Teman Sejati yang Mulai Lelah Menemani

Secangkir kopi instan menjadi aroma yang tepat untuk memetik sedikit kesadaran di pagi hari. Mata yang sempat lelah seolah hidup begitu saja, seperti lampu yang menyala karena sentuhan saklar yang halus. Berdiri, bernapas, sedikit langkah kaki sudah cukup membawa diri yang masih tak mau kembali dari mimpi, ke meja kerja. Untuk sebuah hari yang berbeda dan aktivitas yang sama, teman setia di depan meja ini masih menjadi yang paling setia menemani. Satu rutinitas pagi yang tak terlewat, menatap kosong pada layar yang kini mulai berkedip dengan jari malas yang bersandar pada setiap huruf di depan. Mencari inspirasi bersama, menyamakan irama.

Memang tidak terasa, sudah 3 tahun lamanya laptop HP Compaq ini menemani. Seperti sebuah kisah fantasi heroik, dimana pedang memilih rajanya, tongkat sihir memilih penyihirnya, dan kuda terhebat memilih penunggannya, laptop ini tak berbeda. Keuangan yang di kala itu terbatas membuat otak ini harus berputar lebih keras, memilih alternatif terbaik dari yang ada, dan tentu saja yang paling terjangkau. Setelah berpetualang menyusuri setiap sudut Mall, HP Compaq ini seolah membuat sudut pandang mata terperangkap. Kesan pertama yang ia hadirkan saja sudah cukup untuk menarik hati dan menyakinkan diri. Maka, ia pun menjadi laptop pertama yang aku miliki, tak ubahnya seperti sebuah mesin jahit untuk merajut mimpi.

Apa saja yang sudah kami capai bersama? Begitu banyak. Ia menjadi teman yang paling reliable, ketika malam dan pagi dihabiskan untuk merangkai kata di tugas akhir pendidikan tinggi. Ia menjadi teman yang menyemangati ketika hasrat untuk menulis sebuah buku mulai diwujudkan, hingga sebuah e-book berisi cerpen lahir dan tersebar. Ia bahkan menjadi teman yang paling dapat diandalkan, ketika kesempatan untuk mengambil pekerjaan yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis hadir. Dan ketika semua tersebut sudah tercapai? Ia masih di sini, tetap menemani. Bahkan, ketika post blog ini ditulis. Namun sayangnya, seiring dengan umurnya yang kian bertambah, ketika semangatku masih membara, ia mulai memperlihatkan kelelahan.

Ada apa teman? Apakah kau sudah mulai lelah menemani? Setelah begitu banyak hal yang dilalui bersama, dari semua mimpi yang berhasil diwujudkan berdua, dari semua hasil baik yang lahir darinya, apakah ini memang sudah saatnya? Membiarkan dirimu beristirahat dan selamanya menjadi bagian dari sebuah sejarah, bagian dari kisah perjuangan mencari sebuah masa depan? Kedipan di layar yang semakin melebar seolah menjadi anggukan atas semua pertanyaan. Jika mengistirahatkanmu menjadi upah terbaik yang bisa kuberikan sebagai sebuah apresiasi, maka sudah seharusnya dilakukan.

Namun kau seolah juga tak mau menyerah dan mati begitu saja. Gerakan-gerakan jari di keyboard membuat kata-kata ini tertulis, cepat, kuat, dan kau tetap menyambutnya dengan lembut. Maka sekali lagi, kita berjuang bersama untuk mewujudkan mimpi dalam sebuah sayembara. Sayembara yang akan memungkinkanmu untuk beristirahat dengan tenang. Karena aku tahu dengan pasti, bahwa kau mulai lelah menemani. Mari bertarung untuk terakhir kalinya, teman sejati!


About this entry