Ketika Aku Melihatmu Rapuh..

Mengapa engkau duduk di tengah lautan, oh penuntun hati yang nestapa?

Ada dengan remah-remah tubuhmu yang mulai jatuh? Ikan-ikan berdansa dan menelannya..

Ada apa dengan air matamu yang mulai mengkristal, tak hendak jatuh ke tanah, tak juga hendak mengalir..

Ada apa dengan nafasmu yang terbata, tanpa kata, tapi menyiratkan begitu banyak duka..

Apakah aku punya hak untuk bertanya?

Haruskah kukayuh rakit untuk mencapaimu? Sekedar memeluk dan terdiam, menahun, dan mati?

Atau aku haruskah ku gerakkan jemari, berusaha menarik angin, meminta mereka membawa mu ke sini? Mencium keningmu hingga Tuhan tertidur?

Atau aku mulai menumbuhkan insang, dan kita menari di dalam karang-karang hampa atau di antara mutiara-mutiara yang pecah?

Oh, cinta, apa yang harus kulakukan?

Apa yang harus kulakukan jika aku mulai melihatmu rapuh?

Apa yang harus kulakukan untuk memastikan hatimu tak berserakan di atas tanah?

Apa yang harus kulakukan untuk merekatnya kembali? Menjahit, menyulam, dan menyimpannya kembali dalam nafas hidupmu?

Atau aku hanya perlu diam di sini?

Menatapmu dan kau akan mengerti?

Menangisimu dan kau akan bahagia?

Oh cinta, apa yang harus aku lakukan jika engkau begitu rapuh?

Laut-laut ganas yang hendak menelan mulai bergerak menjadi relung jurang, seolah hendak memisahkan nyawa ku dengan tubuhmu..

Bagaimana jika aku membuatkan mu satu istana pasir? Dimana aku belajar melapukkan diri, meretakkan hidupku dan menghancurkan nyawaku?

Lalu kita hidup bahagia bersama di bawah atap yang setiap saat tersapu ombak..

Pelan namun pasti, pasti namun mati.

Kemarilah sayang, seberangi lautan, tatap aku yang sedang terdiam..

Ketika aku melihatmu rapuh..

Aku tahu..

Kita akan rapuh bersama..


About this entry