65 Tahun, Sebuah Renungan

Aku melihat wajah senyawa mengaca dari telaga..
Raut muka menua bergerak bercerita..

Wahai pemuda..
Sebuah cerita..
Tentang permata semesta yang jatuh ke dunia..

Ketika dunia retak tertempa hampa..
Pulau-pulau tercetak di antara dua samudera..
Yang konon nafas hidupnya dihembuskan dari surga..
Yang gunung dan danau nya tercipta dari kata Cinta yang Esa..

Aku punya cerita tentang manusia..
Yang menyemuti jiwa dunia di antaranya..
Yang keramahan nya melampaui koma atau tanda tanya yang membahana dari tahta nyawa..
Yang senyumnya tak berbanding dari perut kaum papa..

Nak..
Aku punya cerita tentang negara yang sama..
65 tahun setelahnya..

Mencintai yang Esa..
Mengaku beragama..
Tapi membunuh dan merusak atas nama-Nya..

Yang bertoleransi..
Sendiri dan berbau basi, mati..
Kecil berarti pergi..

Yang bebas..
Sebelum kebas..
Lalu naas..

Yang kaya..
Sebelum tikus jadi raja..
Kaum papa makan tinja..

Yang berdiri..
Lalu dimaki tetangga sendiri..
Duduk gemetar seperti babi..

Yang katanya singa di dataran asia..
Datang goncangan..
Tinggal bayangan..

Yang rakyatnya ramah..
Ramah penuh amarah..
Rumah tinggal remah-remah..

Yang rakyatnya kecewa..
Tapi penguasanya tertawa..

Yang benar dihukum..
Yang salah menghukum..

Yang kaya berpesta..
Yang miskin nestapa..

Yang katanya merdeka..
Tapi otaknya dijajah..

Nak..
Ini akan menjadi cerita berbeda..
Kalau ada cinta dari yang kau rasa..
Dan rasa tergugah..
Dari setiap kata dalam cerita..
Maka aku adalah putih..
Dan kau adalah merah..
MERDEKA..!!
Atau
Mati..sendiri..bersama..ratusan juta nyawa lainnya..

Posted with WordPress for BlackBerry.


About this entry