Ketidaksempurnaan adalah Kesempurnaan

Dimulai dari sebuah tag note dari salah satu dosen saya yang memang cukup spiritualis. Beliau mengemukakan betapa melelahkannya berjuang untuk mencari kebahagiaan yang sempurna. Saya lalu mulai memikirkan hal ini, berusaha memahami bahwa si dosen bukanlah satu-satunya manusia yang mencari kesempurnaan di dalam hidup ini, begitu juga dengan semua manusia di seluruh dunia dengan segala keterbatasannya mencari apa yang bagi mereka adalah sebuah kesempurnaan yang bercela, dan mungkin saja tidak terkecuali hati saya.

Kesempurnaan sendiri berarti sebuah keadaan tanpa cela, tanpa cacat, berjalan begitu mulus, dan sebagainya. Tetapi terkadang persepsi tentang kesempurnaan sendiri menjadi sangat subjektif, tergantung orang yang melihat dan memikirkannya. Saya bisa saja melihat bahwa design bangun Taj Mahal di India adalah simbol kesempurnaan karena keindahan dan kemegahan yang ditawarkan olehnya, namun bagi beberapa orang yang lain – Taj Mahal hanyalah sebuah monumen kuburan, tidak lebih dan tidak melambangkan apapun. Begitu subjektifnya persepsi kita tentang kesempurnaan, kita terkadang melihat persepsi orang lain tentang kesempuraan – anehnya – adalah sebuah contoh ketidaksempurnaan bagi persepsi kita sendiri.

Saya sendiri sudah lelah mencari sebuah kesempurnaan yang selama ini dielu-elukan orang lain sebenarnya. Saya tidak ingin lagi punya rumah sempurna. Hidup sempurna, calon istri sempurna, keluarga sempurna, dan tingkat spiritualitas yang sempurna. Kenapa? Karena sesungguhnya tidak ada yang sempurna secara esensial di dunia ini.. Tidak esensial maksudnya adalah objektif, sesuatu yang kita semua – 6 miliar – manusia di Bumi serempak menyebutnya SEMPURNA. Bahkan termasuk Tuhan sendiri, yang dipersepsi berbeda tentang kesempurnaanNya.

Saya sendiri memikirkannya begini,

Jika kita mencerna dengan sebaik-baiknya, maka kita akan memahami bahwa di dunia dimana semuanya TIDAK SEMPURNA, maka ketidaksempurnaan itu adalah kesempurnaan itu sendiri. Sudah menangkap maksud saya? Bayangkan seperti ini. Dunia adalah sebuah kertas putih besar yang bersih dengan manusia-manusia di dalamnya. Ketidaksempurnaan mewakili warna putih dan Kesempurnaan mewakili warna hitam. Maka ketika kita melihat dunia dimana tidak ada yang sempurna sama sekali, kita mengerti bahwa semua warna putih manusia itu turut menciptakan sebuah kertas putih yang bersih – sebuah kesempurnaan yang sesungguhnya. Bayangkan jika ada sesuatu yang esensial yang SEMPURNA, maka ada sebuah titik hitam kecil di kertas besar yang bersih itu. Sempurna? Tidak.

Yang mau saya tekankan di sini adalah, jangan pernah berusaha menjadi orang yang kita PERSEPSIKAN sempurna. Jadilah diri sendiri, karena sesungguhnya di dalam dunia ini, ketidaksempurnaan kita adalah kesempurnaan itu sendiri. Mengapa harus mencari sesuatu yang sempurna di luar sana? Berkacalah,  tersenyumlah, yups..dia ada di sana.


About this entry