulutnya, ada sesuatu yang aneh di tatapan si rusa, yang membuat ia tidak ingin melakukannya. Ia merasakan sesuatu, ia merasakan sesuatu yang berbeda, ia merasakan sesuatu yang membuatnya tidak ingin membunuh rusa itu. Ia merasa bahwa ia ingin melindungi rusa itu sekuat yang ia bisa.

Sejak saat itu, hutan menjadi berbeda. Si serigala selalu berada dimanapun si rusa berada, dan kelihatannya si rusa tidak berkeberatan. Mereka akan saling membelai dan memeluk jika salju yang turun semakin lebat dan udara menjadi dingin tidak tertahankan. Mereka akan turun ke lembah yang sama untuk mencari minum, terkadang sambil bercanda berlarian. Si serigala akan minum dengan tenang dengan si rusa disampingnya menemani, atau terkadang si serigala hanya menemani si rusa mencari rumput-rumput yang masih bertahan hidup di musim dingin yang tidak biasa ini.
Ketika mereka berdua terlelap, si rusa akan membangunkan si serigala dengan rutinitas yang sama tiap pagi, menjilati luka di matanya yang kelihatannya sudah membaik. Masih terekam jelas di dalam ingatan si rusa, si serigala terluka parah ketika berusaha melindunginya menjadi mangsa beruang besar di dalam hutan. Si serigala berjuang habis-habisan, mengerahkan semua tenaga, mengerang dan melolong sekuat yang ia bisa. Namun pertarungan memang tidak terelakkan, dan si serigala menang dengan banyak luka di tubuh, termasuk sebuah luka yang hampir membuat matanya buta sebelah. Sejak saat itu, si rusa membantu si serigala melakukan perburuannya untuk makan. Terkadang si rusa yang berlari dan menangkap kelinci dan dengan giginya yang tidak tajam, membawanya untuk serigala. Lolongan si serigala sering menggema, lolongan penuh kebahagiaan.

Musim dingin kali ini memang tidak biasa. Suhu benar-benar terasa sangat dingin, bahkan pelukan yang biasa mereka lakukan untuk menghangatkan diri pun sudah tidak lagi memberikan efek apapun. Udara masih saja terasa menusuk kulit. Mereka juga menjadi sulit mencari sumber air dan makanan. Air menjadi membeku padat dan sulit dipecahkan, rumput tidak lagi tumbuh, dan binatang-binatang kecil pun sulit ditemukan.
Semakin lama serigala melihat rusa semakin terlihat kurus, tulang rusuknya terlihat jelas di sela-sela perutnya. Ia tidak bisa lagi menemukan rumput untuk dimakan. Semua rumput terlihat sudah mati dan tidak lagi tumbuh kembali. Ia tidak seceria dulu lagi, ia tidak mampu lagi berlari secepat dulu. Yang ia lakukan sekarang hanyalah mendekatkan tubuh pada serigala, menelungkup, berharap bulu-bulu itu bisa ikut menghangatkan tubuhnya.
Si rusa juga mengerti, ketika ia memeluk tubuh si serigala untuk mencari kehangatan, ia menyadari bahwa tubuh yang selama ini kenyal dan lembut di balik bulu yang tebal juga telah mengurus, ia bisa merasakan gerakan dan bunyi tulang yang bergerak-gerak. Si serigala juga semakin sulit mencari daging untuk dimakan, semua binatang yang biasa ia mangsa kelihatannya lenyap terbawa angin.
Musim dingin ini sudah berjalan lama, dan tidak memperlihatkan tanda-tanda akan berakhir. Salju yang turun semakin lama semakin lebat, dan gundukan di hutan semakin meninggi. Si serigala dan rusa semakin sulit melangkah kemana-mana, kelaparan dan kedinginan telah menguras semua tenaga yang mereka miliki. Serigala hanya bisa tidur menutup mata, membiarkan rusa berbaring di dekatnya dengan nafas yang terengah-engah.
Mereka akan mati, mereka tahu itu. Tetapi setidaknya, mereka akan mati bersama.
Serigala membuka pelan matanya, dengan tatapan yang halus memandangi dalam mata rusa yang balik menatapnya juga. Setetes air mata keluar dari sepasang mata itu, memperlihatkan keputus-asaan dan kesedihan.
Serigala kembali membaringkan tubuhnya di atas salju, menutup mata, pasrah. Dan rusa kembali menelungkup di tubuhnya, semakin dekat dan semakin erat.
Rusa membelai tubuh serigala dengan halus seperti hendak menenangkannya. Serigala membalasnya dengan lenguhan manja yang penuh kelelahan. Rusa bangkit berdiri dengan tiba-tiba, dan dengan sekuat tenaga berlari sekencang yang ia bisa. Ia menggunakan semua tenaga yang masih tersisa.
Serigala yang terkejut terbangun dengan penuh kewaspadaan, dan berusaha berdiri tegap dengan keempat kakinya. Ia melihat sekelebat gerakan rusa yang berlari kencang meninggalkan dirinya. Sebelum serigala sadar akan apa yang terjadi, si rusa sudah berlari menjauh.
Berlari..
Berlari secepat yang ia bisa..
Berlari dengan tenaganya yang tersisa..
Berlari ke sebuah batu besar..
Dan menabrakkan kepalanya di sana..
Mati seketika..

Serigala yang belum sadar apa yang terjadi, berlari mendekati si rusa secepat yang ia bisa. Ia hanya melenguh penuh kesedihan, tidak percaya apa yang ia lihat. Ia berusaha membangunkan si rusa, membelai dan memeluknya, namun tidak ada reaksi apa-apa. Serigala melenguh, mengendus, menciumi, semua hal yang bisa ia lakukan untuk membangukan si rusa. Tapi si rusa terdiam di sana, tanpa reaksi apapun.
Air mata serigala tak lagi terbendung.
Dengan air mata yang mengalir, serigala mulai menggigit leher si rusa dan mencabiknya, dan mulai memakannya..perlahan, setiap potongan daging digigit dengan lenguhan kesedihan yang sulit digambarkan. Ia mengoyak dan mengunyahnya dengan pelan, berusaha menghapus kelaparan yang ia rasakan selama ini, berusaha menelan dalam kepahitan.
Ia tinggalkan tulang-tulang rusa di sana..

Setiap malam, dari arah hutan, sebuah lolongan penuh kesedihan..

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry