Memahami Bunuh Diri

hang

Seperti halnya hidup itu pilihan, memilih mati juga sebenarnya menjadi opsi yang bisa ditempuh siapa aja. Setidaknya itulah yang gua percaya sekarang.

Gue mungkin belum pernah lihat orang mati secara langsung di mata gue dan syukurnya, gak pernah juga ngerasaiin atau ngelihat temen atau keluarga yang deket sama gue harus ngelewatin hal yang sama. Tapi bukan berarti gua gak pernah ngedenger atau berhadapan tidak langsung dengan kasus seperti ini. Salah satu temen yang cukup sering ngobrol waktu kelas 1 SMA memutuskan gantung diri setelah katanya, dililit utang bola yang gak bisa dia bayar. Ketidaktenangan lah yang akhirnya membuat dia memutuskan untuk memilih tali.

Tahu reaksi temen-temen gua yang katanya “beragama” itu? Di media sosial, di depan mayatnya yang bahkan belum dingin kaku, segala macam dalil-dalil agama meluncur begitu aja. Reaksi pertama gua: muak. Reaksi kedua gua? Mau muntah. Reaksi ketiga gua? Sedih. “Cuman orang goblok yang bunuh diri..”, “Ah..kayak gak punya hari esok aja..”, “Gua yakin arwahnya pasti enggak masuk surga..”, “Kurang iman…”, itu cuman segelintir kalimat yang gua baca sebagai reaksi. Yang berusaha memahami? Sama sekali enggak ada. Pernah kebayang gak sih lu, ketika lu ngerasa bunuh diri adalah jalan satu-satunya untuk mencapai ketenangan dan kenyamanan, dan bahkan di dalam kematian, enggak ada satupun orang yang bisa ngerti apa yang lu rasakan? Menyedihkan.

Agama benar-benar membutakan empati. Bukannya ngebela orang yang bunuh diri, tapi absennya agama dari diri gua membuat gua membangun sudut pandang yang setidaknya lebih terbuka terkait masalah yang satu ini. Buat semua orang yang selalu berkoar-koar bahwa bunuh diri adalah bentuk dari kelemahan, gua selalu mau ngelemparin satu pertanyaan yang sama, “Kalau elu berada di posisi dia, yakin lu enggak bakal bunuh diri?”. Ini pertanyaan yang udah pasti dijawab dengan satu jawaban standar, “Enggak lah..gua kan punya Tuhan.. Tuhan pasti bantu gue..”.. Cih..yakin amat..

Now..now, here’s the problem. Ketidakmampuan untuk berempati dan merasa kalau Tuhan adalah jawaban dari segala masalah membuat banyak orang tidak mau menempatkan diri di sudut pandang dan kaki mereka yang bunuh diri. Menurut lu mereka akan bunuh diri jika mereka memang ketemu jalan keluar yang bisa ditempuh? Menurut lu mereka akan bunuh diri kalau mereka memang punya teman yang bisa benar-benar diajak berbicara? Menurut lu mereka akan bunuh diri kalau mereka yakin hidup mereka bisa bahagia? Karena kita tidak tahu apa yang mereka rasakan dan lewati, maka dengan mudah kita menghakimi. Mereka yang depresi dan memilih kematian sebagai jalan keluar seharusnya berhak mendapatkan satu ending bahagia: membuat mereka yang dipengaruhi oleh kematiannya MENGERTI mengapa ia merasa ia harus mati. Hal yang seringkali dilupakan oleh begitu banyak orang. “Tapi kan itu sama saja ngebuang potensi hidup lu yang gede, siapa tahu lu bahagia di akhir nanti?”. For some people, happiness doesn’t exist. Sejauh apapun mereka melangkah dan berusaha, kebahagiaan tidak akan selalu datang. Penderitaan seperti apa lagi yang harus mereka tempuh untuk mendapatkan sekedar harapan untuk bahagia, dan bukan kepastian untuk kebahagiaan? Berapa banyak lagi rasa sakit dan beban yang harus mereka pikul? Ada kepastian untuk itu? Untuk apa bertahan untuk sesuatu yang membuat lu gak nyaman?

Mereka dikurung oleh depresi, sesuatu yang mungkin tidak bisa dimengerti oleh sebagian besar dari kita. Ada satu quote menarik yang gua baca dari Reddit untuk membantu kita mendapatkan sedikit gambaran soal perasaan dan situasi yang akhirnya mendorong orang untuk bunuh diri.

““The so-called ‘psychotically depressed’ person who tries to kill herself doesn’t do so out of quote ‘hopelessness’ or any abstract conviction that life’s assets and debits do not square. And surely not because death seems suddenly appealing. The person in whom Its invisible agony reaches a certain unendurable level will kill herself the same way a trapped person will eventually jump from the window of a burning high-rise. Make no mistake about people who leap from burning windows. Their terror of falling from a great height is still just as great as it would be for you or me standing speculatively at the same window just checking out the view; i.e. the fear of falling remains a constant. The variable here is the other terror, the fire’s flames: when the flames get close enough, falling to death becomes the slightly less terrible of two terrors. It’s not desiring the fall; it’s terror of the flames. And yet nobody down on the sidewalk, looking up and yelling ‘Don’t!’ and ‘Hang on!’, can understand the jump. Not really. You’d have to have personally been trapped and felt flames to really understand a terror way beyond falling.”

David Foster Wallace

Mengapa orang akhirnya memilih kematian? Bukan karena tertarik untuk mati, dan bukan juga karena mereka kehilangan harapan untuk terus hidup. Ketidakmampuan untuk menahan lagi penderitaan yang mereka rasakan saat inilah yang akhirnya menarik mereka ke alternatif lain yang lebih tidak menyiksa. Seperti seorang yang terjebak kobaran api di lantai 30 sebuah gedung perkantoran. Tidak bisa bergerak naik dan tidak bisa pula turun, tanpa bantuan, dan kematian yang tidak lagi terhindarkan. Mengapa banyak orang yang lebih memilih melompat dari jendela dan mati jatuh daripada bertahan dan ditelan api? Karena pada akhirnya, pilihan untuk jatuh dan mati tidak akan menghasilkan penderitaan yang sama sakitnya dengan menunggu panas, melihat tubuh kita sendiri terbakar, kulit demi kulit, daging, panas, dan akhirnya tak mampu lagi bergerak. Mereka yang bunuh diri mengerti betapa menyeramkannya mati, namun tidak akans seseram bertahan hidup. The point? Wallace menegaskan bahwa kita tidak akan pernah bisa mengerti sampai kita sendiri terperangkap antara api dan ketinggian ini.

Apakah Tuhan akan mengirimkan hujan? Apakah menunggu 5 menit ekstra dengan resiko dimakan api yang besar pada akhirnya akan berujung pada datangnya helikopter penyelamat? Tidak ada yang bisa memastikan itu. Pilihan paling rasional dan berkonsekuensi langsung saat itu hanya dua: menelan api atau lompat. Dan mati karena api kan jauh jauh lebih menyakitkan.

Jadi, seberapa beragama dan ber-Tuhannya kamu, dengan penuh kerendahan hati dan permintaan setulus-tulusnya, tolong jangan keluarkan jargon “Tuhan”-mu di depan mereka yang memilih untuk mencari jalan keluarnya sendiri. Jangan pula memaksakan kata-kata motivasi dari orang suci-mu sebagai justifikasi untuk melakukan hal ini. Mengapa? Karena ketika kamu diposisikan dalam sepatu yang sama, dengan masalah yang sama, dengan cara pikir yang sama, dengan kondisi sosial yang sama, dengan kehampaan yang sama, mungkin kamu akan melontarkan “Ah…aku akhirnya mengerti apa yang ia rasakan” sembari melihat tubuhmu sendiri tergantung di kamar mandi.


About this entry