Menjadi Manusia yang “Memanusia”

Mendengar seorang motivator berbicara keras di depan publik adalah sesuatu yang menarik. Semua orang setuju akan itu. Siapa yang tidak senang ketika mendengar ada orang lain berbicara kepada Anda bahwa masalah yang Anda hadapi itu pasti bisa diselesaikan, bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, bahwa segala sesuatunya sesungguhnya indah, bahwa cinta itu bisa dikondisikan, dan bahwa kita adalah sesuatu yang berharga. Namun pada nyatanya, apa yang kita hadapi sebenarnya tidak sesederhana itu. Ucapan tinggal ucapan, kata tinggal kata.

Gue punya teman yang sifatnya tak jauh berbeda. Ucapannya selalu positif, dia selalu minta orang lain berpikiran positif, dan apa yang ingin ia sebarkan memang sesungguhnya baik adanya. Gua di masa lalu juga tidak jauh berbeda, gua selalu merasa bahwa orang lain hanya butuh suntikan semangat untuk menghadapi masa terberatnya. Tetapi sekali lagi dunia tidak seperti itu.

Ketika gua suatu saat bercerita , “gua sedih..gua butuh teman bicara..”, gua gak akan sungkan untuk mengucapkan segala macam kekesalan di hati dan meluapkan emosi yang ada. Sebagian besar orang yang melakukan hal ini sejatinya hanya butuh teman bicara. Gua gak butuh ucapan-ucapan positif seperti “Semuanya pasti berlalu..”, “Gak ada yang gak bisa diselesaikan”, atau “Positif aza..”. Mengapa? Karena pada dasarnya, siapapun yang mendengar ucapan gua enggak akan ngerti apa yang sebenarnya gua rasaiin. Sikap positif yang berusaha ditanamkan ke gua akan menjadi sesuatu yang sebenarnya sia-sia.

Ada saatnya manusia memang butuh untuk meluapkan segala macam energi negatif di dalam hati. Kita butuh keseimbangan, kita butuh menjadi manusia yang sebenarnya, yang kompleks. Untuk menjadi seimbang, tidak ada kesenangan tanpa kesedihan, tidak ada kebahagiaan tanpa kesengsaraan, dan tidak ada senyum tanpa tangis. Ketika Anda berusaha berpikiran positif di segala macam kondisi, termasuk di kondisi duka sekalipun, Anda berubah menjadi sebuah entitas yang tidak seimbang. Tidak seimbang adalah sesuatu yang tidak sehat.

Gue tentu tidak berusaha menggurui di sini. Namun yang pengen gua sampaiin adalah bahwa sudah saatnya kita semua berubah kembali menjadi manusia yang “memanusia”. Manusia yang menerima dengan lapang hati dan jiwa besar atas semua kompleksitas yang ia miliki. Manusia yang harus marah ketika kesal, menangis ketika sedih, menyendiri ketika harus meratap, atau tersenyum di saat bahagia. Semua hal itulah yang menjadikan  kita manusia, sisi kemanusiaan yang seharusnya kita perjuangkan.

Gue tidak mengatakan bahwa semua ucapan positif yang biasa Anda dengar dari para motivator adalah sesuatu yang salah dan menjijikkan. Sama sekali tidak. Hanya saja, ada baiknya setiap ucapan tersebut diterima, digunakan, dan dipraktekkan tanpa mengorbankan sisi manusiawi Anda. Memang selalu ada sisi positif yang dapat diambil dari kejadian paling negatif di dunia sekalipun, namun tidak berarti bahwa adalah sesuatu yang sehat untuk melihat hanya sisi positif yang ada tanpa melihat sisi negatifnya. Embrace the negativity!

Jadi, ketika Anda ngerasaiin semua emosi bercampur aduk di hati, ekspresikan dan keluarkan. Jangan dilawan dan ditahan dengan sesuatu yang berlawan. Anda mungkin menyebutnya sebagai sebuah SIKAP POSITIF. Saya memandangnya sebagai sebuah DENIAL.

Agree with me?


About this entry