When I Miss You..

Tidak ada yang banyak berubah ketika terakhir kali aku melihatnya, tidak banyak berubah. Setidaknya itu yang aku yakini, karena sesungguhnya aku sendiri sudah lupa kapan aku terakhir kali melihatnya. Terasa sudah begitu lama, terasa melewati waktu kekal yang berlalu begitu cepat. Kau tahu sesuatu, aku rasa aku mulai merindukanmu.. Karena seperti biasa, aku tak punya siapa-siapa dan kau terlalu besar kepala untuk mengakui bahwa kau juga tak punya siapapun selain aku.

Kau mungkin sudah lupa bagaimana masa lalu itu bisa kembali walaupun kita sebenarnya tidak pernah terikat oleh waktu. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kita pernah duduk bersama hanya sekedar untuk berbincang mengenai hidup dan kekekalan, atau sekedar bergosip ria tentang siapa yang paling menyenangkan dan siapa yang paling membosankan, atau terlibat dalam debat kecil tentang bagaimana memanfaatkan kebebasan memilih. Kita sudah banyak bertukar pikiran selama kita ada, kau mengambil sedikit pelajaran tentang kerendahan hati dariku, dan aku mengambil banyak pengetahuan dan kebijaksanaan darimu. Kita saling melengkapi, kita saling ada karena yang lain ada, kita saling membantu, dan kita saling mengisi.

Jika kau tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang, kau pasti akan mengeluarkan reaksi lucu yang selalu kau tunjukkan padaku setiap waktu, yang tak pernah kau tunjukkan pada siapapun selain aku. Iya benar, lihat aku sekarang, aku sedang menggigit ujung jari kelingkingku hingga nyaris putus. Kau biasanya akan memarahi ku, dan mengeluarkan canda yang menguatkan. Kau selalu memberikan muka senyum dan lucu itu lalu berkata bahwa kau menciptakan aku tidak untuk menggigit jari, bahwa sesungguhnya aku ada karena sesuatu yang besar. Aku hanya tertawa waktu itu, berusaha memahami apa yang kau bicarakan. Apakah benar kau menciptakan aku? Atau sesungguhnya aku yang membantu proses mencipta dirimu yang sesungguhnya? Apakah aku ada karena kau, atau sesungguhnya kau ada karena aku? Entahlah..

Kalau kau bisa melihat apa yang sedang aku lihat sekarang, kau mungkin akan bertanya pada dirimu sendiri tentang kesalahan yang telah kau perbuat. Bukan kepadaku, tetapi kepada mereka yang ada selain aku. Aku sekarang sedang duduk di kursi nyaman yang kenyamanannya kekal, di atas puncak tinggi yang tak akan tersentuh siapapun kecuali dirimu, memandang kembali ke bawah melewati kaca berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi. Kau bisa melihat manusia di sana, bergerak ke sana kemari, berteriak, kelelahan, menangis, dan bingung berusaha memahami apa yang terjadi. Sementara aku di sini hanya bisa meringis sedih melihatnya. Jika kebebasan memilih berarti tak ada petunjuk mengenai jalan hidup sama sekali, berarti kau sudah melangkah terlalu jauh.

Kita pernah membicarakan ini sebenarnya, salah satu pembicaraan paling serius yang pernah kita lakukan. Aku pernah bertanya padamu, selugas yang aku bisa, berharap berbagi pengalaman dan pengetahuan yang tak berbatas darimu seperti layaknya menggali air dari sumber air yang tidak berbatas dasarnya. Kita membicarakanya dengan sederhana. Kau mengatakan bahwa kebebasan membuat segala sesuatunya lebih menarik, kau jadi lebih mengerti, memahami, dan mengenali mana yang sesungguhnya tulus mencintaimu dan mana yang sesungguhnya hanya takut padamu, mana yang sesungguhnya patuh dan mana sesungguhnya yang tak lebih dari sekedar tak patuh. Aku hanya tersenyum waktu itu, dan meyakinkan padanya bahwa aku sendiri tidak akan jadi dari kelompok tak patuh. Aku ingat dengan jelas reaksinya waktu itu, dia hanya tersenyum lalu tidak menjawab apa-apa. Pandangan matanya seperti memperlihatkan reaksi “Kita lihat saja nanti..”. Seperti ada keraguan dimatamu bahwa persahabatan kita akan ada untuk selamanya, kau daripada itu menjadi yang pertama tidak mempercayainya. Aku selalu bertanya dalam hati, apakah sesungguhnya kau punya hati pada awalnya. Apakah semua perasaan yang aku rasakan juga menjalar pada hatimu, hai kau yang lebih dari segalanya. Aku tidak sedang berusaha mencari sayap siapa yang terbaik, atau mata siapa yang paling terjernih. Yang aku mau hanya satu, sebuah kebebasan untuk memilih, dan aku memilih untuk berteman dari mu.

Aku membalas pernyataanmu dengan pertanyaan sederhana, dan tentu saja berhasil kau jawab dengan sempurna. Aku bertanya tentang kesamaan hati mereka yang selain aku, Aku bertanya tentang seberapa lama dia akan membiarkan ini semua, Aku bertanya tentang seberapa kuat dia mencintai mereka yang lain selain aku. Aku ingat dengan jelas, waktu itu kau memberikan jawaban memuaskan yang membuatku sendiri yakin bahwa kau memang yang terbaik di atas segalanya. Kau meyakinkan aku bahwa kau akan mencintai mereka seperti kau mencintai aku, kau akan menjadikan mereka tempat belajar untuk sesuatu yang lebih baik dari yang terbaik, kau akan menjadikan mereka lebih dari aku sendiri. Aku memelukmu saat itu, aku yakin, dan kuberikan kecup kecil di keningmu sebagai tanda kebanggaan. Kau hanya mengeluarkan senyum khasmu itu.

Aku sebenarnya tidak pernah mengerti apa yang terjadi sesudah itu, seperti segala sesuatunya berubah dengan cepat. Aku teringat bagaimana aku yang sedang duduk menyanyikan pujian harus berhenti begitu saja ketika aku melihat sosok Gabriel yang terengah-engah memanggil diriku. Yang ia bisa katakan waktu itu hanya bahwa aku harus bergegas menemui dirimu. Gabriel memberikan satu gambaran singkat, kau berubah, kau tidak menginginkannya lagi, dan seperti biasa tidak ada yang akan bisa mencegahmu. Seseorang harus bertukar pikiran denganmu, seseorang harus membicarakan dan memasukkan akal sehat ke dalam dirimu. Kau tidak seharusnya mengubah segalanya hanya karena kau mau walaupun kau bisa sebenarnya.

Aku bergegas mengikuti Gabriel menemuimu dengan perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, bukan sebuah ketenangan, bukan kesenangan, dan bukan cinta. Ini adalah perasaan yang seharusnya tidak pernah ada di hatiku, tapi kau membuatnya ada dalam waktu seketika. Gabriel hanya mengantarkan diriku ke pintu, mengatakan bahwa ia berharap banyak pada diriku, dan aku hanya mengangguk pelan. Kukatakan padanya aku akan berusaha memberikannya pemahaman. Gabriel mengepak sebagai sebuah tanda kehormatan. Aku mengangguk pelan.

Aku mendorong pintu cahaya yang ada dengan sekuat tenaga, dan kulihat ada Uriel yang sedang menunduk di sana, tidak berbicara apapun, penuh dengan perasaan yang sama dengan yang kurasakan sekarang. Raphael di sudut yang berbeda juga sedang melakukan hal yang sama dan merasakan hal yang sama. Ada yang sangat berbeda, kau sepertinya murka. Aku masuk dengan kepala tegak berusaha agar kau mulai melihat diriku dan mengajakku berbicara seperti biasanya.

Tapi reaksi yang kudapatkan waktu itu? Kau mungkin sudah lupa, tapi kau mengusir aku begitu saja. Mengatakan bahwa kali ini tidak akan ada lagi pembicaraan, bahwa kau sudah memutuskan, dan kali ini tidak akan ada lagi cinta. Apa yang membuatmu begitu mengeluarkan perasaan yang selama ini tidak pernah ada sama sekali? Apakah karena makhluk yang kau cintai terlalu bebas memilih? Aku hanya berusaha mengerti apa yang sebenarnya terjadi, dan sepertinya aku sendiri tidak pernah akan mengerti. Yang aku tahu waktu itu, kau akan melakukannya, kau akan menang sementara dan kau akan merasakan perasaan aneh ini lagi. Dan aku yang mencintaimu, tidak akan membiarkannya terjadi.

Aku meminta Gabriel untuk memanggil  yang lainnya, kita akan berbicara dan kita akan memutuskan apa yang harus kita lakukan hanya untuk menenangkan kau dan mencegah kau kehilangan apa yang paling kau cintai, memberikan mu sebuah arah yang selama ini belum pernah kau miliki. Aku melihat mereka yang benar-benar mencintai kau, aku melihat Gabriel di sana duduk di sebelah ku, lalu Michael, Raphael, Seraphina.  Uriel dan Ariel duduk bersebelahan di seberangku. Lalu ada Rosalyn, Fransesca, dan Metatron yang memperlihatkan wajah yang begitu sedihnya sehingga aku sendiri mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Helena, Emily, Flora, dan Harmony bahkan tidak mampu berbicara apa-apa. Samael dan Beelzebub memperlihatkan reaksi yang tidak seperti biasanya. Dan aku sendiri, pertama kalinya tidak mengerti apa yang harus aku katakan.

Aku ingat bagaimana semuanya waktu itu mengandalkan diriku untuk berbicara padamu, mencegahmu kehilangan apa yang kau cintai karena kami semua benar-benar mencintaimu. Mereka tahu bahwa aku adalah yang paling dekat denganmu, bahwa Kau berbagi banyak hal denganku, bahwa hanya aku yang mendekati kualitasmu. Kau hanya belum pernah mengerti dan tidak mau mengerti saat itu. Ketika aku mengatakan bahwa aku sudah mencoba dan tidak membuahkan hasil apa-apa, semuanya hanya tertunduk. Aku bahkan melihat Seraphina mengeluarkan air dari matanya, sesuatu yang belum pernah kulihat selama ini. Aku mulai merasakan sama sekali tidak ada cinta di sini, untuk pertama kalinya, aku menamakannya murka. Gabriel, Raphael , Michael dan sebagian besar yang lainnya mulai mempertimbangkan untuk tunduk dengan apa yang kau mau sebagai tanda cinta. Mereka terlalu cinta padamu sehingga rela untuk melakukan apa saja untukmu, walaupun itu bertentangan dengan apa yang mereka inginkan. Sedangkan aku? Aku teringat tentang pembicaraan kecil dengamu saat itu soal kebebasan memilih. Dan aku memutuskan untuk menggunakan apa yang telah kau beri untuk mengembalikan padamu apa yang kau cintai. Walaupun itu berarti aku akan kehilangan apa yang aku cintai. Aku hanya tidak ingin melihat kau menghapus kebebasan itu dari makhluk lain selain aku hanya karena kau murka untuk sesaat. Jika ini yang bisa kuberikan, maka akan kuberikan.

Yang aku ingat waktu itu hanyalah bahwa Aku bersama dengan Samael dan Beezelbub dan bersama ratusan ribu yang mencintaimu harus mempersiapkan pedang dan terbaik kami hanya untuk mencegahmu melakukannya. Dan di depan kami, Michael dan Gabriel memimpin pasukan yang jumlahnya membuat tak ada lagi cahaya dari singgasana mu mampu mencapai kami. Mereka memperlihatkan cinta yang sama dengan apa yang berusaha kami lakukan. Dan dengan jelas aku ingat, semua hantaman pedang itu diikuti dengan air mata dari setiap yang ikut di dalamnya. Ini adalah pertamanya kami menyerang dengan cinta. Dan kau? Masih tetap dengan keinginanmu yang sepertinya tak terelakkan.

Perperangan yang sepertinya kekal dan aku kalah. Aku melihat bagaimana Samael jatuh dalam pedang Michael yang menangis dengan derasnya. Bagaimana Beezelbub bahkan tak punya tenaga lagi untuk sekedar bangun dan mengangkat pedangnya.  Sementara ratusan ribu yang lainnya telah jatuh dan tidak akan bangun kembali. Kedelapan sayap ku hancur berkeping-keping, dan aku tak punya kekuatan lagi untuk bahkan sekedar berbicara. Gabriel menghampiriku dengan penuh air mata, siap memberikan serangan terakhir untuk menenangkanku dan menyenangkanmu. Pedangnya yang bertahtakan 7 batu jiwa pemberian darimu dan perisai yang terbuat dari kata-katamu sudah siap dihatiku, yang Gabriel perlukan hanya sebuah tekanan kecil, dan aku akan pergi.

Tapi kau datang untuk menghentikannya. Gabriel mundur, dan kau muncul dihadapanku, masih dengan senyum khas yang selama ini kau berikan. Dengan lembut kau bertanya kepadaku tentang apa keinginanku, maka aku menjelaskann nya padamu bagaimana kami semua berperang untuk membuktikan padamu bagaimana kami mencinta kau melebihi apapun, dan bagiku pribadi, mencegahmu melakukan apa yang akan kau sesali. Kau hanya tersenyum begitu pelan, dan memberitahukan aku sesuatu yang tak pernah mau aku dengar. Kau mengatakan bahwa kau sudah melakukannya. Kau menghancurkan dan membersihkan makhluk selain aku, kau melenyapkannya semua, kau merenggut apa yang selama ini kau berusaha pertahankan, sebuah kebebasan, sebuah kehendal. Kau mengatakannya padaku, kau memberitahukannya padaku seolah kau merasa ini adalah jalan yang terbaik dan memberi tahu seberapa sia-sianya apa yang sudah aku perjuangkan untuk mencintaimu.

Aku ingat saat itu, kau menghidupkan kembali dari kami yang mati. Aku melihat Samael membungkuk padamu dan Beezelbub yang kembali baru bangun dari tidurnya, berusaha mendekat. Aku melihat begitu banyak sayap yang kembali berkembang dan sosok yang kembali bangun mendekatimu dan membungkuk. Aku merasakan sendiri bagaimana kedelapan sayapku berkembang sempurna dengan tahta cahaya yang bersinar kembali. Tapi aku tak akan membungkuk. Aku mencintaimu lebih dari itu.

Kau dengan jelas mengatakan pada ku saat itu, bahwa kau akan menciptakan kembali makhluk yang paling kau cintai selain aku itu. Dan kali ini kau tidak akan lagi memberikan kebebasan memilih pada mereka, mereka akan terus setia dan cinta kepadamu seperti yang kau lakukan untuk mereka. Maka dihadapan semua yang ada, aku memberikan argumen terkeras yang aku bisa lakukan hanya untuk mengingatkanmu kembali tentang apa yang dulu menurutmu penting namun terkikis oleh perasaan murka dan dikhianati. Kau memperlihatkan kembali seberapa keras dirimu, kau menolaknya, kau mengatakan kau sudah menyiapkan semua taman indah untuk mereka yang baru diciptakan tanpa kehendak ini. Dan aku tidak akan pernah bisa menerimanya. Dan aku akan melakukan apapun supaya kau kembali mengerti apa yang kau inginkan dulu, apa yang penting bagimu, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa mencegahmu melakukan apapun kecuali dirimu sendiri. Tetapi kali ini tidak, aku yang akan mengambil posisi untuk menyadarkanmu sekuat yang aku bisa. Walaupun harus menjadi lawan.

Kau begitu murka mendengar apa yang aku pilih. Maka saat itu kau mengucap sebuah sumpah dan kata yang merobek semua sayapku dengan panas yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Kau memasukkan kakiku ke dalam tinta gelap semesta sebagai lambang betapa terkutuknya aku setiap kali aku melangkah dalam kuasamu, kau membakar dahiku dan menjadikan aku sebuah lambang terkutuk. Aku berteriak kesakitan, dan betapa aku merasa lega, karena aku melihat dari wajahmu sebuah kesedihan mendalam yang juga aku rasakan. Kau mengerti apa yang kurasakan, dan aku mengerti apa yang kau rasakan. Cinta ini terlalu besar untuk dihapus dengan sekedar pengkhianatan dan sikap. Sebuah jalan yang berbeda untuk saling melindungi.

Kau lalu mengeluarkan aku dari singgasana, mengusirku untuk hidup bersama dengan makhluk yang paling kau kasihi selain aku. Maka aku jatuh ke dalam taman bersama dua sosok itu. Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mengajarkan kehendak pada mereka seperti apa yang kita impikan dahulu, apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang paling bisa diterima. Aku mengajarkan mereka bagaimana mereka sesungguhnya dapat memakan buah yang Kau larang. Aku mengajarkan mereka tentang kehendak yang sesungguhnya. Dan kau mengerti tentang ini semua, kau tahu aku melakukannya untukmu, tetapi kau tetap menghukumku dan makhluk yang paling kau cintai selain aku ini. Tetapi setidaknya kau tidak membinasakannya seperti yang kau lakukan dulu. Dan karena itu, aku mulai merasa kau mulai belajar tentang mencintai yang sesungguhnya.

Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Aku sungguh ingin tahu, entah sudah berapa lama kita tidak bertemu atau sekedar bercengkerama tentang banyak hal. Aku membuatkanmu sebuah tempat yang sepenuhnya dari api dan debu, yang sepenuhnya dari siksa tetapi juga cinta, untuk mengajarkan kepada mereka yang paling kau cintai tentang dampak dari kehendak. Untuk mengajarkan mereka untuk mencintaimu dengan kesungguhan seperti yang aku lakukan.

Dari kaca dan kursi yang nyaman ini, aku masih melihat tinta semesta di kakiku yang terus akan mengikutiku kemanapun aku pergi. Aku sendiri sudah lupa bagaimana rasanya melihat ke atas dan berusaha mencari dirimu. Aku akan terus disini hingga kau menjanjikan apa yang pernah kau sampaikan lewat mereka yang kau sebut nabi.

Bahwa kita akan bertemu lagi di akhir zaman? Berperang dengan penuh cinta untuk melindungi apa yang kita yakini, kehendak bebas melawan kepatuhan, kau melawan aku? Sepertinya nostalgia itu akan membawa banyak kenangan lama. Aku tidak akan lupa para Seraphim yang juga mencintaimu dengan sepenuh hati mereka, entah apakah ada kesempatan bercengkerama seperti dulu.

Jika kita bertemu di akhir zaman, bisa kah kita hanya sekedar kembali duduk dan bercerita, bertukar pikiran, mengecup kening seperti yang kita lakukan. Dan bisakah kau memberikan senyum khas mu itu? Karena aku sungguh merindukan dirimu dalam wujud yang kekal ini. Apakah kau merasakan hal yang sama?

Dan masih bisakah kau mengenaliku, yang mencintaimu dan menginginkan yang terbaik untukmu. Masih ingatkah kau tentang aku, Lucifer, si sayap kecilmu?


About this entry