Mengapa Diajarkan “Bertoleransi”?

Image

Ini jadi pertanyaan yang menghantui benak gua selama beberapa bulan terakhir, terutama tiap kali gua lihat ada konflik horizontal antar dua kubu hanya karena masalah “sepele” semacam agama atau ras. Gua pernah baca di koran, dan gua lupa pendapatnya siapa, yang menyoroti kalau Indonesia itu sebenarnya masih setengah-setengah nerapin Bhinneka Tunggal Ika sejak muda, dan itu tercermin lewat pelajaran-pelajaran sekolah yang ada. Salah satu lubang terbesarnya? Mau enggak mau harus diakui – TOLERANSI.

Apa itu Toleransi? Kamus Bahasa Indonesia sih mengartikannya sebagai sikap Toleran. Sementara Toleran sendiri berarti “[a] bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yg berbeda atau bertentangan dng pendirian sendiri”. Ini jadi salah satu jargon yang udah pasti sering kita dengar, bahkan dari masa pendidikan kita di sekolah dasar dulu.

Toleransi dianggap sebagai kunci jawaban untuk mengatasi masalah perbedaan di Indonesia, yang memang terdiri dari begitu banyak suku, ras, agama, hingga kepentingan. Jadi untuk memastikan tidak ada konflik yang terjadi, kita DIMINTA untuk TIDAK IKUT CAMPUR dalam berbagai pendirian yang berbeda dengan apa yang kita percaya. Sebuah konsep yang terlihat luar biasa, namun pelan-pelan mematikan.

TIDAK IKUT CAMPUR adalah cermin acuh tidak acuh bukan? Perasaan bahwa kita ini, mayoritas maupun minoritas, harus berdiri dan bergerak sendiri-sendiri, sesuai dengan agenda masing-masing yang kita miliki. Yang harus kita lakukan sebagai warga negara hanyalah memastikan diri untuk tidak melibatkan diri atau terlibat dalam kegiatan orang lain, terutama yang berhubungan dengan agama, suku, ras, dan kepentingan. Sementara Indonesia dibangun dengan satu dasar yang sama – bahwa kelompok yang berbeda-beda ini seharusnya BERSATU untuk membangun pondasi negara yang lebih kuat. Tujuan yang ingin dicapai ini runtuh bersama dengan konsep TOLERANSI yang individualistis, sebenarnya.

Alangkah sangat indahnya kalau sejak kecil, dari semenjak kita mengenyam pendidikan pertama, kita tidak pernah bertemu dengan kata yang satu ini. Sebagai gantinya? Kita diajarkan sebuah konsep persatuan dan kesatuan yang lebih konkrit, yang jika diterapkan, akan jauh lebih efektif daripada sekedar “MEMBIARKAN”. Ada kata-kata super indah seperti “Saling Menyayangi, “Saling Melindungi”, “Saling Menghormati”. Bayangkan betapa kuatnya negara ini jika sejak kecil, ketika otak anak masih seperti kertas kosong yang bisa ditulis, pelajaran cinta kasih seperti ini yang diajarkan di pendidikan kewarganegaraan, PMP, PPKn, atau apapun lah namanya sekarang. Bayangkan apa yang terjadi jika kata TOLERANSI tidak pernah ada dan digantikan dengan kata-kata ini.

Budi beragama Islam, sementara Andi beragama Kristen. Keduanya saling menyayangi satu sama lain.

Sitompul adalah orang Batak, sementara Ching Ching adalah orang Tionghua. Keduanya saling melindungi,

Jaka adalah orang Syiah, sementara Joko adalah orang Sunni. Keduanya saling menghargai.

Tidak ada toleransi, tidak ada perasaan bahwa negara dapat berjalan damai dengan hanya MEMBIARKAN. Keterlibatan dimulai sejak kecil, bahwa sebagai manusia yang bernanung di bawah bendera Indonesia, kita harus terlibat untuk melindungi dan menyayangi warga negara lain, apapun ras, agama, suku, ataupun golongan yang ia kenakan. Karena pada akhirnya, membiarkan adalah bibit masalah, sumber api di ujung sumbu peledak yang bisa meruntuhkan pondasi bernegara dengan mudah. Jadi daripada belajar membiarkan, kenapa anak-anak tidak mulai diajarkan untuk terlibat aktif dan mulai mengucapkan kata “saling menyayangi” dan “saling melindungi”?

Atau jangan-jangan, justru para pemangku jabatan dan pengambil kebijakan negara ini yang sebenarnya belum siap? Belum siap bahwa orang-orang yang berbeda SARA itu sebenarnya diperkenankan untuk “saling menyayangi” dan “saling melindungi”? Terperangkap dalam pola pikir masa lalu yang sebenarnya tidak lagi cocok untuk dipaksakan di masa modern? Oleh karena itu, MEMBIARKAN dianggap sebagai jalan tengah terbaik?


About this entry