Aku dan Kau, satu Jiwa?

Aku lupa cara mencumbu mu

seperti kau lupa cara menyapaku

Aku ingat pedang yang kuhunuskan ke jantungmu

seperti kau memotong urat nadi ku

Aku merasa jala ini terlalu tipis untuk mengikat nyata

tetapi kau mengangguk pada wajah-wajah mimpi

Aku terjatuh pada gempita dunia

saat kau mulai menggampar pelita-pelita rasa

Aku menjahit lubang hampa jiwa

dan kau memakunya pada papan hawa nafsu

Aku gembira ketika kau berkata “Aku hendak menghilang sementara”

Kau sedih ketika aku berkata, “Pergilah, Aku menunggumu..”

Tawa ku mulai menjadi air matamu

Senyummu tak ubahnya arsenik bagi tubuh

Kita dua

Kau bilang satu

Pertanyaan ku akan mengapa

tak pernah berbuntut jawaban dari mulut manismu

Senja yang berangsung menghilang, bulan yang tertarik ke angkasa

Sekali lagi membuat kita terpisah

Wafatkah semua benang yang terpintal dari semua pertemuan?

Ah..tidak katamu, aku akan kembali esok saat fajar mulai berbisik

Aku katakan rindu

Kau bicarakan tentang keharusan

Kaki ini mulai berjinjit pada ketidakpastian

Tangan-tangan kecilmu menuntun pada yang tidak pernah tidak pasti

Lantas apakah kita satu?

Kita dua, kau satu.

Aku jelaga dan kau wadah

Aku dunia dan kau angkasa

Aku gubuk dan kau istanan

Aku pasir dan kau teratai indah

Aku kaktus dan kau rawa-rawa nyawa

Aku rajawali dan kau pemanah

Lantas apakah kita satu?

Kita satu, dan kau dua.

 


About this entry