Tahukah Kamu, Bahwa Aku Berbicara Pada Batu?

Tahukah kamu, bahwa aku berbicara pada batu?

Setiap kali lidah kelu ini mulai mencicipi rasa rindu

Jaring kebekuan membungkus otak

Jarum kekakuan menekan kuat dalam sendi otot, merenggang, lalu membusuk

Bermandikan mimpi, kata-kata terbungkus rapi di langit-langit mulut

Bahkan satu kalimat kecil dalam kertas koyak

Terlontar, tenggelam, lalu terhirup kembali

Ada anggukan senyum kecilmu di setiap titik

Semu

Tahukah kamu, bahwa batu begitu mengerti?

Bahwa ia akan menangis kala aku menunduk dan membenci garis hitam di tanah, atau sekedar semut-semut yang tak pernah mau berbicara, atau langit yang tak mau jatuh, atau awan dengan satu titik hujan, atau ketika aku kembali merindukan dirimu..

Bahwa ia akan tertawa kala aku menegak wangimu dalam rasa, atau sekedar terbaring dan tertawa bersama diriku yang hina, atau sekedar sinar matahari yang memenuhi janjinya untuk bersinar keesokan pagi, atau  ketika aku kembali merindukan dirimu..

Bahwa ia akan marah kala mata kantukku tak lagi cukup lelah untuk tidur, ketika kau bahkan tak ingin lagi mengerti, atau karena lumut yang tak mau tumbuh di sisi lain batu yang lebih indah, atau ketika aku kembali merindukan dirimu..

Ketika aku tersenyum, batu ini akan tertawa

Ketika aku meringis, batu ini akan menangis

Ketika aku mulai merasa, batu ini tak berbeda

Ketika aku mulai lemah, batu ini akan mati pertama

Tahukah kamu, bahwa aku kini berbicara pada para batu?

Sunyi

Seperti dirimu


About this entry