Ruang Hampa

Tidak ada yang bisa mengalahkan perasaan damai ketika menikmati sinar matahari pagi dan bau sawah segar yang mengajak hidung untuk terus bergerak lebih jauh..

Tidak ada yang bisa mengalahkan kekaguman ketika menemukan gunung-gunung berbaris indah menari bersama embun yang dengan rendah hatinya turun ke telapak bumi untuk sekedar menyegarkan pagi.

Dan tentu tidak ada yang bisa menandingi semua itu ketika dikecap bersama dengan sepeda mengayuh pelan dan senyum yang terkembang dalam setiap tenaga yang dikeluarkan. Dan jalan-jalan kecil desa menjadi selayaknya sebuah jalan menuju surga yang terlupakan oleh mereka yang terjebak dalam pusaran kesibukan.

Bunyi sungai mengalir dan lenguhan kerbau-kerbau yang malas melengkapi semuanya. Dan di tengah semua itu, ada aku, yang melepaskan penat dari neraka dan sekedar singgah untuk mencicipi surga.

Matahari beranjak pelan menuju ke titik azimut nya yang tak terelakkan, pelan namun pasti, tak berbeda dengan caraku menghirup semua udara ini atau tak beda dengan caraku mengayuh sepeda ini. Kilapan dan pantulan cahaya mulai menemani mata, rupanya cahaya sudah menyentuh lahan yang basah. Dan para petani sudah mulai keluar untuk mengerjakan apa yang orang lain tidak ingin kerjakan, masuk ke dalam lumpur, mengotorkan diri, dan secara ajaib darinya menghasilkan sesuatu yang lembut dan bersih untuk dimakan manusia. Topi caping itu terlihat mempesona di kala pagi itu, dengan cangkul dan beberapa kerbau yang menemani, mereka tidak hanya membajak sawah, tetapi dengan cara yang aneh menggarap suasana hati yang semakin sempurna saja.

Semakin jauh kau mengayuh, semakin jauh kau dari surga. Tuhan hanya menempatkannya pada secuil tanah bernyawa yang tak seberapa. Aku mulai melihat begitu banyak cerobong-cerobong asap kehitaman yang mengelilinginya, dengan rumah-rumah kokoh berdiri di atas tanah yang sepertinya tak punya kekuatan untuk mengatakan tidak. Surga ku diperkosa oleh berakhirnya ujung jalan yang singkat tadi. Ini pagi hari yang sungguh tidak berbeda dengan neraka yang kurasakan setiap hari.
Di dalam kekecewaan, aku berhenti dan turun dari sepeda, sekedar melepaskan kelelahan dan berusaha menata perasaan dan ingatan tentang betapa dekatnya jarak neraka dan surga tadi, bahwa semuanya bisa direnggut dalam sekian detik. Benar-benar pagi yang bukan aku rencanakan untuk dinikmati. Sebotol air minum yang kusematkan pada jok sepeda benar-benar menghilangkan dahaga dan menyelamatkan rasa.

“Aku harus bersepeda berbalik arah, menikmati semua pemandangan itu lagi,” kataku pada diriku sendiri.

“Kali ini, bersepedalah dengan jauh lebih pelan, nikmati, kau tak mau surgamu berakhir begitu saja..”, yang entah dari mana sebuah suara menjawab pertanyaan yang kuutarakan dalam hati. “Baiklah”, aku menjawab kembali dengan memposisikan diri di atas jok dan hendak mulai kembali mengayuh.

Berusaha mengamati jalan, pandanganku terkunci pada hal teraneh yang pernah kulihat. Di antara semua rumah dan pabrik beton itu, sebuah celah dengan gubuk kecil berada. Di depan berandanya, ia menanam dalam lahan kosong seadanya. Dan pria renta dengan tangannya yang gemetar berusaha mengangkat pacul dan menghujamkannya ke tanah, menarik dan membuangnya. Pacul itu bergerak lembut namun pasti.

Aku menghampirinya, sekedar memuaskan rasa ingin tahu.

“Selamat pagi..”, aku menyapa dengan nada paling ramah yang ku tahu.
“Pagi..pagi..”, suara yang penuh gemetar membalasnya, dengan balasan keramahan yang menenangkan hati dan sebuah tatapan mata sayu dan berat.
“Apa yang bapak lakukan?”, aku tidak segan memulai pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahu yang dari tadi berkecamuk tak tentu arah. Apa yang sebenarnya dilakukan renta ini dengan lahan sempitnya di antara beton-beton neraka yang meninggi.
Dia hanya tersenyum kecil, dan menjawab tanpa keraguan, “Bapak sedang menanam mimpi dan harapan..”
Dan alangkah terkejutnya aku, dengan proses yang bekerja di dalam kepala, berusaha memahami apa maksud dari jawaban yang tidak kuduga itu.
“Kau tahu nak, cerita tentang tanah surga kita?”
“Yang bisa mengubah batang kayu menjadi pohon berbuah?”
Dia hanya tersenyum, “Dan itulah mimpi dan harapan bapak, bahwa apa yang bapak tanam ini akan menghasilkan sesuatu yang bapak impikan..”
Aku hanya mengernyit berusaha memahami, kegilaan dan harapan benar-benar sulit dibedakan.
“Tapi apa yang mungkin bapak hasilkan dari sebuah tanah kecil ini?”
“Apapun untuk sekedar menyambung hidup..”
“Kenapa tidak mau menjualnya saja pak, dan pindah ke tempat yang lebih baik, dan memulai kehidupan yang jauh lebih sejahtera dari ini?”
“Nak, lihat tanah-tanah di sekitar ini, rumah-rumah beton dan pabrik bercerobong asap itu.. Itu semua dahulu adalah milik bapak dan teman-teman..”
“Jadi? Bapak sudah menjual sebagian tanah bapak sebenarnya?”
“Menjual?”
“Iya..menjualnya ke pengembang dan pemilik pabrik dan perumahan itu?”
“Aku tidak akan menjual tanah-tanah itu nak, tidak akan pernah..”
“Lantas?”
“Satu malam, semua rumah di kampung ini digedor dan dilempar batu, diteriaki maling, diteriaki pembunuh, diteriaki sampah. Kami diam. Besoknya rumah mulai terbakar, pemuda mulai dipukuli, yang tua mulai ditelanjangi dan diseret ke jalan.. Dan kami tak punya pilihan.. Ladang kami yang sempit kami serahkan sebagian besar kepada mereka. Dan tinggal ini yang kami punya..”
“Kenapa tidak melapor kepada polisi atau pemerintah?”
Pria renta itu hanya tertawa, “Lalu apa? Memberikan mereka kesempatan untuk ikut memukul dan menelanjangi kami?”
Aku hanya terdiam dalam kesunyian.
“Singgahlah nak, segelas kopi untukmu, dan memang cuman itu yang bapak punya.. Bapak bersikeras untuk beramah tamah menabung karma..”
Aku mengangguk pelan dan tersenyum..
Seruput kopi panas yang dijadikan harta pemiliknya memang tak tertandingi rasanya, seperti menyeruput butiran-butiran nyawa yang ikut bersama jerih payah mengusahakannya.
Sebuah beranda reyot di sebuah rumah kecil yang tak beruang menemani obrolan kami..
“Berapa umur bapak sekarang?”, tanyaku untuk mengenal lebih dekat.
“81 tahun..”, guratan keras urat yang bergerak di seluruh wajahnya terlihat jelas, gemetar suaranya selalu menemani setiap kata yang keluar dari bibirnya yang tak lagi sempurna. Tulang-tulang yang terbalut kulit itu menyimpan cerita pria perkasa di masa lalu yang sulit dihapuskan.
“Bapak sudah mulai bertani sejak muda,”, ia mulai bercerita.
“Dan sejak saat itu, sulit makan dan miskin, dan semakin tua semakin terasa pula..”, ia tersenyum..
Aku melihatnya dengan iba.
“Bapak sudah melewati banyak revolusi dan merasakan banyak kepemimpinan..dan lahan ini satu-satunya yang benar-benar menemani dan pasti..”
Aku mengangguk.
“Istri bapak mati, di sudut itu, meringkuk kedinginan dan kelaparan. Bapak tak bisa mengusahakan sekedar minyak untuk lampu yang membantu memberikan kehangatan atau bahkan sebutir beras untuk dirinya yang menangis tiap malam..”
Aku terhenyak.
“Bapak hanya menciumnya untuk terakhir kali dan menggalikan untuknya apa yang bisa bapak berikan, tanah dan lihatlah dia, tumbuh indah,” pria renta itu menunjuk segenggam bunga yang mulai melayu.
Semakin aku mendengarkan cerita pria renta ini, kopi yang mulai menghangat ini terasa semakin nikmat dan berat. Tidak hanya ada usaha di setiap bulir yang diseduh, penderitaan ditambahkan padanya untuk membuat nya hitam pekat tak terukur.
Dan aku terperangkap di dalamnya, sebuah ruang hampa dalam hati, yang sepertinya lupa diisi.

“Dahulu sekali, bahkan yang tertinggi pernah menginjakkan kakinya ke daerah ini, seperti nak, dia juga mengendarai sepeda nya. Dia bertanya tentang banyak hal..”
“Presiden?”
“Iya…yang tertampan di antara setelahnya..”
Aku mengangguk mengenalinya.
“Dan bapak bercerita banyak padanya.., dan lihat bapak sekarang.. Tak berubah banyak, masih mencari nasi yang sulit tumbuh dari ladang sendiri..”
Aku menyeruput kopinya kembali, berusaha mencari apakah sesungguhnya ada kebenaran yang keluar dari mulut tuanya. Tetapi apa yang ia ceritakan sesuai dengan apa yang aku perhatikan sekarang. Dia mungkin mengarang beberapa untuk hiperbola kemiskinannya, tapi yang aku lihat semua ia sampaikan adalah ironi yang menyedihkan. Hati dan inderaku yang lain mengalahkan kecurigaan yang disampaikan oleh otak yang tak pernah berhenti bekerja ini.

“Kau lihat semua beton-beton dan pabrik bercerobong asap itu nak?”
Aku mengangguk sembari memperhatikan kopi yang memenuhi hanya setengah cangkir kecil sekarang.
“Pemuda-pemuda di sana berbondong-bondong mengadu nasib ke sana, sebagai buruh kasar, mereka mencuci kaki para tuan dan menjilati bokong mereka, lalu mereka ditinggalkan begitu saja ketika semuanya sudah selesai dibangun. Para pemuda berusaha menuntut untuk dipekerjakan di atas tanah yang dulunya milik mereka dan direbut dari mereka, tapi tak ada hasil, selain beberapa pemuda tewas mengenaskan di ujung selokan pembuangan limbah. Warga melapor ke polisi dan ketua RW, keesokannya, beberapa rumah menjadi abu”
Satu seruputan kopi memecah keheningan yang tercipta cukup lama.
“Nak, aku pernah melihat sebuah keluarga melintas berjalan kaki melewati ini semua, kelaparan. Kusuruh mereka singgah untuk sementara menahan lapar dengan beberapa buah singkong rebus yang tak berasa karena aku sudah kehabisan garam. Mereka membawa anak satu, kecil, dengan perut buncit namun tulang yang membekas di pangkuan mereka merengek dan menangis sepanjang malam..”
“Kenapa mereka pak?”
“Sama seperti mu, aku merasakan rasa penasaran yang tidak kalah sama dengan mu. Kutanyakan darimana ia berjalan, katanya ia dari timur yang jauh, berjalan kaki atau berusaha mencari tumpangan. Ketika kutanya tujuan, ia ingin ke ibu kota. Aku waktu itu melarangnya, kukatakan apa yang dia cari di sana? Sang kepala keluarga hanya menangis keras seperti bayi, dari mulutnya terucap pelan “Tuan Tanah” dan “Sang Raja”. Dan aku tidak bisa berbicara lebih banyak lagi. Sang istri yang berusaha kelihatan kuat menjelaskan semuanya padaku, sebuah cerita tentang tanah indah yang dikutuk menjadi tanah lumpur panas yang menggila seperti serangan Tuhan pada Mesir di masa dahulu. Mereka tidak punya tempat berlari untuk mendapatkan pengampunan dan pertolongan, selain kepada Tuan Tanah di ibukota. Tuhan sendiri sudah angkat tangan..”
Air kopi yang mulai mendingin terdiam di ujung bibir ku, dasar cangkir yang kumal hanya sebuah ruang hampa.
“Dan nak, aku tahu masih banyak mereka yang bernasib lebih buruk dari aku, dan sesungguhnya aku tidak mempercayai siapapun selain aku dan Tuhan, dan mungkin sedikit minyak, beras, dan mimpi yang kutanam di tanah itu”
Aku kembali memberikan anggukan..sebuah anggukan tajam..
Cangkir itu kosong dengan ampas hitam yang tersisa di dasarnya, aku telah dijamu dengan jamuan terbaik yang ada, dan kurasa aku telah paham segalanya. Dengan segala kerendahan hati aku hendak mengucapkan salam perpisahan.
Aku rasa sebagai yang berkelimpahan, sudah seharusnya lah aku berbagi, tiga lembar uang pecahan kusodorkan untuk meringankan hidupnya.
Pria renta hanya tersenyum dan mendorong tanganku menjauhinya.
“Jangan nak.. Bapak tidak butuh..”
“Aku…tahu ini tidak seberapa, tapi ini setidaknya membantu beberapa hari bapak ke depannya..”, aku berusaha membujuk dengan sekuat tenaga.
Pria renta dengan suaranya yang gemetaran itu tetap menolak halus dengan senyum yang sulit dijelaskan.
“Kau mau membantuku, nak?”
“Jika aku bisa….”
“Pulanglah ke kota mu, dan ceritakanlah perjumpaan kita. Ceritakan tentang dongeng tak indah yang menemani harta ku, seruputan kopimu. Ceritakan, sehingga apa yang aku impikan dalam 81 tahun hidupku tak akan berakhir bersama turunnya aku ke dalam lubang yang akan memakan aku hingga tinggal belulang.”
Aku hanya terdiam, pria perkasa ini mungkin tergerus tubuhnya tetapi tidak semangatnya.

Dia mengantarku pulang menuju sepeda yang kuparkir di depan. Dengan pacul yang ia seret, sepertinya hari ini tidak akan berakhir cepat untuknya, dan tidak untukku juga.
Dan aku memeluknya dengan pelukan seerat anak yang sudah lama tak bertemu dengan ayahnya. Sebuah hentakan pada pedal sepeda dan sebuah lambaian yang lembut datang dari kedua tangan yang entah bertemu kapan dan berakhir kapan.
Sebuah pemutar musik menemani perjalanan ku kembali menyusuri pagi dan surga yang tercermin dari wangi tanah dan sawah yang memang surga. Yang mungkin memang surga bagi yang melihatnya, tapi tidak bagi mereka yang menjalaninya. Aku mengayuh sepeda dengan lemah bersama dengan aroma kopi yang berhembus dari mulut.
“Money, so they say is the root of all evil today..”, sebuah lagu PINK FLOYD mengalir melalui pendengar yang menempel di telinga..

Momen perkenalan itu tidak akan pernah aku lupakan, dalam sebuah hentakan tangan renta yang saling bersentuhan..
“Kenalkan pak, namaku Susilo”
“Marhaen”

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry