Cinta Tak Selalu Berarti Kebahagiaan

Cinta memang seperti madu manis yang dituang Tuhan ke tanah-tanah manusia, manis, menyegarkan, tetapi di sisi yang lain, membuat semua lendir di dalam tubuh pekat dan padat. Bagi sebagian besar orang, termasuk mereka yang gua kenal dan sayang, mencari dan meraih cinta perlahan namun pasti, berubah menjadi sebuah tujuan hidup yang berusaha dikejar, selelah apapun. Seperti prajurit yang selamat dari medan perang, gua bahkan mampu mengenali setiap luka tertoreh yang tidak tersembuhkan di setiap sudut hati mereka. Tetapi bukannya mengingat dan mengenali semua luka ini, seperti seseorang yang kecanduan adrenalin dan sensasinya, mereka tetap berusaha mencari lebih banyak cinta, mencari apa yang mereka harapkan sebagai yang terakhir. Gua memandang dari jauh, melihat, merasakan, tersenyum, sedih, tertawa, dan meringis dari setiap keputusan yang mereka ambil. Terkadang ada keinginan untuk mendekap dan berbisik pelan di telinga, “Oh sayang..tahukah kamu bahwa Cinta tidak selalu berarti kebahagiaan?”

Cinta memang tidak selalu berarti kebahagiaan. Banyak orang yang gugur tanpa nama ketika berusaha mengejar kemenangan menakhlukkannya, Beberapa berakhir dengan air mata, tidak sedikit yang akhirnya harus membalut luka di hati mereka sendiri. Meyakinkan diri sendiri bahwa cinta tidak selalu berarti kebahagiaan mungkin terdengar sebagai sesuatu yang pesimis, pasif, dan skeptis, namun ia akan menjadi perisai yang paling terdepan untuk melindungi banyak hati dari lebih banyak hantaman dan pukulan. Sekuat apapun hati seseorang, pada akhirnya ia juga akan hancur berantakan ketika disayat dan dihantam berulang-ulang.  Terkadang, air mata yang terlepas mendinginkan rasa tidaklah cukup untuk membuat kepala berdiri tegak kembali dan tersenyum melihat dunia. Adalah sesuatu yang terlalu naif, jika harus melihat cinta sebagai sesuatu yang agung, suci, dan tidak tergantikan. Jika Anda termasuk yang merasakan hal ini, bersyukurlah, dan lindungi siapapun yang mampu memberikan perasaan seperti ini. Karena dari kacamata gua sendiri? Gua lebih banyak terduduk dan berusaha mengusap air mata dari yang tersakiti karenanya. Cinta memang tak selalu berarti kebahagiaan. Ada kalanya, ia justru menjadi racun yang melumpuhkan raga dan mematikan nyawa.

Lantas apa yang harus dilakukan? Belajar menerima cinta sebagai sebuah mobil liar yang bergerak tanpa kendali adalah langkah awal yang paling mumpuni. Tidak ada yang dapat memprediksikan ke arah mana ia akan berjalan,  secepat apa ia akan berlari, dan dimana ia akan berakhir. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menikmati setiap sensasi dan ketegangan, tersenyum, dan mulai melihat dunia sebagai sebuah bola liar yang memantul kesana-kemari. Cinta tidak selalu tentang “harus bersama”, tentang “ciuman pertama”, tentang “berpegangan tangan menyusuri jalan”, karena terkadang ia hadir sebagai orang asing di ujung jalan yang melihat dalam diam dan bersiap untuk mengorbankan nyawa untuk memastikan orang yang dianggapnya penting tidak dihancurkan begitu saja oleh dunia. Terkadang ia muncul sebagai kata-kata, senyum, dan air mata. Terkadang ia bahkan tidak mampu menunjukkan diri, terselubung dalam selimut kesendirian, dan palu-palu ketakutan. Ada begitu banyak bentuk cinta, namun satu yang pasti, ia tidak selalu berarti kebahagiaan. Namun, bukankah melihat orang yang Anda sayangi tersenyum sudah lebih cukup? Banyak yang mengatakan konsep ini omong kosong, termasuk gua sendiri. Namun perlahan tapi pasti, gua mulai mengerti.

Cinta memang tidak selalu berarti kebahagiaan, tetapi perlu diingat juga,🙂 , bahwa Cinta juga TIDAK tidak selalu berarti kebahagiaan.

 


About this entry