Batu

Siapa yang mengira jika aku akan kembali menyusuri laut seperti ini? Menghirup bau garam yang sudah terbakar di otak, entah sejak kapan. Aku tahu dunia tak berbatas, aku tahu garis di ujung mata hanyalah sebuah putaran. Mengarunginya atau tidak? Aku hanya berharap ada sedikit keajaiban lagi atau mungkin keberuntungan. Terlalu banyak hal indah yang terjadi padaku, aku bahkan tak lagi berani untuk meminta lebih.. Jika aku harus berlari, maka aku mau laut menjadi lintasannya. Pikiran ini seperti tak mampu menggali alasannya.

Siapa yang mengira bahwa keajaiban adalah sesuatu yang sederhana? Mengarungi laut ditemani tautan hati adalah mimpi semua pejantan dunia.. Lihatlah dia di sana, berdiri mengagumi dunia yang mungkin aku lupakan. Memangku dagu di geladak kapal, seolah ini semua adalah pengalaman pertamanya. Bukan kau yang harusnya mencintai aku karena melakukan ini, karena pada awalnya kau yang menjadi sumber mengapa aku melakukannya. Kau yang berbagi cinta kepada aku yang bahkan tak mengenali diriku sendiri.

Perlahan namun pasti aku bergerak mendekatinya..

“Apa yang kau lakukan di sini?”, bisikku pelan, sembari menggenggam tangan nya yang keras menahan gempuran ombak..

“Oh sayang..”, dia tersenyum manis.. “Aku hanya berusaha menikmati laut, melihat betapa luasnya dunia yang ingin aku singgahi”, menyandarkan kepalanya manja di dadaku. “Sudah berapa kalipun kita berlayar, aku tetap masih tak bisa menyembunyikan rasa kagumku….dan sedikit rasa pusing yang ditimbulkannya..”, ia tertawa kecil.

“Ah..mungkin karena si kecil?”, tanyaku sembari mengelus perutnya yang sudah mulai tampak membesar.. Ia tersenyum manja kembali, seolah mengiyakan.. seolah menyatakan kesetujuan dalam bahasa yang begitu aku cintai. “Bagaimana jika kau kembali ke dalam? Berbaringlah, mungkin kau hanya kurang beristirhat. Kau butuh lebih banyak tidur dengan kondisi seperti ini”, ujarku mengingatkan. Wanita ini akan terlalu keras kepala untuk menurut, pikirku. Entah mengapa, tingkah laku dan kebiasaannya ini justru sering menghasilkan tawa kecil yang sulit dilukiskan.

“Biarkan aku berdiri dulu di sini..jangan khawatir..”, ia menatap dengan tatapan tegasnya. “Aku rasa ia perlu mencium lebih banyak bau garam, seperti ayahnya..”. Ia mengelus sang malaikat yang mungkin kegirangan di dalamnya. Tepat seperti dugaanku, istriku ini bukan wanita sembarangan yang akan tunduk pada permintaan kecil, bahkan dari suaminya sendiri. Aku hanya bisa tertawa dan mencium keningnya.

“Jadi?” pertanyaan tanpa arah yang ia lontarkan memang sering membuatku bingung luar biasa. “Apa?” tanyaku kembali. “Ada yang kau ingat?”, sebuah arah yang ditegaskan, dan aku tahu ini hendak menuju ke mana. “Tidak, sama sekali tidak.. ini hanyalah laut biasa. Daratan yang pernah kutuju juga hanyalah tanah dan manusia, tidak ada aku di sana..”, aku menunduk. Ia memeluk sisi bahuku dan berkata pelan, “Kau akan menemukannya..”. Aku mengangguk pelan dan mencium keningnya yang berpeluh karena panas matahari. Sapu tangan sutra yang ia sulam menyeka seluruh wajah nya yang memerah.

“Masuklah ke dalam jika kau lelah.. Aku hendak memeriksa para pekerja dan barang-barang, setidaknya aku hendak memastikan perjalanan ini tidak sia-sia..”.. Ia mengangguk dengan ciuman kening terakhirku. Ia tahu bahwa aku hanya mencemaskan kondisinya, itu saja.

Aku berjalan pelan ke arah pekerja yang sedang sibuk memeriksa layar dan memastikan bungkus-bungkus besar ini tak jatuh ke dalam laut yang ganas. Walaupun berpeluh dan lelah, mereka tetap bercanda dan tertawa. Senandung kecil terdengar di tepi-tepi kapal, seolah mengajak gelombang dan angin untuk menari searah. Karang-karang dan ikan yang berenang menemani laju kapal berbincang pelan dengan laut, menemai kapal berlayar. Semilir angin membawa ku terserap pada pusaran masa lalu..

Aku selalu melihat bahwa yang terjadi denganku tak bedanya dengan sebuah keajaiban yang sulit dijelaskan. Bagaimana tidak? Istri yang sempurna hendak melahirkan bayi yang sempurna, pekerja yang patuh dan bahagia, barang dagangan yang berkualitas, kapal milikku yang berjalan terarah, dan aku yang memilikinya semua. Jika aku menilik kembali hidupku, semua ini hampir seolah mustahil terjadi.

Apa yang kau harapkan dari seorang pria yang bahkan tidak ingat akan namanya sendiri? Yang bahkan tak tahu dari mana dirinya berasal? Yang bahkan tak tahu arah laut sebuah rumah? Yang bahkan lupa wajah wanita yang menyerahkan putingnya untuk disusui ketika bayi? Yang bahkan tak tahu seperti apa bau tanah kelahirannya?

Jangan bertanya mengapa, karena aku sendiri tak pernah tahu pasti jawabannya. Aku hanya tahu bahwa Allah menginginkan ini terjadi dan bahwa akulah yang harus menjalaninya. Ikhlas adalah satu-satunya ilmu yang bisa kupelajari. Di awal sinar matahari pagi, aku hanya ingat bagaimana aku membuka mata dengan tubuh yang penuh luka, perban dan tumbuh-tumbuhan disematkan di sekujurnya. Dalam kesadaran yang masih begitu lemah, yang kuingat hanyalah wajah wanita yang menjadi istriku saat ini. Ia hanya berkata pelan, “Istirahatlah”, dan aku kembali tertidur lama.

Perlahan tubuhku mulai membaik. Sang saudagar kaya dari pulau dengan pantai indah ini sepertinya menemukan tubuhku mengapung di laut. Ia membawaku ke pulau dan merawatku hingga sembuh. Sesuatu yang buruk sepertinya terjadi karena ia menceritakan bahwa hanya akulah yang selamat dari ratusan mayat yang mulai dimakan ikan. Bahwa hanya akulah yang masih berjuang mempertahankan nafas ketika yang lainnya sudah menyerah menghadapi ganasnya lautan. Bahwa hanya akulah yang masih punya kehidupan.

Berita seperti ini tentu saja menguras tenaga, entah percaya entah tidak, karena aku seperti tak mampu mengingat apapun tentangnya. Yang terekam di otak hanyalah pusaran-pusaran air yang menggulung diri, membuatku tak bisa melihat permukaan untuk waktu yang begitu lama. Menelan begitu banyak air, kematian tampak menjadi sesuatu yang pasti. Tetapi yang terjadi, aku sekarang masih berdiri di sini seperti sebuah keajaiban.

Kehidupan selanjutnya berjalan dengan begitu sempurna. Ketika kesehatanku kembali, aku memutuskan untuk mengabdikan diri pada sang saudagar kaya, bekerja keras siang dan malam untuk membalas budi. Aku bahkan tak memikirkan bayaran, karena nyawa jauh lebih bernilai dan mahal daripada sekedar uang untuk membeli sebungkus nasi. Sang saudagar mengizinkan aku untuk tinggal di rumahnya sebagai ganti. Tanpa terasa, aku sudah hidup bertahun-tahun bersama mereka, dan tidak ada satupun ingatan tentang masa lalu kembali. Aku seolah hanya hidup untuk sekarang dan masa depan.

Ketekunan ini ternyata membuahkan hasil yang lebih baik yang diharapkan. Tanggung jawab yang lebih besar diberikan kepadaku. Mulai menjadi mandor pelabuhan, mengawasi pergerakan barang dagangan, sampai memimpin ekspedisi kapal untuk mencari pasar jualan. Tanggung jawab terbesar datang dari suatu malam, ketika sang saudagar yang sakit mulai merasa bahwa waktunya di dunia tak akan lebih lama dari matahari pagi. Berbisik pelan di depan para penunggu, ia menyerahkan semua kekayaannya padaku, memintaku untuk mengatur semua hal yang ia miliki. Ia juga memintaku untuk merawat dengan baik anak perempuannya, yang kini resmi menjadi istriku. Sebuah keajaiban lain dalam hidup.

Aku menyatakan mampu, dan sejak itu pula semuanya berubah. Aku berubah dari pria tanpa apa-apa menjadi pria yang memiliki semuanya……kecuali masa lalu.

Pekerjaan menjadi saudagar berarti memintaku untuk lebih banyak mengarungi lautan dan bergerak ke pulau-pulau yang bahkan selama ini belum pernah aku singgahi. Lebih dari tiga tahun aku melakukan semuanya. Istriku mulai mengandung anak pertama dan tidak lagi ingin ditinggal selama aku menyelusuri laut dan pulau. Maka seperti hari ini, ia bersikeras untuk ikut. Seperti biasa, ia sulit untuk dicegah..

Lamunanku tiba-tiba terhenti karena teriakan salah satu pekerja yang kegirangan, “Pulau!! Pulau!!Pulau!!”, kabarnya. Aku berusaha menutupi sinar matahari yang kini mulai beranjak petang namun dengan kilau silau yang masih menyakiti mata. Tampak di ujung pandang, sebuah pulau kecil dengan beberapa kapal nelayan yang hendak bersiap pulang. Aku tersenyum lega. “Ayo kita singgahi, mungkin kita bisa berdagang”, perintahku. Awak kapal yang lain menggangguk pelan dan mulai menurunkan layar. Mencium tanah juga, pikirku.

Namun ada yang berbeda dengan pulau ini. Tidak seperti pulau-pulau yang pernah aku singgahi, ada perasaan yang cukup unik ketika ia memasukinya. Seperti aku sudah pernah melihatnya, merasakan asin garamnya, dan halusnya pasir putih yang ada di pantai panjang ini. Orang-orang yang ia temui menyambutku seperti pahlawan, seolah menemukan saudara yang lama hilang dari perantauan.

Aku sama sekali tidak mengerti.

Orang-orang mulai berdiri di pesisir pantai,berteriak-teriak bahkan sebelum kapalku berlabuh di dermaga. Sebagian besar dari mereka tersenyum gembira dan berlarian, membuatku semakin bertanya-tanya. Gerangan apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ada dari awakku yang berasal dari pulau ini? Atau jangan-jangan kerabat istriku tercinta punya nama besar di sini? Tak ada salahnya untuk mendekat dan bertanya.

Mengenakan pakaian terbaik yang aku miliki, aku memperkenalkan diriku sebagai saudagar begitu turun dari kapal. Sambutan orang-orang di sekitar terlalu hangat untuk seseorang yang belum pernah mereka kenal. “Selamat kembali, Malin”, salah satu darinya mulai berucap. “Ibu mu sudah lama menunggu. Ia kini begitu renta..”, beberapa di antaranya menimpali. Aku hanya terdiam di sana, berusaha mencerna, namun tak mampu menemukan penjelasan yang lebih masuk akal. Apa maksud mereka?

Kata-kata awal yang terucap dari mulut hanyalah satu, mereka tidak mengenalku. Aku adalah aku, dan aku bukanlah orang yang mereka kenal. “Aku bukan Malin seperti yang kalian sebut, aku datang dari pulau seberang”. Aku berusaha meyakinkan mereka. Namun beberapa di antara mereka justru semakin mendekatkan diri dan memeluk. Tepukan punggung mereka seolah mengisyarakatkan kebahagiaan yang tiada tara untuk bertemu kembali. Aku mendorong mereka jauh-jauh. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh orang-orang ini?

Aku bergerak mundur, terkejut. Apakah orang-orang miskin ini datang dari bangsa para perompak? Tipu muslihat apa yang ingin mereka kerjakan? Yang terbayang di otak kini hanyalah keselamatan istri dan anakku semata wayang. Para awak kapal juga tampak mulai bersiaga untuk kemungkinan terburuk. Pulau ini semakin menggeliat aneh. Ada apa dengan orang-orang ini??!

Dari jarak pandangku yang masih tajam, mata ku menangkap seorang wanita tua berbaju lusuh yang berjalan pelan dari arah dalam pantai. Menerobos penduduk yang masih berdiri mematung, beberapa di antaranya langsung memberi jalan. Wanita tua ini seketika mengeluarkan air mata ketika berhadap-hadapan denganku, memunculkan wajah rindu yang dirias kesedihan. Aku semakin heran, “Siapa lagi wanita ini?” tanyaku pada penduduk yang lain.

Tidak ada yang berani menjawab. Wanita tua berbaju lusuh ini hanya mendekat sembari berusaha memeluk diriku. Dari bibirnya yang mulai lemah, ia berbisik kalimat yang masih belum kupahami “Akhirnya kau kembali, Malin Kundang”. 

 


About this entry